
Alhamdullilah, pop Mother sudah 1M. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mendukung cerita ini dalam bentuk apa pun 😊😊😊
Semoga like dan fav-nya juga bisa mencapai M.
Semoga ceritaku yang lain juga semakin lancar, ya.
.
.
.
"Marva, Marva!"
Marva diam saja saat Rei memanggilnya. Pria itu jalan dengan tergesa-gesa.
"Marva, aku mau bertemu dengan anak-anak. Jangan selalu menghindar, Mar."
Rei sampai harus berlari kecil untuk mengejar Marva, karena langkah pria itu lebar dan cepat.
"Marva, ish! Jangan diam saja."
Entah kenapa Rek merasa sekarang Marva berubah dan jadi menyebalkan.
"Kak Marva! Berhenti enggak, Kak!"
Mendengar Rei yang memanggilnya dengan sebutan kak Marva, Marva langsung berhenti.
"Aku sibuk, Rei. Tidak ada waktu untuk meladenimu."
Rei terhenyak mendengar kata-kata Marva. Matanya mengerjap-ngerjap lucu.
"Meladeniku? Memangnya apa yang aku lakukan? Aku kan hanya mau bertemu dengan kamu. Jangan kamu halang-halangi aku untuk bertemu dengan mereka."
"Aku tidak menghalangi kamu, tapi aku memang sibuk. Aku pergi dulu."
"Tunggu, jangan pergi dulu!"
Rei menahan lengan Marva, agar pria itu tidak pergi begitu saja.
"Lepas, Rei."
"Enggak!"
"Enggak!"
"Cieee, kebalik nih, ye. Dulu siapa ya mengejar, sekarang siapa yang dikejar. Mar, kamu jangan pura-pura cuek begitu, nanti kalau dicuekin lagi, nangis darah!"
Marva mendengkus mendengar kata-kata Arby.
Arby sialan!
"Rei, kesepian ya, enggak ada Marva. Tinggal bilang i love you, ribet amat!"
Wajah Rei memerah, dia ingin menjawab Arby, tapi pria itu langsung pergi begitu saja.
"Aku mau bicara sama kamu," ucap Marva pada akhirnya.
Mereka kini duduk di kafe.
"Langsung saja. Aku dan anak-anak akan pindah ke luar negeri."
"Apa? Kamu ingin memisahkan aku dengan mereka lagi? Apa sebegitu bencinya kamu padaku hingga kamu dendam padaku?"
"Aku tidak ada niat memisahkan kalian, juga tidak dendam. Jangan berpikiran buruk, Rei!"
"Tapi aku mau bersama anak-anak."
"Aku sudah menawarkan kamu untuk bersama anak-anak. Aku mengajak kamu kembali, agar kamu dan anak-anak bisa bersama. Agar kamu punya alasan untuk ikut bersamaku, tapi kamu menolaknya. Seharusnya kamu mengerti itu!"
Rei diam, pikirannya sibuk membayangkan kalau kembali harus terpisah dengan Radhi dan Raine.
"Kamu bisa sesekali menjenguk mereka. Sekarang kamu punya uang untuk ke luar negeri, kan. Atau aku yang akan membiayai perjalanan kamu."
"Bukan itu, Mar!"
"Aku saja tidak tega membiarkan anak-anak memiliki dan dibesarkan oleh ibu sambung, tapi kamu malah ingin memberikan ayah sambung untuk mereka. Kamu memiliki kesempatan untuk membesarkan anak-anak kamu sendiri, tapi kamu menolaknya. Aku tidak menyangka ternyata kamu itu pintar-pintar bodoh!"
"Cukup, Marva!"
"Besok aku akan membawa anak-anak ke tempat kamu. Jangan mencoba untuk mempengaruhi mereka untuk tidak ikut bersamaku. Asal kamu ingat, mereka lebih menyayangi aku daripada kamu. Mereka akan lebih menurut padaku daripada kamu. Aku yang membesarkan mereka, bukan kamu. Kau tahu, kamu memang ibu biologis mereka. Suatu saat nanti, saat mereka dewasa, mereka akan bertanya kenapa kamu tidak mau bersama mereka. Toh, perceraian kita bukan karena aku yang selingkuh. Kamu seharusnya bersyukur, sebagai istri kedua, kamu sudah aku beri banyak kesempatan. Tapi kamu menyia-nyiakannya. Ternyata kasih sayang kamu tidak sebesar itu kepada anak-anak. Vio saja, yang bukan ibu kandung mereka, ingin selalu membesarkan anak-anak. Kamu yang sudah diberikan kesempatan memiliki anak dan membesarkannya, justru menolak. Apa itu namanya tidak bersyukur?"
Rei merasa tertohok mendengar perkataan Marva.
Kenapa selalu aku yang disalahkan?