
Marva mengambil cincin berlian yang dia pesan khusus dari Arby. Wajahnya berbinar saat melihat cincin itu, apalagi ketika membayangkan dia akan memasangkan cincin indah itu di jari manis Rei.
Jantung Marva berdegup kencang. Dia seperti remaja yang akan menembak gebetannya. Bahkan dia merasa ini pertama kalinya dia melamar seorang perempuan, dan perempuan itu adalah mantan istrinya sendiri. Tidak lupa juga Marva membeli bunga.
"Ala yang kurang?" tanya Marva pada saudara-saudaranya.
"Kau kurang tampan dibandingkan aku. Juga kurang kaya, kurang hot, kurang ...."
"Apa yang kurang?" Marva langsung memotong perkataan Arby, lebih baik dia bertanya dengan yang lain saja.
"Kamu kurang dukungan dari keluarga," jawab Ikmal.
"Bukan kurang, tapi memang tidak di dukung, bego!" sahut Marcell.
Marva memejamkan matanya, kenapa dia punya saudara sekurang ajar ini?
"Kenapa kalian sangat menyebalkan?"
"Kamu yang menyebalkan. Apa kamu sedang menyindir kami? Sudah tahu kami belum pernah melamar seorang perempuan."
"Iya juga ya, percuma aku bertanya dengan jomblo ngenes seperti kalian."
"Kamu yang ngenes, diterima saja belum."
"Tahu nih, mampus kalau ditolak!"
☘️☘️☘️
"Aku mau bertemu dengan kamu."
"Baiklah, nanti sore datang saja ke kafe depan rumah sakit."
Dan di sinilah Marva dan Rei bertemu.
"Ini untuk kamu, dan ayo kita menikah."
Marva memberikan buket bunga itu, dan langsung mengucapkan keinginan hatinya. Rei mengkerutkan keningnya, apa pria ini tidak bisa basa-basi lebih dulu."
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menikah denganmu."
Deg
Apa perempuan ini tidak bisa berbasa-basi dulu? Pikirnya.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Kamu bukannya tidak bisa, tapi tidak mau."
"Aku tidak bisa, dan tidak mau."
"Kenapa?"
"Kenapa harus bertanya kenapa? Ada banyak alasan untuk kita tidak bersama."
"Apa karena Vio? Apa karena keluargaku? Apa karena kamu mencintai pria lain?"
Rei diam saja, karena sebagian besar memang itu penyebabnya.
"Apa sedikit pun tidak ada rasa untuk aku darimu? Apa tidak pernah ada celah bagiku mengisi hatimu?"
"Mungkin karena sebenarnya kita tidak ditakdirkan untuk bersama."
"Tolong jangan seperti ini, Rei. Aku bahkan rela meninggalkan apa pun demi kamu dan anak-anak, agar kita dapat bersama layaknya keluarga utuh dan normal."
"Jangan memaksakan kehendak, Marva. Aku berhak bahagia dengan pilihan aku sendiri, tanpa ada lagi tekanan untuk siapa pun."
"Apa kamu mencintai dokter itu?"
"Dokter Agam pria yang baik. siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya."
Marva menatap Rei dengan pandangan sendu. Apa ini akhir dari perjuangannya. Dia sudah merencanakan masa depannya dengan Rei dan anak-anak mereka.
"Tidak apa kalau kamu tidak mencintaiku, tapi ayo kita bersama."
Marva tidak peduli lagi. Biar saja dia terlihat memohon seperti ini pada seorang perempuan. Biar saja dia dianggap tidak punya harga diri, mengejar perempuan yang sudah sangat jelas menolaknya.
"Apa kamu tidak memikirkan anak-anak kita?"
"Tentu saja aku memikirkan mereka. Bukankah dulu sudah aku katakan padamu. Kita tetap bisa membesarkan anak-anak kita. Kita bisa berteman, tapi tidak untuk bersama. Jangan memaksakan kehendak kamu, Marva, karena itu tidak akan baik. Bukankah kamu sangat tahu akan hal itu?"
Apa kini Rei sedang menyindirnya tentang Vio?