
"Sampai kapan?"
"Jangan banyak menuntut, Freya. Pengacara kami yang akan menghubungi kamu."
"Kalau begitu pengacara kalian bisa menghubungi Mico sebagai pengacara kami."
Frans memejamkan matanya, perempuan muda ini benar-benar membuat dia darah tinggi.
"Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu. Tapi aku minta minum dulu.
Yang lain langsung tersenyum.
"Terima kasih ya Marva, berkat kesalahan kamu, Rei bisa mendapatkan apa yang dia mau."
Freya tersenyum mengejek pada Frans, Carles dan Delia.
Frans dan Carles menatap kesal pada Marva.
"Jangan menyalahkan aku. Salah sendiri kenapa kalian membawa Rei dan tidak melupakan saja masalah yang ada. Malah memperpanjangnya!"
"Mommy Chiro memang keren. Memang hanya dia yang pantas menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku."
Freya memutar bola matanya.
Yang lain mengangguk, mengakui kalau Freya memang keren. Siapa yang menyangka kalau keadaan malah terbalik. Malah keluarga itu yang diancam.
Chiro dan si kembar akhirnya turun, Chiro langsung memeluk Freya, sedangkan si kembar memeluk ayahnya.
🌻🌻🌻
Rei memeluk Freya, dia benar-benar terharu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Freya.
"Terima kasih banyak, Freya. Kamu sudah melakukan banyak hal padaku."
"Itu memang sudah hak kamu."
"Kira-kira permintaan Rei dituruti tidak, ya?" tanya Zilda.
"Kemungkinan dituruti. Ini masalah nama baik keluarga," pikir Monic.
Kembali ke kediaman keluarga Arthuro
"Kamu lihat, Marva. Ini semua karena ulah kamu."
Delia memijat keningnya. Tanpa berkata apa-apa, dia masuk ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, Vio duduk seperti patung.
Kalau anak-anak tahu siapa ibu kandung mereka, apa dia akan kehilangan kasih sayang si kembar? Apa mereka akan meminta ayah dan ibu kandungnya menikah? Lalu bagaimana dengan nasibnya?
Apa dia akan kembali di madu?
Atau dia akan diceraikan?
Orang-orang bisa saja menganggap dia egois. Tapi bagaimana jika mereka ada di posisinya?
Dia dulu sudah berbesar hati mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Membesarkan anak-anak dari perempuan lain dengan tulus. Kalau dia sekarang diceraikan, kenapa tidak dari dulu saja?
Apakah pengorbanannya selama ini tidak pernah dianggap?
Tidak, kakek Frans tidak mungkin membiarkan Marva menceraikan dia, kan? Kalau seperti itu, pasti sudah sejak dulu kakek Frans lebih memilih Rei dibandingkan dirinya.
Bagaimana kalau anak-anak meminta kedua orang tua mereka kembali bersama?
Bagaimana kalau Marva sungguh-sungguh mau menikahi Rei?
Saudara-saudara Marva juga sepertinya condong pada Rei, karena mereka juga pasti ingin mendekati para perempuan itu.
Jadi jadi merasa sendiri, tanpa ada yang memihak padanya.
Satu-satunya harapan adalah kakek dan kedua orang tua Marva. Mereka pasti tidak akan setuju, kan?
Kembali pertanyaan itu muncul, dan dia sangat berharap kalau jawabannya tidak.
Istri mana yang sanggup diduakan untuk yang kedua kalinya? Apalagi oleh perempuan yang sama. Vio merasa kalau Rei dan sahabat-sahabatnya itu akan menertawakannya. Menertawakan kekalahannya sekali lagi.
Suaminya direbut untuk yang kedua kalinya.
Kedua kalinya perempuan yang sama merebut suaminya.
Kalau orang lain tahu, pasti mereka juga akan tertawa, mungkin sebagian malah mengasihani nasibnya yang buruk.
Vio membekap mulutnya sendiri, menahan isak tangis yang semakin menjadi.
Tolong, berikanlah aku jalan keluarnya!