
"Makasih ya, istriku Sayang."
Cup
Marva mengecup pipi Rei yang membuat wajah perempuan itu bersemu merah. Bukan hanya karena dikecup, tapi juga Marva memanggilnya istriku sayang.
Mungkin ini akan menjadi pernikahan yang sesungguhnya.
Marva sudah memutuskan untuk serius belajar memasak. Dia ingin sesekali memasak makanan yang enak untuk anak istrinya.
Juga ....
Nanti kalau Rei hamil dan mengidam makanan, dia bisa memberikan makanan yang enak dan sehat untuk calon bayinya.
Jangan sampai nanti istri dan calon anakku keracunan gara-gara masakan aku.
Memikirkan tentang calon anak, membuat Marva senyum-senyum sendiri.
☘️☘️☘️
Frans, Carles dan Delia mengunjungi Marva ke kantornya. Marva memang tidak selalu tinggal di mansion. Mereka heran sejak tadi Marva selalu senyum-senyum. Hal yang tidak pernah mereka lihat selama ini.
"Apa yang membuat kamu senang, Marva? Dapat proyek baru?"
"Enggak. Aku hanya sedang menikmati belajar memasak."
Mereka langsung tersedak salivanya sendiri.
"Belajar masak? Apa Rei yang menyuruhmu?"
"Bukan. Aku memang ingin bisa masak. Arby bisa masak, Ikmal, Vian bahkan Marcell saja bisa masak. Nanti kalau Rei hamil dan mengidam masakan aku, gimana?"
"Rei hamil lagi?"
"Ya belum, lah. Aku bilang kan, nanti."
"Oh, kirain hamil lagi."
Marva memandang ketiganya dengan serius.
"Jangan lagi menekan dan memaksanya untuk memberikan kalian keturunan yang baru!"
"Kamu jangan selalu berpikiran buruk!"
"Kan Kakek, Papa dan Mama yang membuat aku seperti ini."
"Resepsi pernikahan?"
"Iya. Dulu kan Rei enggak mau ada resepsi, karena Freya masih koma, sekarang Freya sudah sadar, jadi enggak ada salahnya kalau diadakan resepsi. Ini juga demi kebaikan kalian."
"Aku akan membicarakannya dulu pada Rei, kalau dia enggak mau, aku tidak akan memaksa."
"Bujuk dia sampai mau. Malu lah sama orang-orang, masa menikah tanpa ada resepsi, nanti orang-orang berpikir kita jatuh miskin."
Marva menghela nafas berat.
☘️☘️☘️
"Resepsi, apa harus?"
"Ya, enggak harus juga, sih. Aku akan mengikuti kemauan kamu. Kalau kamu enggak mau, juga enggak apa."
Saat ini mereka sedang ada di kafe depan rumah sakit.
"Mau saja, Rei. Minta pesta yang mewah tujuh hari tujuh malam. Porotin saja keluarga mereka, kan mereka yang menawarkan, bukan kamu yang meminta duluan," ucap Zilda dengan cuek.
Monic dan Letta tertawa, sedangkan para pria melirik gadis itu.
"Ya kan Dokter ganteng? Masa ngadain pesta kecil-kecilan, gak level lah, sama keluarga Arthuro yang katanya super kaya itu," lanjut Zilda pada dokter Agam.
Marcell melirik sinis pada dokter Agam. Dia selalu kesal kalau Nania dekat-dekat dengan dokter tampan itu.
"Aku akan membicarakan dulu dengan keluarga aku."
"Keluarga kita sudah pasti setuju, Sayang," ucap dokter Agam.
"Aaa ... aku juga mau dipanggil Sayang."
"Sayang!" ucap Marcell pada Zilda.
"Bukan dipanggil sayang olehmu! Dasar peyang!"
Marcell menghela nafas. Sudah bertahun-tahun dia mengejar-ngejar Nania, apa sekarang saatnya dia menyerah saja?
Dia tampan dan kaya, punya pekerjaan yang bagus. Banyak perempuan yang mengejar-ngejar dia. Kenapa harus terpaku pada satu perempuan yang sudah jelas menolak dan membenci? Kesalahannya di masa lalu enggak fatal-fatal amat, tapi Nania membencinya sampai ke ubun-ubun.
Nanti kamu yang bucin sama aku, baru tahu rasa!