Mother

Mother
62 Tegang


"Aku ada kabar baik untuk kalian." Naya menatap wajah sahabatnya satu persatu.


"Apa?"


"Kita terpilih untuk mengikuti seminar internasional."


Keempat sahabatnya bersorak bahagia, tentu saja mereka sangat senang. Tidak semua dokter bisa mengikuti seminar ini, apalagi mereka masih sangat muda.


"Tapi bukankah seminarnya di Jakarta?"


"Iya.Jadi kita bersiap-siap saja."


"Terutama kamu, Rei."


Mereka tahu apa yang dimaksud oleh Naya.


"Jangan takut, apa pun yang terjadi denganmu ke depannya, hadapi dengan berani. Tidak boleh lemah apalagi sampai ditindas."


REI mengangguk mantap, bertahun-tahun bersama dengan Naya, tentu saja dia belajar banyak hal. Hidup bukan hanya masalah pintar atau bodoh. Pintar pun bukan hanya masalah pintar secara akademis, tapi bagaimana menyikapi masalah.


Tibalah mereka di bandara Jakarta. Cuaca yang terik langsung menyambut kedatangan lima perempuan muda dan cantik itu.


"Kita langsung ke hotel saja. Pegel bangat badan aku," keluh Letta.


"Memangnya kalau bukan ke hotel, mau ke mana?"


"Ke mall."


"Ya ampun, Let. Yang benar saja kamu mau ke mall."


"Kan sudah lama kita enggak ke mall ... mall Jakarta, maksudnya." Letta tertawa melihat wajah kesal teman-temannya itu.


Di kota yang sama, berbeda tempat.


"Radhi, Raine, sudah dong mainnya, mama capek nih."


"Nanti dulu, Ma. Kami mau menunjukkan mainan-mainan kami sama Chiro."


"Chiro?"


"Iya, nanti Chiro mau ke sini bersama para uncle."


Tidak lama kemudian Chiro datang bersama daddy dan para unclenya.


"Chiro lihat, kami punya mainan baru."


Chiro diam saja, anak itu masih dalam gandengan daddynya yang sangat posesif.


"Ayo Chiro, kita main."


Tetap saja Chiro diam, dia sepertinya sangat enggan bicara dengan siapa pun. Anak itu sedikit melirik Viola.


"Kenapa Chiro?" tanya Viola lembut.


"Aku juga mau main bersama mommy. Kenapa mommy belum pulang."


Hening, tidak ada yang menjawab yang sebenarnya pernyataan, bukan pertanyaan.


"Chiro, kamu boleh menganggap mama kami sebagai mommy kamu."


"Mana sama. Mommy aku ya mommy aku, mama kalian ya mama kalian. Apa kalian akan menganggap perempuan lain yang bukan melahirkan kalian sebagai mama kalian? Dan tidak mengakui mama kandung yang melahirkan kalian?"


Tubuh Viola gemetaran, hatinya menjadi kalut mendengar perkataan bocah yang masih sangat kecil tapi cerdas ini. Dia melirik Marva yang juga diam saja. Bahkan kakek dan kedua orang tua Marva juga diam mendengarkan itu.


Mau marah?


Apa pantas marah pada anak kecil yang berkata apa adanya?


"Benar, kata ibu guru, kita harus menyayangi orang tua kandung kita. Apalagi mama yang sudah melahirkan kita ke dunia. Ya kan, Radhi?" tanya Raine.


"Iya, kita pasti sangat sayang sama mama kandung kita, Rain."


Radhi dan Raine mendekati mendekati Chiro dan memeluk saudaranya itu.


"Nanti mommy Chiro pasti pulang."


"Iya, sebentar lagi pasti Chiro bertemu dengan mommy," ucap Chiro yakin.


"Ayo kita main. Tadi ayah membelikan kami mainan baru."


"Aku juga punya banyak mainan. Setiap kali ke luar negeri, daddy akan membelikan aku mainan yang banyak."


Ketiga anak kecil itu lalu pergi ke taman belakang, meninggalkan para orang dewasa dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk.


Sejak tadi, Viola menunduk. Dia tidak ingin Rei kembali. Tidak ingin anak-anaknya bertemu dengan perempuan itu. Memang bukan dia yang melahirkan si kembar, tapi dia menyayangi keduanya layaknya ibu kandung sendiri. Selama beberapa tahun ini, semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Marva juga selalu bersikap baik padanya selain dia sibuk dengan pekerjaan, tapi tidak pernah ada yang menyebut nama perempuan itu di rumah ini, termasuk Marva, meski hanya mengigau juga tidak pernah.


"Ada makanan enggak, Tan?" tanya Ikmal yang memecah keheningan.


Tidak lama kemudian makanan dan minuman datang, tayang memang baru saja dikeluarkan dari oven.


Radhi dan Raine masuk saat mencium aroma kue itu, disusul oleh Chiro.


"Chiro, coba kue ini. Ini enak sekali, tapi ayah dan mama tidak terlalu menyukainya," tutur Raine sambil menyuapi kue ke mulut Chiro.


Chiro melihat kue-kue yang ada di atas meja.


"Aku juga suka kue-kue tradisional, tapi daddy tidak terlalu suka."


"Benarkah?"


"Iya. Mommy aku juga suka kue-kye ini."


"Kamu tahu dari mana, kan kamu belum pernah ketemu sama mommy kamu."


"Muka aku mirip daddy, sebagian lagi pasti mirip mommy. Jadi kalau kesukaan aku berbeda dari daddy, berati aku mewarisinya dari mommy aku, kan."


Radhi dan Raine diam, berpikir.


"Apa kita bukan anak ayah dan mama, ya?"


"Kalian ini bicara apa? Tentu saja kalian anak ayah, jangan bicara seperti itu lagi, ya!" bantah Marva dengan cepat.


"Ayo, kita bawa saja kue ini ke belakang."


"Eh tunggu, terus bagaimana dengan uncle?" tanya Marcell.


"Uncle minta saja di dapur, kue-kue ini buat kami."


Setelah kepergian ketiganya, Vian mengusap dadanya.


"Mereka bertiga yang bicara, kenapa aku yang tegang? Anjir, jantungku deg-degan."