
Mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna. Sepasang suami istri beserta sepasang anak kembar. Berjalan di sisi pantai dan bergandengan tangan. Tanpa tahu hubungan apa yang ada di antara mereka.
Rei berpikir dia seperti pelakor yang sedang mencuri hati anak-anak dari seorang pria. Tapi, sisi egoisnya berkata apa pedulinya. Mereka bukan anak perempuan lain, mereka adalah anaknya.
Marca memang bukan suaminya, dan tidak ada niat dalam diri Rei untuk merebut Marva. Tapi kalau bisa, dia ingin merebut anak-anaknya. Kalau pernikahan mereka adalah pernikahan yang normal, tentu saja hal asuh mereka jatuh pada tangan Rei. Tapi surat perjanjian itu menjadi dasar hukum yang kuat.
Marva melihat kulit putih Rei yang merona karena sinar matahari. Tatapan mata yang teduh yang ... entah kenapa ... menimbulkan getaran di hatinya.
Ponsel Marva berbunyi, dilihatnya nama pemanggil ... Viola ... yang kemudian langsung menyadarkan dia ke dunia nyata, bahwa dia sudah memiliki istri.
Mencari jarak sejauh mungkin, dia langsung mengangkat panggilan dari Viola.
"Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami baik-baik saja. Anak-anak sedang bermain bersama Chiro dan para uncle-nya di pantai."
"Oh begitu. Kapan kalian akan pulang?"
"Belum tahu. Chiro mungkin masih mau di sini lebih lama lagi."
Marva tahu pasti Chiro mau di negara ini lebih lama lagi karena ada Freya. Dan dia sangat berharap, kalau si kembar juga seperti itu, tidak terburu-buru untuk minta pulang.
"Aku akan berusaha menyusul kalian ke sana."
"Baiklah. Bye, Honey."
Marva menghela nafas, dia terpaksa berbohong kepada Viola, karena tidak mau istrinya itu cemburu buta dan menimbulkan pertengkaran di antara mereka.
Siapa yang menyangka semuanya akan seperti ini. Bukan salahku, aku sama sekali tidak tahu kalau para perempuan itu juga ada di sini.
Dia mencari pembenaran dan pembelaan diri sendiri, kalau semua ini di luar keinginannya.
Marva memandang Rei dan anak anak-anaknya di kejauhan. Dari sini, dia bisa melihat mereka dengan luas tanpa curi-curi padang pada mereka.
"Jangan main api kalau tidak mau terbakar!" ucap Ikmal yang lagi-lagi, menyadarkan Marva ke dunia yang sebenarnya.
"Siapa yang main api!"
"Rei memang ibu dari anak-anakmu, tapi dia bukan lagi istrimu. Banyak yang akan menentang hubungan kalian, termasuk Freya. Aku mengenal Freya sejak kecil, jadi jangan membuat masalah dengannya. Kalau kamu membuat masalah dengan Freya, berarti kamu membuat masalah dengan Chiro, termasuk Arby. Jadi, kamu bisa membayangkan sendiri kan bagaimana rumitnya kamu jika tidak pikir panjang."
"Aku kan tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku hanya mau hubungan kami baik-baik saja meski sudah tidak bersama. Bagaimana pun juga, dia adalah ibu dari anak-anakku."
"Baguslah. Kalau seperti apa yang aku pikirkan, kamu akan selalu menyakiti perempuan. Entah itu Viola atau Rei. Dan tentu saja Viola akan mendapat dukungan dari keluarga. Kalau kamu tidak ada perasaan apa-apa pada Rei, maka doakan saja dia mendapatkan jodoh yang baik dan mempunyai anak-anak lagi bersama suaminya."
"Benar, tuh." Vian dan Marcell ikut nimbrung, entah sejak kapan mereka ada di sana dan mendengarkan pembicaraan Marva dan Ikmal.