Mother

Mother
159 Tidak Sanggup


Tidak ada yang sanggup untuk melakukan aktivitas. Freya sudah dipindahkan ke ruang ICU dengan kondisi yang memprihatinkan.


Rei menunduk dalam, ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat neneknya juga terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.


Dia menggigit bibirnya dalam-dalam, berusaha menahan isak tangis. Karena kalau satu orang menangis, maka yang lain akan ikut menangis, dan akan membuat keadaaan seolah tak memberikan harapan.


Bukan berarti mereka sudah tidak ada yang menangis lagi.


Air mata itu masih mengalir, masih sama derasnya.


Mata itu semakin bengkak.


Paru-paru terasa sesak untuk menarik nafas.


Jantung seolah diremas dengan tanpa ampun.


Tangan seperti mati rasa untuk bergerak, terkulai tidak berdaya seperti tidak lagi memiliki nadi.


Kaki seolah lumpuh, tidak sanggup berjalan untuk menghampiri satu sama lain.


Mereka saja seperti ini, lalu bagaimana yang di dalam?


Yang memang tidak bisa melakukan apa-apa.


Senyum terakhir yang mereka lihat itu ....


Tidak!


Mereka tidak sanggup memikirkan apa yang terlintas dalam benak mereka.


Selain orang-orang di klinik itu, mereka yang ada di apartemen itu yang terakhir bertemu dengan Freya.


Lalu bagaimana dengan keluarganya?


Adakah Freya meninggalkan kata-kata perpisahan kepada mereka?


Sempat kah Freya memeluk mereka?


"Daddy, Chiro mau mommy ...."


Kalimat pertama yang mereka dengar, menyadarkan bahwa ada seseorang yang harus diberi pengertian tentang apa yang terjadi saat ini.


Chiro memang masih kecil, tapi cerdas. Dia pasti tahu apa yang sedang terjadi dengan mommy-nya saat ini. Tapi yang namanya anak kecil, tetap saja anak kecil. Mereka akan tidak sabar menunggu apa yang mereka mau.


Seperti Freya yang akan mengajak Chiro jalan-jalan di tahun baru.


Terjatuh dari tempat tidur saja ngilu.


Terjatuh dari tangga saja bahaya.


Lalu bagaimana dengan dia yang jatuh dari jembatan dengan ketinggian seperti itu?


Mobil itu terjun bebas ke sungai, menghantam dengan keras bebatuan, belum lagi harus tergenang air sungai.


Bagaimana kalau mobil itu langsung meledak saat menghantam batu?


Sudah pasti bukan rumah sakit yang mereka datangi, tapi pemakaman.


"Tuan, Nyonya, dan para nona, kami bawakan makanan dan minuman."


Asisten Arby, bersama Jasmine (sekretaris Arby), dan beberapa dokter membawakan makanan dan minuman untuk mereka.


"Chiro makan dulu, ya," ucap Arby.


Chiro diam, sambil berpikir.


"Daddy juga makan."


"Chiro dulu, daddy belum lapar."


"Chiro juga tidak lapar, tapi ingat kata mommy. Harus nurut apa kata daddy. Mommy bilang kalian harus makan yang teratur, jadi kalian juga harus nurut apa kata mommy Chiro. Kalau enggak nurut, nanti Chiro adukan pada mommy biar mommy enggak temanan lagi sama kalian," teriak bocah itu sambil menangis.


Arby memejamkan matanya.


Freya sangat tahu apa kelemahannya.


Selain Freya, tentu saja Chiro.


Freya memanfaatkan Chiro untuk mengendalikan Arby.


Begitu juga sebaliknya, Freya memanfaatkan Arby untuk mengendalikan Chiro.


Chiro harus nurut apa kata daddy, ya.


Jaga Chiro baik-baik, jangan biarkan Chiro menangis terlalu lama.


Jangan membiarkan Chiro menangis terlalu lama berarti harus menenangkan anak itu, menghiburnya, juga menuruti apa maunya.


Dia memang selalu cerdas.


Dan Arby yang sangat mencintai Freya, tentu saja akan mengikuti apa perkataan perempuan yang sedang berjuang hidup dibantu dengan berbagai alat medis itu.


Sadarlah Sayang, ada aku dan Chiro yang menunggumu. Kalau kamu tidak mau Chiro menangis terlalu lama, maka kamu sendiri yang harus melakukannya, karena aku juga tidak sanggup menahan kesakitan ini.