Mother

Mother
60 Calon Istri


Hari-hari semakin berlalu. Di keluarga Arthuro, semua berjalan lancar dengan kehadiran si kembar yang semakin besar. Hubungan Marva dan Viola juga baik-baik saja, layaknya pasangan suami istri dengan anak-anak mereka. Kalaupun bertengkar, tidak mungkin mereka menunjukkannya pada keluarga, seperti saat ini ....


"Apa kamu tidak memiliki waktu untuk aku?" tanya Vio dengan suara bergetar.


"Kamu kan tahu sendiri aku sibuk kerja. Ayah sudah ingin pensiun juga, meninggalkan banyak pekerjaan untuk aku urus. Kala bukan aku, siapa lagi? Yang lain di Jepang, kalau pun mereka di sini, mereka juga pasti sibuk dengan perusahaan keluarganya yang lain."


"Tapi apa tidak bisa kamu meluangkan waktu sedikit saja, bahkan di hari libur."


"Kan kalau liburan, aku selalu di rumah, atau ke taman."


"Maksud aku, luangkan waktu untuk aku saja, tanpa ada yang lain."


"Apa maksud kamu tanpa ada yang lain? Radhi dan Raine? Mereka itu anak-anak aku, bukan anak orang lain, kenapa kamu yang marah? Apa selama ini kamu tidak pernah menganggap mereka anak?"


"Bukan itu. Aku juga menyayangi mereka seperti anak kandung sendiri. Tapi aku juga kita punya waktu untuk berdua saja, agar hubungan kita lebih harmonis, karena kamu selalu sibuk."


"Sudahkah, aku lelah."


"Kamu pikir hanya kamu saja yang lelah, aku juga lelah."


"Kamu lelah karena terlalu lama shopping!"


Viola merasa kesal dengan perkataan Marva. Memang dirinya sering shoping, tapi itu karena dia ingin menyegarkan pikirannya, menghilangkan rasa kesepian karena Marva yang selalu sibuk bekerja. Kalau pun di rumah, Marva selalu bermain bersama anak-anaknya. Sedangkan di apa? Istri pajangan?


Viola tulus menyayangi Radhi dan Raine, sering mengajak mereka bermain dan jalan-jalan, meski dalam hati juga sakit kalau mengingat anak-anak itu adalah anak wanita lain. Dia tidak bisa menipu diri sendiri kan, kalau mereka bukan anak kandungnya. Juga tidak akan bisa menipu keluarga besar Marva, suatu saat nanti mereka juga pasti akan tahu.


Sedangkan bagi Marva, dia juga sebenarnya lelah. Ingin menghabiskan waktu santainya dengan bersantai-santai. Yang biasanya bisa dia lakukan dengan melakukan hobinya, atau berkumpul dengan teman-temannya, atau dulu bersama dengan sepupu-sepupunya, kini jadi sulit.


Kehadiran si kembar mengubah banyak hal dalam hidupnya. Dia harus bisa lebih bertanggung jawab. Mengesampingkan segala egonya. Teman-teman seusianya belum ada yang menikah, mereka masih sibuk bekerja dan berkencan dengan beberapa wanita. Dia sama seperti Arby, menikah muda, tapi memang tidak semuda Arby sih saat menikah dengan Viola.


Kalau sudah seperti ini, yang bisa dijadikan teman curhat hanya Arby saja, tapi sayangnya pria itu berada jauh di Jepang. Entah lari dari kenyataan atau menghibur diri.


Marva akui, selama ini Vio selalu bersikap baik. Dia tahu kalau Vio juga menyayangi Radhi dan Raine.


Sementara itu, di tempat yang jauh, yang tidak mereka bayangkan, para wanita semakin berkilau dengan prestasi mereka. Kehidupan Rei sudah jauh lebih baik. Dia sudah mengumpulkan tabungan, jadi jika saatnya nanti dia kembali ke negara yang penuh dengan kenangan sedih itu, dia sudah siap. Siap secara materi, tapi tidak dengan hati yang masih terus bersedih.


"Otakmu itu terbuat dari apa, Nay? Aku salut padamu yang sanggup melakukan ini itu dan belajar ini itu."


"Entahlah, aku merasa memang seperti ini yang harusnya aku lakukan. Seperti ada bisikan gaib yang mengharuskan aku menjadi yang terbaik dalam hidupku, tidak boleh ada cacat apalagi kegagalan. Lebih baik mati daripada gagal," ucapnya sambil tertawa.


Dia jadi teringat Marva, dan perkataan Naya kalau Marva itu sepupu Arby, bukankah itu berarti kalau ... seandainya hubungan mereka semua baik-baik saja hingga saat ini, dia menjadi bersaudara dengan Naya?


Membayangkan itu, membuat Rei tersenyum. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki saudara, karena ibunya meninggal saat melahirkan dia. Itulah sebabnya, saat dia tahu dia mengandung anak kembar, dan melahirkan keduanya dengan selamat dan sehat, dia merasa sangat bahagia. Anak-anaknya tidak akan kesepian, ada tempat untuk berbagi, dan curhat. Mereka bisa saling menjaga dan menyayangi.


Rei menghela nafas berat. Untung saja dia bertemu dengan Naya, yang memang benar seperti dewi penyelamat untuk dia. Karena Naya, dia bisa mengobati segala kerinduannya pada Radhi dan Raine.


Dia tidak peduli dengan Marva, apalagi Vio dan keluarga yang lainnya. Bagi Rei, mereka adalah jembatan untukmya memiliki keturunan dengan cara yang menyakitkan, membuat dia terpaksa harus meninggalkan si kembar seperti ibu dzolim yang tidak memiliki kasih sayang.


Mereka saja tidak peduli padaku, kenapa aku harus peduli dengan mereka? Hanya anak-anak aku yang aku pedulikan.


"Dokter Agam ...," gumam Rei pelan.


"Siapa itu dokter Agam?" tanya Monic. Rei tersentak, dan melihat Naya, Letta, Monic dan Zilda yang sedang tersenyum padanya, seolah menggoda.


"Oh, dia dokter yang banyak membantu aku saat aku merawat nenek di rumah sakit."


"Masih muda?"


"Masih."


"Ganteng?"


"Ganteng."


"Sudah punya pacar?"


"Mana aku tahu."


"Keren?"


"Keren."


"Cieee ...," Naya Letta, Monic dan Zilda berkata dengan serempak.


"Apaan sih, cieciean." Mereka lantas menertawakan Rei yang wajahnya malu. Rei yang pemalu dan pendiam, memang tidak terbiasa digoda seperti itu.


Siapa yang mengira, kalau perempuan kalem itu sudah memiliki dua anak. Meskipun begitu, para pria juga tidak akan menolak Rei untuk menjadikannya istri. Muda dan cantik, juga calon dokter.