
Suasana pedesaan yang masih asri ini memang benar-benar cocok untuk mereka yang ingin berlibur dari aktivitas yang melelahkan di tengah kota besar.
"Ayo kita ke kebun, sepertinya menyenangkan. "
"Di sini ada air terjun, kita ke sana saja," ajak Mico.
"Kamu tahu dari mana tempat ini, Co? Kalau ada lagi tempat yang seperti ini, aku mau dong membelinya,"
"Tempat ini bisa menjadi milik kamu kalau kita sudah menikah nanti, Honey." Mico tersenyum puas saat melihat wajah kesal Arby yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Ayo kita ke air terjun sekarang."
"Tunggu sebentar lagi, bibi sedang menyiapkan bekal untuk kita."
"Kita ke sana naik mobil atau jalan kaki?"
"Jalan kaki saja. Bisa sekalian lihat perkebunan. Jangan lupa bawa baju ganti, karena kita bisa masuk angin kalau menggantinya setelah kembali ke sini."
Rei langsung menyiapkan kebutuhan anak-anaknya. Dia selalu merasa bahagia melakukan hal kecil seperti ini. Ini sudah cukup baginya, bisa dekat dengan anak-anaknya.
"Ayo!" Marva menggandeng tangan Radhi, sedangkan Rei menggandeng tangan Raine.
Beberapa waktu kemudian
"Kalau tahu jauh begini, kita naik mobil saja tadi. Pasti ada jalan yang bisa di lalui mobil, kan?" tanya Zilda yang sudah kelelahan.
"Kalian kan dokter. Bagaimana kalau bertugas ke pelosok yang tidak ada kendaraannya? Anggap saja latihan."
Marva, Arby, Vian dan Ikmal, termasuk Mico yang bukan seorang dokter, jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau Rei, Freya, Monic, Zilda, Letta dan Marcell harus berjalan kaki ke pelosok-pelosok?
Arby langsung menggendong Chiro, sedangkan Marva menggendong Radhi dan Ikmal menggendong Raine.
"Kamu juga mau aku gendong?" tanya Vian pada Letta, yang mendapat tatapan singit.
Tidak lama kemudian mereka mendengar suara air. Dan udara semakin sejuk.
Para perempuan itu langsung berlari ke arah air terjun.
"Jangan lari-lari, nanti kalian jatuh."
Ketiga anak itu juga langsung turun dari gendongan mereka. Membuka sepatu dan memasukkan sedikit kaki mereka.
"Apa ini dalam?" tanya Raine.
Marva langsung menceburkan dirinya setelah melepas sepatu.
"Ayo, kalian bisa ke sini."
Mereka lalu mendekati air terjun, setelah memastikan semuanya aman.
Radhi, Raine dan Chiro langsung merasakan tubuh mereka yang kejatuhan air dari atas sana.
"Dingin!"
"Ini asik sekali."
Belum apa-apa mereka sudah merasa lapar. Ada banyak bekal makanan dan minuman yang dibawa.
"Rasanya aku ingin tinggal di sini saja," ucap Zilda sambil tiduran di atas batu.
Kesibukan di klinik dan rumah sakit memang membuat mereka sangat lelah. Ketiga anak itu kembali bermain air.
"Co, suruh orang untuk menjemput kita nanti saat pulang. Kasihan anak-anak kalau harus berjalan kaki lagi."
"Tenang saja. Aku sudah mengaturnya."
Marva melihat Rei yang sedang sibuk dengan Radhi dan Raine. Senyumnya mengembang. Jujur saja, dia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya, juga bersama anak-anaknya dan tentu saja bersama Rei.
Mereka memang sering melakukan acara keluarga, tapi tetap saja rasanya berbeda. Dan Marva tahu apa penyebabnya.
Tidak ada Rei.
Tidak ada ibu dari anak-anaknya.
Perpisahan dia dengan Rei bukan karena perselingkuhan atau pihak ketiga. Meski secara tidak langsung Rei lah pihak ketiga antara pernikahan dia dengan Vio. Yang dihadirkan oleh kakeknya sendiri.
.
.
.
Hari Senin, Terima kasih yang mau kasih vote, dan untuk kalian semua yang sudah membaca cerita ini. Tetap dukung cerita-ceritaku ya.
Sehat selalu untuk kita semua