
Gara-gara perbuatan Marva yang sama sekali tidak pernah dia duga, Rei menjadi tidak konsentrasi. Untung saja tidak banyak pasien yang datang hari ini.
Sampai akhirnya dia pulang dan masuk ke kamarnya, dia tidak melihat ada yang sudah pulang.
Pagi harinya dia ingin bercerita pada yang lain, tapi rasanya waktunya tidak tepat karena mereka sedang terburu-buru.
Rei tidak semangat untuk bekerja hari ini. Tapi dia juga sadar kalau dia bukan anak-anak yang karena punya masalah di sekolah, jadi malas pergi sekolah.
Dia perempuan dewasa yang memiliki tanggung jawab besar pada pasien-pasiennya.
Sesampainya di loby rumah sakit, banyak pasang mata yang menatapnya dengan tidak suka.
Belum ada dua puluh empat jam, tapi gosip sudah beredar dengan sangat cepat. Tidak bisakah perawat itu menyimpan sendiri saja apa yang dia lihat? Kenapa harus membuka aib orang lain?
Belum ada satu jam berada di rumah sakit, tapi Rei merasa harinya sangat berat. Dia berusaha bersikap biasa saja.
Sesekali Rei melihat jam. Menunggu jam prakteknya berakhir. Jam istirahat, Rei harus keluar dari ruangannya, berusaha bersikap biasa saja dan menuju kafe.
"Rei, kamu mau makan siang?" tanya dokter Agam. Rei mengangguk kikuk.
"Aku juga. Ayo kita sama-sama."
Sementara orang-orang melihatnya tidak suka, dokter Agam justru biasa saja.
Dia tidak mungkin tidak tahu, kan? Pasti orang-orang akan berusaha agar dokter Agam tahu dan menjauhiku.
"Jangan pedulikan omongan orang-orang."
"Kamu tidak marah denganku?"
"Kenapa aku harus marah padamu?"
Rei menggaruk tengkuknya, bingung sendiri kenapa dia harus bertanya seperti itu. Dokter Agam yang sangat peka itu, tersenyum.
"Kalau kamu mau cerita, nanti juga kamu pasti akan cerita tanpa aku tanya. Aku tidak mau menghakimi orang karena tidak tahu apa-apa."
Rei tersenyum. Itulah yang dia suka dari dokter Agam, selalu membuat adem orang-orang yang mendengar perkataanya.
"Nanti juga gosip itu akan segera berakhir. Bukannya mau menakut-nakuti, tapi kamu harus menyiapkan diri saat keluarga Arthuro itu tahu."
"Iya, aku sadar itu."
"Ayo makan. Kamu masih punya aku dan sahabat-sahabat kamu. Aku percaya kamu tidak mungkin bersikap seenaknya."
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Feeling saja. Apalagi kita punya banyak kesamaan. Oya, nanti malam jadi kan, memilihkan kado untuk mama aku?"
"Kamu masih mau aku yang memilihkan kado itu?"
"Iya, dong. Kenapa tidak?"
Rei tersenyum, beban sedikit berkurang dari dirinya. Dia sadar, masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Apa Freya dan yang lain juga akan percaya padaku?
Brak
Rei dan dokter Agam tersentak saat ada yang mendobrak meja mereka.
"Zilda, jangan begitu. Lihat tuh dokter tampan jadi kaget," ucap Letta.
"Hehehe, maaf ya dokter tampan. Terlalu semangat soalnya."
Tanpa permisi, Freya, Monic, Zilda, dan Letta langsung duduk di sana.
"Kalian pesan saja, biar aku yang traktir."
"Dokter memang keren, suami idaman," ucap Zilda.
"Aku juga suami idaman," ucap Marcell, yang tanpa diundang ikut nimbrung di sana.