
"Kamu masih bisa memiliki anak-anak dengan suami baru kamu, Rei. Apa sekarang kamu mengerti kenapa aku seperti ini?"
"Aku yakin kamu akan mendapatkan pria lain yang akan menerima kamu. Kamu masih muda, bahkan lebih muda dari aku. Kamu cantik dan punya karir yang bagus. Sedangkan aku?"
"Banyak janda yang bisa menikah lagi dan hidup bahagia dengan suaminya yang baru. Tolong aku Rei, hanya kamu yang bisa menolong aku dan yang tahu tentang kekurangan aku."
"Jika saja aku bisa memiliki anak, aku tidak akan secemas ini. Tolong jangan ceritakan ini pada siapa pun."
"Aku tidak akan menceritakan ini pada siapa pun."
Bagaimana bisa Rei menyebarkan aib dan kekurangan seorang perempuan? Dia juga perempuan.
Tidak bisa memiliki keturunan adalah hal yang paling mengkhawatirkan dalam pernikahan selain perselingkuhan. Tidak bisa memiliki keturunan bisa menyebabkan orang selingkuh bahkan bercerai. Berapa banyak pasangan yang bisa menerima pasangannya yang dinyatakan mandul?
Ada, tapi pasti tidak banyak dan orang itu benar-benar tulus.
Tapi apa benar kakek Frans dan orang tua Marva tidak tahu?
"Kamu yakin orang tua Marva dan kakek Frans tidak tahu tentang ini?"
"Iya, aku yakin. Aku memeriksakan diri di luar negeri. Itulah sebabnya sampai saat ini aku belum juga memiliki anak. Tapi setelah berita tentang kamu tersebar, mungkin orang-orang akan mencibir aku. Mereka akan bertanya-tanya kenapa sampai sekarang belum hamil juga, sedangkan Marva sudah jelas tidak mandul."
Inilah yang benar-benar disebut sebagai harga yang harus dibayar mahal untuk mencapai apa yang diinginkan.
Rei rela harus merusak nama baiknya agar mendapat pengakuan sebagai ibu kandung si kembar, tapi apa dia harus senang dibalik kesedihan perempuan lain?
"Sekarang kamu mengerti kan kenapa aku terlihat egois dan menyebalkan?"
Rei jadi sakit kepala.
Janji?
Apa dia bisa berjanji?
Rei berpikir, benar-benar berpikir.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Bukan karena aku aku merebut Marva dan kembali padanya. Tapi karena aku tidak mau mendahului takdir Tuhan. Bukankah manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan juga yang menentukan? Seperti dulu. Dulu aku berencana menjadi arsitek, tapi malah mengambil langkah lain. Dulu aku tidak pernah berencana menikah muda, apalagi memiliki anak di usia semuda itu. Bahkan aku bisa menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai. Jangankan cinta, kenal lebih dulu saja tidak. Dari situ aku belajar, kalau itu memang sudah takdir untuk aku."
"Apa kamu mencintai Marva?"
Rei diam.
Dia tidak pernah memikirkan tentang pria. Kehadiran Marva selama ini tidak terlalu dia tanggapi karena dia terlalu fokus dengan anak-anak yang selalu Marva ajak.
Dia juga hanya dekat dengan dokter Agam di luar para lelaki hanya selalu mendekat dengan sahabat-sahabatnya.
"Aku harap, kamu jangan salah paham lagi. Aku juga tidak akan tahu dengan apa yang terjadi nanti. Aku juga tidak mau terbebani dengan janji yang kamu minta. Kamu bicarakan saja ini dengan Marva."
"Kalau Marva dan keluarganya tahu, dia akan semakin punya alasan untuk mengajak kami berpisah. Tolong aku, Rei. Hanya kamu yang bisa aku harapkan. Tolong aku!"
.
.
.
Selamat merayakan lebaran idul adha.