Mother

Mother
54 Selingkuh


Seorang pria tampan sedang menggendong anak laki-lakinya yang sedang memegang mainan. Anak itu tidak mau digendong oleh siapa pun.


Sekarang adalah hari ulang tahun Radhi dan Raine yang pertama. Keluarga besar sudah berkumpul. Kakek nenek, opa oma, para om tante dan sepupu-sepupu duduk di taman belakang membentuk lingkaran.


Semua terlihat ceria, hanya ada dua orang terlihat lesu.


Marva, Arby, Ikmal, Vian, dan Marcell duduk sambil berbicara, dan yang terlihat lesu itu adalah Marva dan Arby, yang sama-sama menggendong anak laki-laki mereka.


"Pokoknya aku akan mencari Freya, mau ke ujung dunia pun, aku akan mencarinya!" Dia memeluk Chiro dengan posesif, seolah takut kalau anaknya itu juga akan pergi meninggalkannya.


Mereka melihat wajah Arby yang dingin. Tidak ada lagi senyum di wajahnya kecuali untuk anaknya.


"Tapi Ar ...."


"Kalian enggak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan istri!" ujarnya dengan kesal.


"Kata siapa aku enggak tahu. Aku juga ditinggalkan istriku, dan aku tahu bagaimana rasanya," ucap Marva.


Mereka langsung menoleh ke arah Marva.


"Memangnya Viola pergi ke mana?"


"Viola?"


"Iya, kalau dipikir-pikir, aku dari tadi tidak melihat dia," kata Ikmal.


"Viola di kamar mandi."


Arby yang duduk paling dekatndengan Marva langsung menoyor pria itu.


"Ditinggal ke kamar mandi saja kaya ditinggal ke dunia lain! Kalau Viola pergi tanpa jejak seperti Freya, baru kamu boleh frustasi!" ucap Arby dengan ketus.


Marva tersadar dengan ucapannya. Dia melihat kakeknya dan kedua orang tuanya yang melihat dia dengan tatapan tajam.


Tidak lama kemudian Viola datang. Dia mengambil alih Raine dari tangan Delia dan duduk di sebelah Marva.


Arby memandang Radhi, Raine, Marva dan Viola bergantian dan itu cukup lama.


"Kenapa sih, Ar? Melihat mereka sampai begitu banget."


"Mar, mereka kembar, kan?" tanya Arby.


"Ya iya, lah. Segala nanya lagi!"


"Jangan-jangan mereka tertukar!"


"Sembarangan! Ketukar dari mana, coba?"


"Yakin enggak ketukar?"


"Ck, jangan bikin kesal, Ar!"


Sejak ditinggal sama Freya, Arby memang sangat menjengkelkan.


"Jangan panggil aku Ar atau Arby. Panggil aku Erlangga, ngerti enggak, sih!"


"Sudah-sudah, jangan pada ribut!"


"Aku yakin, Radhi bukan anak kamu, Mar."


"Anak aku, sialan!"


"Berati kamu selingkuh!"


Deg


"Maksudnya apa, jangan semabarangan."


"Ketukar enggak, selingkuh enggak. Berarti bukan anaknya Viola!"


Deg


Deg


Deg


"Jangan asal kamu kalau bicara. Atas dasar apa kamu bicara begitu?" Vioal terlihat sangat marah.


"Coba kalian lihat ... Raine mirip sama Marva. Nah Radhi, mirip sama siapa coba? Tetangga? Anak tuh kalau enggak mirip sama mamanya ya mirip sama papanya, ya kalau enggak mirip kakek nenek om tante yang masih ada hubungan keluarga ... jadi kalau Raine mirip sama ayahnya, Radhi mirip mamanya, dong. Tapi gak mirip sedikit pun tuh sama Viola, berarti Viola bukan anak Viola ...."


Deg


Deg


Deg


Entah jantung siapa yang berdetak sangat cepat saat ini. Mereka mendengar perkataan Arby yang tidak ingin dipanggi Arby, tapi Erlangga. Mereka lalu memperhatikan wajaharva, Viola, Radhi dan Raine. Benar juga apa yang dikatakan Erlangga.


"Lihat dong Chiro, wajahnya mirip aku dan Freya. Pintar banget kan dia, masih kecil sudah adil. Enggak mau pilih kasih. Mirip daddy mommynya. Orang-orang juga langsung tahu kalau dia anak kami, tanpa harus bertanya. Dia enggak mau bikin orang tuanya sedih kalau mirip salah satunya saja, takut enggak diakui." Erlang berkata dengan bangga, namun sesast kemudian wajahnya terlihat sedih.


"Chiro enggak mau aku melupakan Freya. Wajahnya akan selalu mengingatkan aku pada Freya." Pria itu mengusap ujung matanya yang sudah basah.


Arlan dan Elya sedih melihat anaknya yang seperti ini.


"Tes DNA, sana!" kata Arby lagi.


"Sebenarnya ...."


"Hentikan, Marva!" putus Frans sebelum Marva membeberkan semuanya.


"Tapi ...."


"Cukup!"


"Enggak perlu dijelaskan, orang pintar juga tahu dan bisa menilai. Dan beruntungnya aku orang pintar, jadi enggak bisa dibodoh-bodohi!" sekali lagi Erlang berkata. Suasana menjadi tidak enak.


Pria yang sudah memprovokasi suasana itu terlihat santai tanpa merasa bersalah. Dia mengecup-ngecup pipi Chiro.


Viola mengepalkan tangannya. Inilah yang dia takutkan. Keluarga saja sudah seperti ini, bagaimana nanti kalau orang luar tahu?