Mother

Mother
192 Apa?


"Bunda!"


"Rei!"


"Bunda!"


"Rei!"


Rei memejamkan matanya, dia bingung spa yang harus dia lakukan. Pikiran dan hatinya tidak sejalan.


"Rei!"


Akhirnya Rei mengangguk, tapi juga menggeleng. Lalu mengangguk, tapi menggeleng lagi.


"Bagaimana?"


"Agam?"


Agam lalu memeluk Rei, mengusap punggungnya. Menatap benci pada orang-orang yang ada di sana.


"Dia tidak akan menikah dengan Marva! Aku tidak akan merestuinya!"


"Memangnya siapa kamu sampai harus memberikan restu pada Rei?" tanya Vio.


"Tentu saja aku memiliki hak untuk memberikan restu pada Rei atau tidak."


"Rei, menikahlah dengan Marva!" pinta Vio sekali lagi.


"Aku ... aku tidak bisa. Maafkan aku."


"Rei, keadaan Marva sudah seperti ini, apa kamu tega dengannya dan anak-anak? Rei, jika yang kamu khawatirkan itu aku, maka aku akan mundur. Ini aku lakukan demi Marva, Rei."


Brak


Pintu terbuka dengan kencang


"Aku tidak merestui mereka!"


"Yujin? Siapa kamu sampai ikut campur dalam urusan keluargaku?" tanya Frans.


"Rei adalah cucu kandungku. Aku akan menikahkan dia dengan orang lain yang lebih layak. Bukan begitu, Agam?"


"Benar sekali ... Kakek."


"Apa? A ... apa maksudnya?"


"Rei adalah cucuku, adik dari Agam. Jadi kami berhak memberikan restu atau tidak. Rei, kami tidak akan merestui kamu dengan Marva!"


"Iya, aku mengerti."


Lalu ....


Entah kenapa ....


Mereka teringat Freya!


"Ayo, Rei!" ajak Yujin, dan mama Marva.


"Rei, tolong Mama. Mama mohon, menikahlah dengan Marva."


Rei tercengang, Delia menyebut dirinya sendiri mama padanya.


"Yujin!"


"Bukankah dulu aku sudah pernah bilang, untuk merestui saja mereka bersama, Frans? Tapi kamu sendiri menolaknya mentah-mentah."


Frans menghela nafas.


"Rei!" ucapnya menyebut nama nama Rei, sambil menatap perempuan yang sudah memberikan dia dua cicit sekaligus itu.


"Bisakah kalian bicara di luar, pasien butuh istirahat!"


Tapi tidak ada yang mendengar dokter itu, mereka sepertinya lupa di mana mereka berada saat ini.


"Rei, kami akan merestui siapa pun pilihan kamu, tapi tidak dengan terpaksa. Jika kamu tidak ingin, maka jangan lakukan. Kalau kamu Mei bersama Marva dengan keikhlasan, maka kami akan merestui kalian," ucap Yujin.


"Bunda, kami tidak akan meminta apa-apa lagi pada Bunda. Kami hanya meminta ini saja, ayo kembali bersama ayah. Kita akan tinggal bersama lagi. Apa Bunda tidak menyayangi kami dan ayah?"


Rei meneteskan air matanya.


Perlahan Marva membuka matanya, air matanya mengalir.


"Rei, maafkan aku. Kalau kamu memang tidak ingin menikah denganku, tidak apa."


Rei lalu melihat Agam, kakek, dan papa mamanya.


"Aku ... aku mau menikah dengan kamu. Tapi ... jangan ceraikan Vio. Jika dia ikhlas menerima aku, aku juga ikhlas dia tetap menjadi yang pertama."


Dalam hati Rei berdoa banyak-banyak, semoga ini menjadi pilihan yang terbaik.


"Tunggu!" sela Yujin.


"Kami tidak mau hanya pernikahan siri. Kami mau Rei diakui secara umum, dan keluarga kalian melakukan pernyataan secara langsung kalau Rei bukanlah pihak kedua antara Marva dan Vio. Kami mau pernikahan yang sah secara agama dan hukum."


"Rei juga tidak boleh tinggal di kediaman Arthuro, tapi tinggal bersama kami."


"Kalau Marva memiliki dua istri, kami mau dia bersikap adil. Vio juga tidak boleh menyalahkan Rei di kemudian hari. Ikuti semua peraturan yang berlaku di keluarga kami, bagaimana?"