
"Jangan!"
"Marva!"
"Jangan! Jangan Marva, jangan Marva. Jangannn!"
Delia terus saja menangis terisak, menghentak-hentakkan tubuhnya.
"Delia! Sayang ...."
"Jangan Marva!"
"Delia, hei Delia!"
Delia membuka matanya, melihat ke sekelilingnya. Nafasnya memburu, dadanya terasa sakit disertai keringat dingin.
"Marva?"
"Kamu kenapa? Mimpi buruk?"
"Marva?"
"Kenapa Marva?"
"Marva di mana? Dia tidak kenapa-kenapa, kan? Cucu-cucu kita juga baik-baik saja, kan? Marva mana, Marva? Cepat jawab aku, Carl!"
"Hei Sayang, tenanglah! Marva mungkin ada di apartemennya bersama cucu-cucu kita."
Delia segera mengambil ponselnya, dan menekan nama Marva.
"Halo?" terdengar suara dari orang yang Delia khawatirkan.
"Marva?"
"Ya, kenapa Ma?"
"Ini benar Marva, kan? Marva anakku, kan?"
"Bukan, ini Marva anak tetangga sebelah."
"Jangan bercanda, Marva."
"Lagian Mama nanya-nanya Marva anak siapa. Kalau bukan anak Mama terus anak siapa? Ya kali aku anak alien?"
"Marva!"
"Hehehe."
"Kamu baik-baik saja, kan? Apa terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
"Iya, tadi aku lagi mimpi ba s*h terus diganggu sama Mama, enggak asik deh!"
"Marva! Ya ampun! Ini Marva atau Arby, sih? Kenapa kamu jadi mesum sama seperti Arby? Lagian mimpi ba s*h sama siapa kamu? Delia?"
"Ini beneran Marva bukan, sih?" Delia jadi kesal dengan perkataan Marva yang ngelantur.
"Iya. Masa Mama enggak ngenalin suara anak sendiri? Memang kenapa sih, Ma?"
"Kamu bicaranya kaya orang lagi ngigo!"
"Gimana enggak kaya orang ngigo? Ini tuh masih jam dua malam loh, Ma. Lagi ngatuk-ngantuk dan nyenyak-nyenyaknya ini tidur. Ada apa Mama telp jam segini? Mama baik-baik saja, kan?"
Menyadari itu, Marva langsung membuka lebar matanya. Dia khawatir mamanya tidak baik-baik saja.
Delia melirik jam di dinding, lalu menghela nafas. Benar, sekarang masih jam dia malam.
"Ma, Mama baik-baik saja, kan?"
"Iya. Mama akan baik-baik saja kalau kamu juga baik-baik saja."
"Mama lanjut tidur lagi, ya. Aku juga ngantuk banget, ini."
"Ya sudah, kamu tidur lagi sana. Jangan begadang!"
"Iya."
Delia menutup panggilan telp itu.
"Kamu kenapa, Del?" tanya Carles yang sejak tadi memperhatikan obrolan istri dan anaknya itu.
"Aku bermimpi buruk tentang Marva dan cucu-cucu kita. Aku ... aku takut sekali!"
"Itu hanya bunga tidur."
Carles lalu memberikan Delia air minum yang ada di atas nakas. Delia tiba-tiba saja menangis.
"Carl, cepat bawa Marva dan cucu-cucu kita kembali ke rumah ini. Aku tidak mau tinggal jauh dari mereka, meski hanya di apartemen saja. Ya?"
Delia benar-benar ketakutan, bagaimana kalau mimpi buruknya itu sampai benar-benar terjadi? Dia tidak mau sampai kehilangan anak dan cucu-cucunya.
"Kamu mau kan, membawa mereka kembali ke rumah ini lagi?"
"Akan aku usahakan. Marva itu mungkin butuh waktu untuk berpikir."
"Apa pun yang terjadi, mereka harus kembali ke rumah ini!"
Carles memeluk istrinya itu, yang masih mengeluarkan air mata. Carles pun merasakan sepi tidak ada cucu-cucunya.
☘️☘️☘️
Wajah Delia dari hari ke hari semakin pucat. Hampir setiap hari dia bermimpi buruk.
"Kamu harus istirahat yang cukup. Kamu ingat kan, spa kata dokter?"
"Aku tidak tenang. Aku tidak bisa tenang lagi. Aku ingin selalu melihat Marva dan cucu-cucu kita setiap hari. Coba kamu hubungi Marva, suruh dia ke sini bersama Radhi dan Raine!"