Mother

Mother
198 Dicubit


**FLASHBACK ON


Beberapa waktu sebelum Rei dan Marva menikah**


Mereka keluar dari ruangan Marva, tanpa ada yang menyadari kalau Arby, Ikmal, Marcell dan Mico masih di dalam.


"Jagain pintu!"


"Mar, sebelum terlambat, kamu pikir lagi baik-baik. Kamu yakin akan memaksa Rei menikah denganmu?"


"Ya, kalau memang harus dengan cara ini, maka akan aku lakukan. Kenapa kamu yang cemas, Ar? Ini kan ide kamu!"


"Ck, aku bukannya cemas karena takut ketahuan. Apa kamu tidak kasihan pada Rei dan Vio? Kamu lihat sendiri kan, Rei tadi tidak mau menikah dengan kamu. Sedangkan Vio sudah merelakan kamu. Lebih baik kamu bersama Vio saja, yang sudah jelas sangat mencintai kamu."


"Apa kamu bisa melepaskan Freya? Kenapa kamu tidak bersama Jasmine saja, dia juga terlihat sangat mencintai kamu dan menyayangi Chiro! Kamu juga pasti akan melakukan apa saja kan, demi bisa bersama Freya?!"


"Iya, lah. Tapi jangan sama kan aku dengan kamu. Sejak dulu hanya ada Freya, tidak ada perempuan lain."


"Kenapa kamu tidak bersama Vio dan Rei saja? Mereka tadi tidak keberatan kan, kalau harus berbagi suami? Enak kan kamu, dapat dua!" ucap Marcell.


"Itu maumu, dasar playboy!" ucap mereka serempak.


"Pantas saja Nania susah kamu dapatkan, ubahlah sikapmu itu, Marcell. Kamu membuat kami malu!" ucap Ikmal.


"Aku kan hanya memberi saran, kenapa aku yang disalahkan? Kan tadi mereka juga bilang begitu."


"Iya, sekarang bilang enggak apa. Tapi nanti siapa yang tahu? Bisa-bisa mereka cakar-cakaran, jambak-jambakan. Nanti viral berita istri pertama menyantet istri kedua. Istri kedua membakar istri pertama," ucap Arby.


Mereka bergidik ngeri membayangkan perkataan Arby.


"Jangan dibuka dulu pintunya, Uncle. Kami mau istirahat dulu dan menyiapkan dialog selanjutnya."


"Marcell, kamu ini juga dokter, apa kamu tidak merasa bersalah?"


"Masih saja itu yang dibahas. Kalau kalian khawatir, ayo kita ramai-ramai bikin Marva sekarat benaran. Kita keroyok saja dia."


Mereka, para dokter itu, akhirnya tertawa mendengar perkataan Arby, meski dalam hati tetap saja waswas.


"Apa tidak ada yang curiga, ya?"


"Mereka semua lagi dilanda panik, jadi tidak bisa berpikir jernih. Jangan membiarkan mereka dekat-dekat dengan Marva."


"Siap-siap, kita sudah cukup lama di dalam."


Mereka langsung ada di posisi masing-masing. Arby dan yang lain langsung merapat ke tembok, sedangkan Marva memejamkan matanya.


Mereka kembali masuk, dan Arby serta cs-nya langsung berdiri di belakang mereka.


Beberapa waktu kemudian, setelah si tukang tipu itu menikah, Arby mencubit lengan Marva dengan keras, membuat Marva meringis kesakitan. Arby juga kembali membuat layar menampilkan garis lurus.


Kalau kaya begini terus, sampai besok juga enggak selesai-selesai. Aku terpaksa harus meninggalkan Chiro demi si kutu kupret ini. Awas saja nanti dia mengeluhkan kisah cintanya lagi.


Mereka yang tahu kalau ini hanya sandiwara, harus menggigit bibir menahan tawa. Tapi tentu saja susah, kan. Di satu sisi haris menahan tawa, di sisi lain harus bersedih, kalau perlu menangis.


Memang aktor yang luar biasa sekali mereka.


Awas kualat!


Di luar ruangan, Arby kembali marah dan mengusir mereka.


Buruan napa pada pulang, memangnya aku enggak capek apa?