
Mereka diam mendengar perkataan Rei.
"Banyak yang mendekati kami saat di luar negeri. Mereka tampan dan kaya, punya pendidikan dan pekerjaan yang bagus. Tapi, tentu saja kami tidak mau sembarangan. Bisa saja kami jalan dengan salah satu dari mereka, sekedar untuk selingan di saat melepas lelah. Tapi tidak, kami tidak mau memberikan harapan, atau diberikan harapan palsu. Kami bisa bersenang-senang dengan cara kami sendiri. Nania memang terlihat centil, tapi dia tidak asal comot pria. Kami, punya masalah sendiri-sendiri mengenai cara pandang kami terhadap pria. Kalian lah, yang membuat kami seperti ini! Aku dan Freya tahu bagaimana rasanya terpaksa menikah, apa kalian juga mau membuat Nania dan Aruna, bahkan Nuna seperti itu?"
Rei pergi meninggalkan mereka, yang diam tanpa kata.
Ya, ada sebab ada akibat!
"Ck ck ck, tuh, benar kan kataku!" ucap Nico dramatis.
πππ
Waktu berlalu, terasa singkat dan cepat untuk hati yang bahagia, seperti Marva dan Rei yang menjalani pernikahan mereka dengan saling mendukung.
Marva selalu menunjukkan perhatiannya pada Rei. Jika dia bisa pulang cepat, dia akan menjemput Rei dari klinik. Berkencan berdua saja di akhir pekan.
Kencan
Hal yang dulu tidak pernah mereka lakukan sebelum menikah.
Pernikahan pertama yang terjadi begitu saja tanpa ada tahap pengenalan lebih dulu.
Pernikahan kedua uang terjadi dadakan karena tipuan.
Ngomong-ngomong soal tipuan, biar saja itu menjadi rahasia sampai mati antara Marva dan saudara-saudaranya, juga om mereka dan Agam.
"Selamat pagi," sapa Rei sambil mengecup pipi Marva, membuat pria itu tentu saja senang. Selama ini, Rei tidak pernah berinisiatif menciumnya lebih dulu.ereka turun ke bawah, dan di meja makan sidah tersaji sarapan yang dibuat oleh Marva.
Akhir-akhir ini, Marva juga sangat suka memasak, dan rasa masakannya tentu saja mengalami perkembangan. Perusahaan yang dipimpin oleh Marva juga mengalami perkembangan pesat, membuat kakek dan kedua orang tuanya merasa senang.
"Kamu belum hamil lagi?" tanya Elya, di siang itu saat mereka sedang mengadakan kumpul keluarga.
"Belum Ma, doakan saja."
"Nanti kalau kamu hamil, tinggal bersama kami, ya!"
"Enak saja, enggak bisa begitu dong! Mereka harus tinggal bersama kami. Kami kan juga mau merasakan masa-masa kehamilan Rei," ucap Yujin.
Yujin dan Frans saling menatap, menunjukkan sikap todak mau mengalah meraka. Rei, Marva dan yang lain menghela nafas. Yujin meledek pada Frans.
"Sekarang saja, peduli, minta disuruh datang terus, dulu ke mana saja?" sindir Yujin.
Frans diam saja, dia sudah biasa selalu disindir dan dicap jelek.
Yang penting saat ini, kebahagiaan mereka semakin lengkap. Keluarga semakin melebar, dengan menikahnya Marva dengan keturunan Yujin, yang salah satu sahabat Frans.
πππ
Waktu semakin berlalu lagi.
Udara sejuk menerpa wajah mereka. Tangan Marva dan Rei sejak tadi tidak berhenti bergandengan.
"Gandengan mulu, apa enggak karatan itu tangan?" tanya Vian.
"Selamat ulang tahun, sayang-sayangnya bunda. Terus menjadi anak kesayangan bunda, ya."
Yang paling bahagia di sini tentu saja Marva. Tidak tahu dengan cara apa lagi dia harus bersyukur. Dia selalu berdoa, agar mereka selalu bersama sampai tua, memiliki cucu bahkan cicit.
"Ini hadiah untuk kalian, Kak Marva juga bisa ikut membukanya," ucap Rei.
Mereka membuka kotak itu dengan antusias.
"Apa isinya jam tangan kembar?"
Rei diam saja, hanya senyum lebar yang bisa dia berikan.
Marva meraih benda itu, dan matanya langsung bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Ini hadiah paling bagus untuk si kembar, bahkan untukku."
Diangkatnya pemberian Rei itu tinggi-tinggi.
"Rasakan kamu Arby, aku sudah mau punya anak tiga. Kamu baru satu, dong!" teriaknya.
Hening sesaat, lalu suasana menjadi heboh dengan teriakan dan ucapan selamat.
Arby dan Chiro sama-sama manyun. Mereka sama-sama melirik Freya yang hanya tertawa.
Kebahagiaan apa lagi yang kurang?
Bisa kumpul keluarga dan sahabat, saling menjaga dan menyayangi.
Dari semua ini, Rei merasa bersyukur.
Semua orang tentu menginginkan kehidupan yang sempurna. Masalahnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, apa pun itu.
Tapi ....
Bukankah lebih baik menderita dulu baru bahagia kemudian.
Menangis dulu baru tertawa selanjutnya.
Apa pun masalahnya, setiap orang pasti lebih menyukai happy ending dari pada sad ending, walau kita juga tidak bisa mengelak dari takdir Yang Maha Kuasa.
Setiap orang punya cara sendiri untuk mencapai kebahagiaan.
Dan seperti inilah jalan Rei dan Marva bahagia.
.
.
.
...π»TAMATπ»...