Mother

Mother
188 Oh


"Halo?"


"Marva, kamu datang ke mansion bersama Radhi dan Raine, mama kamu sedang sakit beberapa hari ini."


"Apa? Mama sakit? Kenapa ayah tidak bilang padaku, kenapa mama bisa sakit?"


"Ya gara-gara kamu mama kamu sakit. Karena terlalu memikirkan anak tidak berbakti seperti kamu!"


"Jangan mulai lagi deh, Yah!"


"Cepat kamu datang bersama cucu-cucu ayah!"


Kurang dari dua jam kemudian, Marva tiba bersama Radhi dan Raine. Tidak hanya mereka, tapi juga ada si biang rusuh dan para pemandu sorak nya, kecuali Mico.


"Mama sakit apa? Kenapa bisa begini?" tanya Marva sambil memeluk mamanya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya bermimpi buruk saja."


"Mimpi buruk apaan, Tan?" tanya Arby.


"Enggak apa-apa."


Delia tidak mungkin menceritakan tentang mimpi yang tidak menyenangkan itu. Dia takut itu akan terjadi.


"Marva mah enggak usah dipikirin, Tan."


"Marva, kamu tinggal di sini lagi, ya. Mama juga kangen banget sama Radhi dan Raine, mau bermain bersama mereka."


"Maaf, Ma, tapi aku lebih nyaman tinggal di apartemen. Aku juga tidak lama lagi akan pindah ke luar negeri, kan."


Beberapa jam membujuk, tapi tidak berhasil. Delia hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya itu. Mungkin nanti dia akan ikut pindah saja bersama Marva?


"Kami pulang ya, Ma?"


"Jangan buru-buru, masih jam segini."


"Ini sudah jam delapan malam, Ma."


Delia masih asyik bermain bersama Radhi, Raine, dan Chiro. Tidak puas rasanya hanya beberapa jam saja bersama mereka.


"Besok Mama ketemu lagi deh, sama aku dan anak-anak."


Delia mengangguk saja akhirnya.


"Ayah, kita pulang sama Chiro saja, ya?"


"Kalian saja, ya. Ayah biar bawa mobil sendiri."


"Tapi nanti ayah jadi sendirian?"


"Enggak apa. Kalian pulang saja ke tempat Chiro, nanti ayah juga ke sana."


Delia melihat beberapa mobil itu meninggalkan kediamannya. Dia menjadi tidak tenang karena mimpi terkutuk itu.


"Halo?"


Carles diam mendengar orang yang berbicara di telp itu. Dia melirik Delia, dan menghela nafas berat.


"Del, ayo ikut aku sebentar."


"Ke mana?"


"Aku ada urusan sama dokter. Kamu temani aku, ya?"


"Tapi ini sudah malam, loh."


"Besok dokternya mau ke luar negeri. Ini aku juga baru dihubungi."


"Baiklah."


Carles dan Delia pergi ke rumah sakit. Delia sekarang jadi eneg dengan rumah sakit ini. Selain karena memang harus sering datang ke sana, dia juga eneg karena rumah sakit ini sering hadir dalam mimpinya.


Mereka mendatangi tempat yang sudah Delia hapal. Dilihatnya banyak keluarga yang sudah ada di depan pintu UGD.


"Kalian juga di sini, siapa yang sakit?"


"Del, kamu yang sabar, ya. Kita banyak-banyak berdoa saja."


"Maksudnya?"


"Marva tadi kecelakaan."


Delia memejamkan matanya, menghela nafas berat. Meski sudah berkali-kali, tapi tetap saja rasanya sakit.


"Oh."


Mereka mengkerutkan kening.


Oh?


Hanya itu tanggapan dari Delia.


Delia duduk di bangku, dan malah memainkan ponselnya. Dia sudah tidak mau lagi memikirkan mimpi sialan ini!


Mimpi sialan ini tidak pantas untuk ditangisi. Membuang-buang waktu saja, dan malah membuatnya sakit.


"Del, kamu baik-baik saja?" tanya Elya.


Frans yang sejak tadi sudah ada di sana, menatap bingung pada menantunya itu.


"Iya, aku baik."


Bahkan Delia tidak menangis.