Mother

Mother
44 Harus Memilih


*J*angan sampai ketahuan, jangan sampai ketahuan. Aku mohon, jangan sampai ketahuan.


Sudah tidak bisa digambarkan lagi, bagaimana jantung Rei yang berdetak sangat kencang, seolah dia sedang melakukan kesalahan besar. Seperti seorang tahanan yang ingin melarikan diri dari jeruji besi.


Aku tidak perlu membawa apa pun yang mereka berikan, aku hanya ingin anak-anakku tetap bersamaku, tapi ... bagaimana dengan ijasahku? Foto nenek dan kedua orang tuaku? Sepeda dan tas dari Freya?


Ah, sudahlah, anak-anakku lebih penting dari semua itu. Mereka pasti akan mengerti. Maafkan aku ... bapak, ibu, nenek, san Freya.


Rei meremas ujung bajunya, rasanya semakin tegang saat anak-anaknya menendang perutnya. Apa mereka juga ikut meraskan ketegangan yang Rei rasakan? Apa mereka mendukung tindakan yang Rei pilih saat ini? Mereka tidak akan marah, kan? Itulah yang ada dalam pikiran Rei saat ini.


Ini saat yang tepat untuk kabur. Marva sedang tidak ada. Delia sepertinya di kamar, Viola juga di kamar, sedangkan Frans dan Carles ada di halaman belakang.


"Rei!"


Deg


Jantung Rei kembali seperti dipompa. Saking tegangnya dia, dia tidak melihat ada Marva yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Kamu mau apa?"


Deg deg deg ....


"Aku cuma mau duduk di halaman depan, Kak."


Semoga dia tidak curiga.


"Oh, ayo aku temani."


Deg deg deg ....


Tubuh Rei gemetaran disertai keringat dingin. Marva bisa melihat wajah Rei yang tegang, dan tangannya yang dingin saat dia genggam.


"Kamu enggak apa-apa?"


"Ak ... aku ... awww, sakitttt ... sakittt, Kak ...."


Respon dari dirinya yang terlalu tegang, takut dan pikiran yang kacau membuat Rei kesakitan.


Marva langsung syok saat melihat darah yang mengalir cukup banyak.


"Maaaa ... Mamaaaa ...!"


Suara teriakan Marva terdengar memenuhi mansion.


Delia, Viola, Frans, Carles, bahkan para asisten rumah tangga berlari menghampiri Marva.


Seluruh penghuni mansion dibuat panik. Carles langsung menyalakan mobil yang disusul oleh Marva yang menggendong Rei.


Marva satu mobil dengan Carles, sedangkan Frans, Delia dan Viola menggunakan mobil yang lain dengan sopir.


"Lebih cepat, Pah!"


"Ini juga sudah ngebut, Marva."


Marva melihat wajah pucat Rei yang bersimbah keringat. Bibir gadis itu bahkan seperti mayat. Terdengar ringisan Rei yang menahan sakit. Marva juga dapat merasakan bajunya yang basah oleh darah segar. Tidak hanya itu, bau anyir memenuhi mobil itu. Dengan takut, Marva mengelus perut Rei, tidak dia rasakan adanya gerakan. Sungguh, Marva sangat takut saat ini.


"Bertahanlah!"


"Kak, jangan lupa pesan aku," lirih Rei pada Marva.


Marva kembali teringat akan permintaan Rei yang ingin memberi nama untuk anaknya.


Rei teringat akan neneknya, orang tua yang tidak pernah dia lihat, namun sangat dia rindukan, lalu yang terakhir ... Freya. Dia belum sempat membalas kebaikan Freya, dan satu lagi ... dokter Agam. Dokter muda dan tampan yang sering memberinya makan san minum dan menemaninya di rumah sakit. Perlahan air mata Rei menetes.


Apa dia tidak akan melihat Freya dan dokter Agam lagi, juga anak kembarnya?


Perlahan, mata Rei mulai terpejam.


"Rei, hei ... jangan tidur!"


Namun Rei tidak lagi mendengarnya.


"Rei ... Rei ...! Bangunnn!"


Hampir satu jam mereka baru tiba di rumah sakit, waktu yang terbuang untuk menyelamatkan nyawa yang sedang bertaruh, karena padatnya jalanan.


Tidak lama kemudian Frans dan yang lain tiba. Rei dibawa ke ruang UGD terlebih dahulu. Cukup lama mereka menunggu, tapi dokter belum juga keluar. Sekitar sepuluh menit kemudian, dokter itu baru keluar dengan wajah yang menandakan hal tidak baik.


"Bagaimana?" tanya Marva.


Dokter menghela nafas berat.


"Begini, dia harus segera di operasi, melihat pendarahan itu sangat berat. Lalu ... karena kondisi kehamilannya yang baru tujuh bulan, jadi sudah dipastikan akan prematur. Pendarahan itu juga sangat berbahaya untuk ibu dan bayi kembarnya. Ada kemungkinan kami tidak bisa menyelamatkan semuanya. Jika harus memilih ... siapa yang akan diselamatkan?"


Deg


Haruskah seperti ini?


"Kenapa harus bertanya? Tentu saja selamatkan ...."