
Anak-anak semakin berteriak heboh saat melihat apa yang menjemput mereka.
"Uncle Coco memang keren. Terima kasih, uncle."
"Tentu dong, semua untuk anak-anak papa Mico." Tanpa tahu malu, Mico menyebut dirinya sendiri papa. Marva sendiri terlihat biasa-biasa saja, kecuali si tukang cemburu yang bernama Arby Erlangga Abraham itu.
Mereka langsung naik ke kereta itu. Kereta yang suka ada di perumahan yang banyak anak-anaknya.
Mereka satu persatu naik. Melihat ke sekeliling mereka saat kereta itu sudah berjalan. Jalurnya memang berbeda dari yang tadi mereka lalui. Mereka bisa melihat kebun pisang, singkong, ubi, sayur-sayuran lain.
"Bagus banget sih, tempatnya," puji Rei.
"Halah, segini doang. Bagusan juga punyaku. Ada kebun strawberry dan teh. Banyak buah-buahan dan sayuran. Villanya gede, kolam renangnya bagus ... bla bla bla ...," ucap Arby panjang lebar juga tidak lupa memuji dirinya sendiri.
Dengan polosnya Rei membayangkan seperti apa tempat yang Arby sebut tadi. Membuat yang lain merasa gemas, apalagi Marva.
Kereta sesekali berhenti, dan Mico mengambil hasil kebun.
Anak-anak itu langsung memakan pisang ada. Berbagai jenis pisang mereka lihat.
"Sampahnya jangan dibuang sembarangan ya, anak-anak. Masukkan ke sini." Monic langsung memberikan kantong pelastik yang kosong.
Malam harinya mereka makan makanan hasil kebun.
"Enak banget ini. Aku sudah kenyang, tapi bawaannya mau makan terus," ucap Zilda yang diangguki oleh Letta.
"Jadi pengen libur tambahan aku."
"Belum saatnya kalian libur tambahan. Tapi nanti kalian aku berikan cuti di klinik, bukan begitu, ibu direktur?" tanya Freya.
"Setuju. Dokter Dony juga mau menikah, jadi dia punya waktu untuk mengurus pernikahannya dan berbulan madu."
"Iya. Mereka mau membantu di klinik saja itu sudah sangat bagus. Mereka tidak pernah bertanya tentang gaji dan fasilitas apa saja yang diberi."
"Aku sudah mencari tempat yang tidak jauh dari klinik untuk tempat bermalam para dokter dan perawat. Mereka yang masih single bisa tinggal di sana kalau sudah terlalu lelah untuk pulang."
"Biar kami saja yang mengaturnya, kalian para perempuan sudah terlalu lelah untuk mengurus semuanya, apalagi kamu, Freya."
Para pria itu mengangguk. Mereka juga tidak ingin tinggal diam. Bukan karena ingin mencari muka pada para perempuan, tapi ini karena juga mau melakukan kebaikan.
"Aku berencana mau membuat perumahan di daerah sana. Konsumennya bisa dari para dokter dan perawat," ucap Arby.
Malam semakin larut, mereka sudah masuk ke kamar masing-masing. Rei ke luar dari kamarnya pelan-pelan, karena tidak ingin membangunkan anak-anaknya yang dengan kebaikan Marva, bisa tidur di kamar Rei.
Marva sendiri juga tidak bisa tidur. Dia tidak ingin semua ini cepat berlalu. Dia keluar dari kamarnya, dan melihat Rei yang berdiri di balkon.
"Kamu belum tidur?" tanya Marva.
"Belum. Aku sedang menikmati suasana malam di sini. Nanti kalau sudah bekerja, tidak tahu lagi kapan bisa merasakan liburan dan suasana seperti ini lagi."
Marva mengangguk, apa yang dia rasakan juga sama. Mengikuti perasaannya, Marva mendekati Rei dan langsung memeluk perempuan itu.
"Terima kasih. Terima kasih karena sudah melahirkan anak-anak untuk aku. Kamu bunda yang hebat. Aku janji, pengorbanan kamu tidak akan sia-sia."
Marva langsung meninggalkan Rei yang hanya bisa diam mematung.