Mother

Mother
148 Bisakah Ikhlas?


"Nata! Hai, kamu Nata, kan?" Seorang pria tampan menghampiri mereka.


"Nata?"


"Iya, Nata. Reinata, kan?"


"Ck, ada Coco dan sekarang Nata. Nata Decoco?" celetuk Arby, yang langsung mendapatkan lirikan dari Mico.


"Iya, saya Reinata. Siapa, ya?"


"Ya ampun Nata, sudah lama banget enggak melihat kamu. Apa kabar?" Pria tampan itu langsung memeluk Rei, yang langsung membuat gempar mereka.


"Hai, Agam. Kamu juga di sini, kamu kenal sama Nata?"


"Kamu juga kenal sama Rei?"


"Kenal lah, dia kan teman SD aku. Kamu ingat aku enggak, Nat?"


"Dokter Agam, dia siapa sih?" tanya Zilda.


"Oh, kenalkan. Dia Reivaldo, dokter yang akan bekerja di tempat kita. Oya Nay, ini orang yang aku ceritakan sama kamu. Dia sudah setuju untuk bekerja di klinik juga."


"Dokter Valdo masih jomblo?" tanya Zilda.


"Masih."


"Alhamdulillah, masih ada kesempatan."


Freya dan Monic geleng-geleng kepala. Zilda memang selalu cepat tanggap dengan pria tampan.


"Reivaldo? Reivaldo dan Reinata, Jangan-jangan kalian jodoh," celetuk Freya. Marva melihat Freya.


Perempuan yang sejak tadi diam saja itu, mulai berkomentar.


Sebagian besar pria yang ada di sana menghela nafas.


"Aku pusing, kenapa di sekitarku selalu dikelilingi pria tampan?" tanya Zilda.


Valdo dan Agam hanya tertawa.


"Dokter Valdo kapan mulai bekerja di rumah sakit?"


"Besok. Ya sudah, aku duluan ya."


Si kembar dan Chiro juga sejak tadi diam saja. Mereka sibuk dengan makanannya.


Akhirnya mereka mengajak RaRa dan Chiro ke taman bermain. Yang paling senang tentu saja para pria yang gagal move on itu.


Arby dengan Freya yang direcoki oleh Mico.


Marcell dengan Zilda


Vian dengan Letta


Ikmal dan Monic hanya tertawa saja melihat perjuangan mereka.


Rei dengan Agam dan Raine.


Sedangkan Marva dengan Vio dan Radhi.


"Eh, kebetulan kita sedang berkumpul di sini. Ayo kita foto bersama," ajak Freya.


Mereka lalu mencari latar yang bagus untuk berfoto bersama.


"Jangan sedih terus, Vio. Kalau memang berjodoh, kamu akan terus bersama Marva, begitu juga sebaliknya dengan Rei. Jangan memikirkan pria yang tidak memikirkan kamu, atau kamu akan sakit hati seumur hidup. Kamu lihat bagaimana Rei? Dia menjalani semua apa adanya. Bisa saja jodohnya Marva, atau orang lain yang tidak pernah kita sangka. Siapa pun nanti yang akan bersama Marva, ikhlaskan saja," ucap Freya menepuk pundak Vio.


Freya lalu menghampiri Marva yang sejak tadi menahan cemburu melihat kedekatan Rei, Agam dan anak-anaknya.


"Apa rasanya sakit, Marva?" tanya Freya.


"Apa?"


"Melihat mereka? Apa rasanya sakit?"


"Tentu saja, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Dan seperti itu jugalah yang Vio rasakan. Melihat suami yang sangat dia cintai dekat dengan perempuan lain. Apa yang kamu lihat, sama seperti apa yang Vio lihat. Kamu tidak terima, merasa Rei adalah hak kamu. Begitu juga dengan Vio, yang merasa kamu adalah haknya."


"Aku tidak memaksa Vio untuk mencintaiku dan tetap bertahan sampai sekarang."


"Rei juga, dia tidak memaksa kamu untuk mencintai dia. Kamu sendiri yang menempatkan dirimu dalam keadaan yang sulit. Siapa pun nanti yang akan bersama Rei, ikhlaskan saja."


"Benar itu apa yang dikatakan Freya," ucap Arby. Dia dan yang lain tidak sengaja mendengar pembicaraan Freya dengan Vio dan Marva.


"Berarti nanti kalau Freya bersama orang lain, kamu juga harus ikhlas ya, Ar?"


"Enak saja. Tidak akan aku biarkan. Aku tidak bisa melihat Freya bersama pria lain."


"Tuh kan, bicara itu memang gampang, tapi prakteknya yang susah."