Mother

Mother
224 Extra Part 6


Berkali-kali Marva menghela nafas berat.


Dulu, dia selalu berkata siap menanggung semua ujian yang akan menimpa, kuat mendapat balasan akan perbuatannya.


Kenyataannya


Teori selalu lebih mudah daripada praktek.


Manusia terlalu sombong berkata kalau dia mampu, tanpa memikirkan apa saja yang mungkin akan terjadi.


Pada dasarnya, Tuhan memang tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.


Apa dulu Viola merasakan sesakit ini?


Tidak!


Ini berbeda!


Tetap saja pikiran lain Marva berkata lain. Sisi egoisnya berkata ini masalah yang berbeda. Vio sudah tahu apa resiko yang harus dia tanggung sebelum mereka menikah, dan berkata siap menerima apa saja ujian yang akan menimpanya.


Tapi bukankah sama saja?


Marva dulu juga berkata seperti itu, siap menanggung resiko jika tetap ngotot menikah dengan Rei.


Tidak, ini berbeda. Ini masalah nyawa. Nyawa istri dan anakku!


Lagi-lagi mencari pembelaan diri sendiri, berpikir kalau ujian yang dia terima jauh lebih berat dari yang Vio rasakan.


Tapi kenapa balasannya harus seperti ini?


Hey, memangnya manusia bisa memilih, balasan apa yang bisa dia terima. Masih syukur Rei hanya terbaring tidak berdaya di atas brankar. Bagaimana kalau lebih buruk lagi? Meninggal misalnya, meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil, membuat pernikahan mereka mungkin bisa dibilang sia-sia? Seperti pengorbanan Rei dulu?


Atau ....


Bagaimana kalau Marva merasakan sama persis apa yang Vio rasakan? Rei meninggalkannya karena pria lain yang lebih doa cintai? Bukankah Rei juga terpaksa menikah dengannya? Menikah karena tipu muslihat yang sangat licik.


Ampuni aku ... ampuni aku ... ampuni aku!


Arby menepuk pundak Marva, melihat pria itu terlihat sangat frustasi dan banyak pikiran.


"Aku sangat tahu bagaimana perasaannya kamu. Aku sudah mengalami ini bahkan lebih sering lagi."


Dulu Marva berkata sabar dengan mudah, ternyata di saat ada di posisi itu, ucapan penyemangat juga terasa tidak berguna, sebelum melihat orang yang dicintai kembali sadar dan sehat.


"Berkali-kali rasanya aku seperti ingin mati saja," ucap Arby lagi. Persis seperti apa yang Marva rasakan saat ini.


"Tuhan benar-benar menghukumku, bahkan di saat aku belum merasakan lama kebahagiaan ini."


Arby diam saja, mau bilang "Syukurin!" tapi takut kualat juga dia.


Mau ikut menangis, tapi dia tidak akan menangis karena perempuan lain, kecuali mommynya, dan anaknya.


Yang lain diam saja. Arby dan para pria muda itu juga tahu maksud Marva yang lain, yaitu tentang kebohongannya.


Pura-pura sekarat, sekarang malah anak dan istrinya yang sekarat menggantikan dirinya.


Inilah yang namanya kualat!


Mereka yang terlibat juga ikut merasakan rasa bersalah. Tapi tetap saja kan, yang mengambil keputusan saat itu adalah Marva sendiri, mengikuti saran iseng Arby ya g dianggap serius oleh Marva, karena menghadapi jalan buntu untuk meluluhkan hati keluarganya dan juga Rei.


Mau mengakui semuanya sekarang juga dia takut. Bukan takut ditampar oleh kakek dan kedua orang tuanya, tapi takut melihat tatapan kecewa mamanya. Takut melihat kesedihan di mata perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.


Lagi-lagi dalam hati dia memohon ampun, masih antara menyesal dan tidak dengan sikapnya. Menyesali keegoisannya, tapi bukan berarti menyesali menikah dengan Rei.


Karena bersama dengan Rei, hingga saat ini, bukan sesuatu yang bisa dia sesali.


.


.


.


.


**Tuhkan tuhkan tuhkan ... keterusan aku😌


Bukan extra part ini mah namanya🤣


🥺😋**