
💐💐💐
Tidak lama. Kemudian, saat para perempuan itu sedang menyiapkan kebutuhan mereka, Vio menghubungi Marcell.
“Kamu mau liburan?”
“Iya.”
“Sama siapa saja?”
“Ya sama yang lainnya, lah. Kamu kan tahu sendiri kami sering bersama.”
“Freya ikut?”
“Freya?”
“Iya, Freya ikut enggak?” Marcell yang paham situasi, langsung bilang tidak.
“Ya ampun, degdegan, aku. Kenapa aku seperti orang yang sedang selingkuh dan menutupi kebenaran?” ucapnya setelah Vio menutup telepon itu.
“Kamu kan memang tukang selingkuh,” sindir Zilda, yang sepertinya akan selalu mengingat dan menyimpan dendam kejadian masa lalu.
Rei sendiri juga merasa tidak enak. Karena dia, yang lain harus ikut-ikutan bohong. Sedangkan yang perempuan juga setengah-setengah.
Setengahnya mendukung kebohongan mereka demi Rei, setengahnya lagi merasa kesal karena umumnya mereka adalah kaum perempuan yang pasti akan benci dibohongi.
“Sudah, jangan dipikirkan, semua pasti ada positif dan negatifnya,” ucap Freya yang tahu apa yang dipikirkan Rei dan teman-temannya.
Mereka memang tidak bermaksud membohongi Vio seperti itu, tapi kalau Vio tahu, pasti si kembar akan dilarang pergi. Ini demi anak-anak itu, jika nanti mereka tahu yang sebenarnya, mereka bisa menilai sendiri apakah Rei selama ini memang benar-benar meninggalkan mereka atau masih tetap peduli.
Di satu sisi mereka berbuat jahat pada Vio.
Di sisi lainnya mereka berbuat baik pada Rei.
Dan mereka ada di tengah-tengah, dan sangat sadar itu.
Marva dan Arby satu mobil, tentu saja bersama anak-anak dan pasangan mereka.
Pasangan?
Lebih tepatnya pasangan yang tidak diakui, yang hubungannya masih abu-abu.
Vio yang ada di luar negeri karena urusan pekerjaan merasa gelisah.
Sebaiknya aku berhenti bekerja saja, agar bisa sering bersama anak-anak.
Apakah termasuk Rei dan Marva?
Deg
Jantung Vio berdetak kencang. Sudah berpisah bukan berarti tidak bisa berhubungan baik, kan?
Mereka yang sedang berlibur itu akhirnya tiba di tempat tujuan. Udara sejuk langsung menyambut mereka saat turun dari mobil.
“Halo, para bidadariku yang cantik,” sapa Mico.
“Hai, calon anak-anak papi Mico,” lanjutnya melihat Chiro dan si kembar.
“Amit-amit,” ucap Arby dan Marva.
“Kamu amit-amit atas nama siapa? Vio atau Rei?” tanya Mico, yang mengejek.
“Pasti Rei, Vio kan masih istri kamu,” lanjutnya.
Marva mendengkus karena dia seperti terjebak dengan perkataannya sendiri. Ayah dari Radhi dan Raine itu melirik Rei, yang sedang menggendong Raine yang mengantuk. Sedangkan Radhi memeluk pinggangnya.
Dia seperti ibu mereka. Tapi kan, dia memang ibu mereka.
“Jangan egois, lepaskan saja dia agar dia bahagia.”
“Kamu pikir aku tidak bisa membuat dia bahagia? Mungkin kamu akan memberi banyak kesulitan dari pada kebahagiaan.”
“Freya Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu dan selalu singit padaku?”
“Berani-beraninya kamu memanggil mommy Chiro sayang. Dia bukan sayangnya kamu dan kamu bukan sayangnya dia.”
“Hanya aku yang boleh memanggil dia sayang.”
“Aku bukan sayangnya kamu, dan kamu bukan sayangnya aku.” Arby langsung cemberut mendengar perkataan Freya, yang justru terlihat menggemaskan.
“Chiro, pria ini sedang menikung kamu. Jangan lagi kamu dekat-dekat dengan dia.”
“Menikung? Apa itu menikung?” tanya Chiro.
“Menikung itu belok, Chiro,” jawab Raine yang sudah turun dari gendongan Rei.
“Uncle Mava belok?”
“Huft, maksudnya, dia mau merebut mommy dari kamu,” kompor Arby.