
Flashback Off
"Jadi, Freya tahu kalau kalian bersaudara?"
"Ya, aku rasa Freya sudah tahu sejak lama. Dan dialah yang sebenarnya memberikan petunjuk padaku, meski aku awalnya tidak menyadarinya."
"Maksudnya?"
"Hal yang Freya bisikan padaku."
"Memang apa yang dia katakan padamu?"
"Dia bilang, 'Sering-seringlah datang ke pemakaman, mungkin kamu akan mendapatkan petunjuk di sana!' Awalnya aku tidak mengerti, tapi setelah bertemu dengan Rei di depan makam orang tuanya, aku baru paham. Freya ingin kami sendiri yang mencari tahunya."
Mereka memperhatikan, bahwa di sini, yang sama sekali tidak terkejut hanya Arby dan Mico.
"Kalian tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Kan Freya yang meminta aku menyelidikinya," ucap Mico tenang.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku, Mico?" geram Marva. Berkali-kali dia harus menahan cemburu pada dokter Agam, yang ternyata salah sasaran.
"Kan aku sudah memberikan kode."
"Kapan?"
"Ck, kan aku sudah sering bilang, kalau Agam dan Rei itu memiliki persamaan, pandangan mata mereka sama-sama meneduhkan, sifat yang sama, dan sebagainya."
Marva mendengkus, siapa yang mengira maksudnya seperti itu?
"Kamu juga tahu, Ar?"
"Enggak juga, tapi aku memang sudah curiga. Kalian saja yang tidak peka. Kalian itu ...." Sambil melihat Rei dan dokter Agam.
"Mirip tapi enggak mirip."
"Gimana, mirip tapi enggak mirip?"
"Pandangan mata kalian sama. Secara wajah, sebenarnya enggak terlalu mirip. Aku sering memperhatikan Freya yang selalu mengamati wajah kalian, apalagi kalau kalian bersebelahan."
"Pasti ada hubungan keluarga di antara kalian."
"Ck, yang kamu perhatikan itu Freya?"
"Ya iyalah, ada Freya yang bisa aku perhatikan, ngapain aku merhatiin orang lain?"
"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, Ar?"
Arby melihat Marva, lalu tersenyum mengejek.
"Deritamu bukan deritaku!"
Andai saja saat ini Marva tidak pura-pura sakit dan masih belum baik banget, ingin sekali dia menimpuk Arby.
Mereka kembali melihat Arby dan Nico, dua orang pria yang sebenarnya sudah tahu permasalahan ini, tapi hanya diam saja.
Pantas saja mereka berdua juga sering mengejek dan memanas-manasi Marva.
Marva lalu memperhatikan Rei dan dokter Agam. Sekilas memang biasa saja, tidak ada kemiripan, tapi sebenarnya, cara pandang mereka sama. Sama-sama meneduhkan.
Itukah sebabnya Freya menitipkan Rei pada dokter Agam? Tentu saja, sebagai keluarga, sudah pasti dokter Agam yang paling berhak menjaga Rei. Tapi kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Apa sebenarnya Freya tidak suka aku bersama Rei?
Marva kembali teringat surat yang ditinggalkan Freya untuknya, lalu menghela nafas berat.
Dia kembali melihat Rei, yang terlihat ... entahlah, Marva sendiri bingung mengungkapkannya.
Marva tahu Rei terpaksa menikah lagi dengannya. Untuk yang kedua kalinya perempuan itu terjerat dalam keluarganya.
Maafkan aku Rei, kalau aku harus menipumu dengan cara seperti ini. Benar kata Arby, jika tidak seperti ini, maka semua akan sama saja sampai kapan pun. Kamu itu orang yang tidak tegaan, itulah yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan kamu.
Cinta bisa datang karena terbiasa. Jadi terbiasalah denganku Rei, agar kamu bisa mencintaiku. Aku akan membuat kamu mencintai aku dengan tulus.
Semua orang punya cara sendiri untuk mendapatkan seseorang yang dia cintai, dan seperti inilah cara aku mendapatkan kamu kembali.
Terserah orang-orang mau berkata apa tentang aku. Mau bilang aku licik, jahat atau apa lun, aku tidak peduli. Karena yang aku pedulikan hanya kebersamaan kamu, aku dan anak-anak kita.