
Brak
"Kamu dan Vio tidak bisa bercerai begitu saja."
"Kenapa tidak bisa, bisa saja kalau aku mau."
Carles dan Marva sedang berdebat saat ini. Dia melihat kerenggangan hubungan antara Marva dan Vio, terbukti dengan Vio yang tidak pulang-pulang, bahkan tidak ada di rumah keluarganya.
"Tidak ada kata perceraian dalam keluarga kita."
"Bisa. Dulu aku dan Rei berpisah, bahkan kalian sudah mengatur itu sebelum kami menikah. Arby juga berpisah dengan Freya, lalu ...."
"Cukup Marva! Sejak perempuan itu kembali, kamu jadi sering melawan."
"Ini tidak ada hubungannya dengan Rei, Pa. Aku dan Vio memang sudah tidak bisa lagi bersama. Dulu papa kelihatan tidak menyukai Vio, kenapa sekarang malah melarang aku berpisah dengannya?"
Carles diam.
"Pikirkan tentang keluarga kita kalau kalian berpisah, Marva. Sudah cukup keluarga kita mendapatkan masalah akhir-akhir ini."
"Aku sudah memikirkannya baik-baik, Pa. Sebagai orang tua, seharusnya Papa mendukung aku."
"Perempuan itu juga belum tentu mau kembali padamu. Yang papa lihat, dia sangat dekat dengan dokter itu. Semoga saja mereka menikah!"
Marva mengepakkan tangannya. Sebagai orang tua, seharusnya papanya itu mendukungnya, bukan malah mendoakan ketidak bahagiaannya.
Marva melemparkan berkas-berkas yang ada di atas mejanya, lalu melonggarkan dasinya.
Dia menghela nafas berat berkali-kali. Kalau saja yang menentangnya itu orang lain, dia masih bisa mengerti. Tapi ini papanya sendiri. Ingin sekali dia menonjok pria itu, tapi tidak mau durhaka. Marva lalu menyalakan rokoknya, pelarian yang bisa dia lakukan saat ini. Tapi baru dia nyalakan, langsung dia matikan kembali.
Marva lalu masuk ke dalam ruangan pribadinya, di mana ada sarung tinju beserta bantalannya. Dipakainya sarung tinju itu, dan dia mulai melampiaskan kekesalannya dengan membabi buta. Hanya dengan cara ini dia bisa melampiaskan semuanya.
Andai waktu bisa diulang, maka dia akan mengulang semuanya. Mungkin dari sebelum dia menikah dengan Vio. Atau sebelum dia bertemu dengan Rei?
Gadis yang dulu sebenarnya sering dia lihat di jalan dengan sepeda bututnya, lalu lambat laun sepeda itu berganti dengan sepeda baru berwarna merah. Marva sering pergi ke warung itu, warung di mana Rei selalu menitipkan kue-kue buatannya jika Marva tidak ke luar kota atau negeri. Kadang dia akan memborong kue-kue itu dan membagikannya pada orang-orang, ada juga yang dia makan.
Hanya saja Marva tidak pernah tahu di mana Rei tinggal dulu, dan tidak pernah tahu kedekatan Rei dengan Freya.
Rei selalu menatap gadis bersepeda itu. Ingin mendekati gadis itu, tidak tahu kerena apa.
Lalu kesempatan itu datang. Saat Rei tidak sengaja menabrak mobilnya. Lalu dia melihat gadis itu menangis di rumah sakit. Ingin bertanya apa yang membuat dia menangis, tapi tentu saja tidak bisa karena ada kakek dan papanya. Dia merasa iba pada gadis berwajah sendu itu. Ingin mendekat dan menghapus air matanya.
Dia merasa saat itu dia hanya merasa iba. Kami kakeknya mengatakan dia harus menikah lagi demi keturunan. Dan berapa kagetnya Marva saat melihat siapa gadis yang harus dia nikahi itu.
Marva berkali-kali menetralkan degup jantungnya.
Ini pasti hanya mimpi, batinnya saat itu.