Mother

Mother
138 Mengerti Perasaannya


"Aku hanya bisa berharap, kalau aku dan kamu mendapatkan yang terbaik. Tapi untuk berjanji, sungguh aku tidak bisa."


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, apakah kamu mencintai dia?"


"Entahlah, aku memang tidak pernah memikirkan hal itu. Aku terlalu sibuk bekerja dan memikirkan anak-anakku. Anggap saja sekarang tidak, tapi tidak tahu nanti, karena hati tidak ada yang tahu akan berlabuh pada siapa, apakah waktu dan pada orang yang tepat atau tidak. Karena itu juga aku tidak mau berjanji apa pun padamu. Kamu akan semakin membenciku jika nanti aku tidak bisa menepatinya."


Vio diam, air matanya masih mengalir.


"Aku akan medoakan yang terbaik untuk kamu, untuk Marva, anak-anak, juga untuk aku. Apa pun yang akan terjadi nanti, aku harap hubungan kita tetap baik. Walau bagaimana pun, aku adalah ibu yang melahirkan Radhi dan Raine, sedangkan kamu adalah ibu yang membesarkan mereka. Aku juga percaya kalau kamu menyayangi mereka, tidak pernah memarahi apalagi memukuli mereka. Dan aku sangat berterima kasih padamu. Radhi dan Raine beruntung memiliki ibu seperti kamu."


Vio menatap wajah teduh Rei.


"Kamu tidak akan menceritakan tentang semua ini pada siapa pun, kan?"


"Aku tidak akan bercerita kalau kamu menemui aku sekarang, apalagi menceritakan tentang keadaan dirimu."


Vio menghembuskan nafasnya perlahan, lalu kembali mengusap matanya yang masih mengalirkan air mata.


"Aku pergi dulu."


Rei meninggalkan Vio sendiri. Sedangkan Vio menunduk dalam-dalam. Dia masih berada di dalam ruangan VIP itu, memikirkan semua yang telah terjadi, dan selama beberapa waktu tetap duduk di tempat yang sama.


Rei kembali ke rumah sakit. Dia masih sangat kaget dengan apa yang dia dengar dari Vio.


Tentu saja sekarang dia mengerti kenapa Vio selalu dilanda cemburu dan cemas berlebihan dengan dia dan Marva. Kandidat yang paling tepat untuk merebut Marva tentu saja dirinya, yang memiliki pengikat antara dia dan Marva, yaitu anak-anak.


"Kamu kenapa?" tanya dokter Agam.


"Enggak apa tapi nangis?" Rei diam, dia memang sulit untuk berbohong apalagi ditunjang dengan mata yang bengkak.


"Enggak apa kalau enggak mau cerita. Kamu harus ingat, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Memang sih, terlihat mudah mengatakan semua ini. Tapi aku hanya belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar aku. Semua akan indah pada waktunya."


Rei melihat wajah dokter Agam yang meneduhkan. Begitu juga sebaliknya, lalu mereka sama-sama tersenyum. Orang yang melihat itu pasti akan mengira kalau kedua orang itu sedang dilanda asmara, termasuk Marva.


Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang, bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk Radhi dan Raine. Seandainya saja saat itu kamu tidak pergi begitu saja, Rei. Pasti sekarang kita tetap bersama walau aku tahu ada banyak rintangan yang datang. Mungkin juga Radhi dan Raine sudah memiliki adik.


Rei selalu merasa nyaman saat bersama dokter Agam, juga saat berbicara dengannya, seolah mereka memang memiliki ikatan.


"Tatap-tatapan terus!" ledek Zilda.


"Kamu merusak suasana, Zilda!" tegur Letta.


"Apaan sih, kalian berdua ini."


"Ayo kita makan, yang lain juga sudah menunggu."


Setelah mengetahui tentang kondisi Vio, Rei merasa sangat iba. Dia tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.


"Jangan banyak pikiran, nanti kamu sakit."


"Cieee, dokter Agam perhatian banget. Perhatiannya sama Rei terus, tapi aku mulu yang dibikin baper. Gantian napa, Dok!" ucap Zilda, membuat mereka tertawa kecuali Marcell yang terus saja cemberut.


Arby, sekarang aku tahu bagaimana perasaan kamu yang sangat cemburu saat Mico dekat dengan Freya.