
Yang ada dalam pikiran Rei selain Freya adalah dokter Agam. Pria pertama yang dekat dengannya selain Marva.
Dia ingin menghubungi dokter Agam, tapi tentu saja merasa segan. Dia tidak pernah menghubungi seorang pria lebih dulu selain urusan pekerjaan, apalagi ini untuk curhat.
Rei melihat nomor dokter Agam, lalu mengurungkan niatnya itu.
Malu.
Tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dan tertera nama dokter Agam. Dengan senyuman, dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Hai Rei, ada waktu enggak, temani aku yuk, aku mau beli kue buat mama."
"Ya sudah, kamu jemput aku ya?"
"Oke, aku jalan sekarang."
Kurang dari satu jam kemudian, Rei sidah ada di dalam mobil dokter Agam. Rei ingin bercerita, tapi bingung gimana cara memulainya?
"Ada yang mau kamu ceritakan?"
"Eh?"
"Kalau mau cerita, cerita saja."
Rei menghembuskan nafas.
"Marva, ya?"
"Kok tahu?" Agam tertawa.
"Kayaknya masalah kamu seputar Vio dan Marva saja, deh."
Rei meringis, karena memang benar apa yang dikatakan dokter Agam.
"Kamu mau kembali padanya?"
"Enggak tahu."
"Kamu cinta sama dia?"
"Enggak tahu."
Agam tersenyum, lalu melihat Rei.
"Aku cuma mau bilang gini, kalau kamu mau kembali pada Marva karena alasan anak-anak, sebaiknya kamu pikirkan lagi. Menikah tanpa cinta itu sulit. Yang menikah dengan cinta saja bisa punya banyak masalah dalam rumah tangga. Khawatirnya nanti kamu akan bertengkar terus dengan Marva, ujung-ujungnya kisah, kan tambah kasihan kamu, Marva, dan anak-anak. Tapi kalau kamu menikah karena memang mencintai Marva, ya lakukanlah, dan harus siap menanggung resiko yang ada. Kamu pasti lebih paham lah resiko apa saja yang ada?"
Ya, tentu saja Rei sangat tahu apa saja resikonya.
Cibiran orang-orang yang mengatainya pelakor, juga restu dari keluarga Marva.
"Oya, kamu mau ketemu sama mama aku, enggak."
"Iya, kebetulan mama aku lagi ada di sini. Mau, enggak?"
"Boleh, deh."
Setelah membeli kue, mereka langsung ke apartemen Marva. Seorang perempuan yang sudah berumur namun masih terlihat cantik menyambut kedatangan mereka.
"Ini siapa?"
"Ini Rei, Ma."
"Oh, jadi ini yang namanya Rei. Ya ampun, cantik banget. Agam sering loh cerita tentang kamu."
Rei tersipu malu. Bukannya dia geer'an, tapi dia senang dipuji cantik oleh mamanya Agam. Dia merasa seperti dipuji cantik oleh mamanya sendiri. Maklum saja, mantan mama mertuanya dulu tidak pernah memuji dia cantik.
Mamanya Agam langsung memeluk dan mencium Rei, memberikan kehangatan di hati perempuan itu.
Dia jadi terharu.
Terdengar norak memang, tapi itu yang dia rasakan.
Apa akan seperti ini rasanya dipeluk oleh seorang ibu?
Ya, maklum saja, dia juga memang tidak pernah dipeluk oleh mantan mama mertuanya dulu.
"Ayo duduk, mama buatkan minuman dulu, ya."
"Enggak usah repot-repot, Tante."
"Enggak repot, dan panggil mama saja, ya. Mama tuh pengen banget loh, punya anak perempuan."
"Mama?"
"Iya,mama. Anggap saja mama ini mama kamu sendiri ya, jangan sungkan."
Ya ampun, Rei sudah pengen nangis. Kalau saja tidak ada Agam dan mamanya, pasti air matanya sudah keluar.
"I ... iya, Ma."
"Nah, gitu."
Mama?
Apa seperti ini juga memanggil seseorang dengan panggilan mama?
Rei tidak ingat apakah dia dulu pernah memanggil mantan mama mertuanya dulu dengan panggilan mama?
Sepertinya tidak.
Dulu dia dan mantan mama mertuanya jarang berkomunikasi, meski pun berpapasan.
Apa dulu Rei memanggilnya tante, atau nyonya?