
"Kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing. Mari kita berteman saja."
"Tidak! Aku tidak mau kita hanya menjadi teman saja, Rei. Aku sungguh mencintai kamu."
"Kalau memang benar kamu mencintai aku, tolong ikhlaskan aku. Hormati keputusan aku, dan doakan saja kebahagiaan aku, meski itu bersama orang lain. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak mau lagi menjalani sesuatu karena terpaksa."
Nafas Marva terasa sesak. Apa sesakit ini rasanya ditolak?
Tiba-tiba saja dia jadi teringat Vio.
Apa Vio juga merasakan sakit seperti ini?
Belum apa-apa saja dia sudah merasakan karmanya.
Kenapa Tuhan menghukum dan membalasnya secepat ini, di saat dia bahkan belum merasakan bahagia itu.
"Jangan buru-buru mengambil keputusan, Rei!"
"Aku tidak terburu-buru. Aku sudah memikirkan ini sejak lama."
"Rei ...." Marva menggenggam tangan Rei, tapi Rei langsung melepasnya.
"Kamu bahkan tidak sedikit pun memberikan aku kesempatan untuk membuktikan ke kamu."
Rei melihat wajah Marva yang sendu. Wajah yang sangat mirip dengan anak perempuannya. Apa jika Raine bersedih akan seperti ini?
Sedangkan Marva melihat wajah Rei, yang sangat mirip dengan Radhi. Bagaimana bisa dia melupakan Rei jika wajah itu sangat mirip dengan anak laki-lakinya?
Mereka akan saling mengingatkan.
Yang satu akan mengingat yang lain.
Yang lain akan terkenang yang satu.
Apa ini cara Tuhan menghukum keegoisan mereka di masa lalu?
Rei menghela nafas.
Menolak seseorang bukan hal yang menyenangkan ternyata, pikir Rei.
Rei memejamkan matanya.
Dia seperti orang jahat.
"Aku banyak belajar dari masa lalu. Tidak semua hal yang kita inginkan harus kita dapatkan. Selama ini aku selalu merasa bersalah pada nenekku, dan hidupku tidak pernah tenang."
Apa seperti ini yang Arby rasakan saat Freya meninggalkan dia?
Rasa ini lebih menyakitkan dari saat Rei meninggalkannya tanpa pamit dulu. Marva menunduk, deru nafasnya memburu diiringi degup jantung yang bekejar-kejaran.
Apa Sang Pencipta juga tidak memihaknya? Apa dia salah jika ingin bersama dengan perempuan yang dia cintai?
Apa Vio mengutuknya?
"Aku pergi dulu."
Rei meninggalkan Marva, yang sekarang hanya diam memandangnya dengan tatapan nanar.
Dia merasa dikhianati, tapi oleh siapa?
Tidak ada yang tahu, di saat yang sama, saat Rei menolak Marva, Vio sedang mempacking barang-barangnya di kediaman Arthuro, meskipun dia belum mendapatkan surat dari pengadilan agama.
Vio meneliti setiap sudut kamar itu.
Kasur tempat dia tidur bersama Marva.
Kalau tahu akan seperti ini jadinya, haruskah dia berpikir bahwa kenapa tidak dari dulu saja dia pergi dari kehidupan Marva?
Tidak
Setidaknya dia bersyukur karena sempat dan bisa membesarkan Radhi dan Raine bersama Marva.
Setidaknya dia masih bisa merasakan menjadi orang tua bersama Marva.
Vio menghela nafas berat.
Inilah akhirnya.
Marva melihat Rei yang keluar dari kafe itu, lalu menggandeng lengan dokter Agam.
"Kamu baik-baik saja, Rei?" tanya Agam.
"Ya," jawabnya singkat dengan senyuman.
Marva melihat senyum itu dari samping.
Marva terus menunggu, berharap Rei berbalik dan mau menoleh kepadanya.
Tapi tidak, perempuan itu tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Benar-benar tidak peduli apakah Marva akan baik-baik saja atau tidak.
Buket bunga itu masih tergeletak di meja. Cincin itu tidak pernah menyapa calon ratunya.
Marva terpuruk di tempat itu.
Ma, apa ini ada campur tangan mama yang berdoa agar aku tidak bersamanya? Selamat, ma ... doa mama lebih dikabulkan.
Di sana, Delia yang sedang memikirkan Marva, merasakan sesak di hatinya. Entah kenapa dia merasa sedih memikirkan anaknya itu saat ini.
Semoga kalian berbahagia. Semoga aku juga akan menemukan kebahagiaanku, batin Rei dan Vio bersamaan.
Yang satu mendoakan yang lain dan mencoba ikhlas melepaskan meski hatinya sangat sakit.
Yang lain mendoakan yang satu, dan berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk semuanya.
...🌺🌺🌺...
...TAMAT...
Dah, tamat ya. Jangan dihapus dari favorit, ya. Mungkin nanti aku kasih ekstra part, atau apa gitu.
Mungkin ada yang mau lanjut, ada juga yang lega akhirnya tamat juga nih cerita🤣
Ada banyak yang mau aku sampaikan, tapi dah segini saja, intinya aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua pembaca setiaku dari berbagai tim.
Ini benaran tamat, segini saja?
Kalau panjang-panjang nanti kalian bosan.
Sampai jumpa di ceritaku yang lain, Insya Allah.
Sekali lagi makasih buat semua pembaca, juga yang sudah kasih like, komen, hadiah, vote, bintang lima.
Ada ektra part atau enggak, gimana nanti ya.