Mother

Mother
204 Konflik Batin Marva


"Ingat, jangan lagi libatkan Freya dalam masalah kalian, aku tidak akan membiarkannya!" ucap Arby pada Rei dan Marva.


Vio juga datang membesuk Freya. Freya sejak tadi melihat Rek dan dokter Agam.


"Enak ya, kakak beradik jadi dokter."


"Kamu ingat?" tanya Rei.


"Ingat apa?"


"Kamu ingat kalau aku dan Agam saudara?" Rei tersenyum penuh harap.


"Enggak, tapi kalian berdua memang saudara, kan?"


"Kamu tahu dari mana?"


"Ya, pokoknya aku tahu kalian saudara."


Lalu Freya memperhatikan interaksi antara Vio, Marva dan Rei, juga Radhi dan Raine.


"Radhi dan Raine ini, anaknya Rei dan Marva, ya?"


"Iya."


"Terus, Vio siapa?"


"Istri Marva."


Senyum di wajah Freya langsung menghilang. Dia melihat Rei dan Vio.


"Siapa istri pertama?"


"Vio."


Mereka langsung diam, saat melihat tatapan tidak suka Freya pada Rei.


Tetap saja, orang-orang akan langsung berpikiran buruk tentang istri kedua yang sudah pasti dicap sebagai pelakor.


Marva memang belum menceraikan Vio, karena dia mau mendatangi keluarga Vio. Menikah baik-baik, berpisah pun harus dengan cara yang baik, kan?


Marva menggenggam tangan Rei, mencoba memberikan kekuatan pada istrinya itu. Dia tidak akan membiarkan Rei menderita sendiri karena cibiran orang-orang.


Dia sudah membujuk omnya untuk mengatakan pada mereka kalau keadaanya sudah membaik dan bisa segera pulang. Luka di tangan dan kakinya juga tidak fatal, jadi bisa berobat jalan.


"Maafkan aku, aku akan selalu berada di sisi kamu. Kita akan melewati semua kesulitan bersama, dan membesarkan anak-anak kita dengan baik."


Rei mengangguk paham. Tidak peduli Freya akan bersikap seperti apa kepadanya, dia akan tetap menjadi sahabat Freya. Meskipun dia sudah memiliki keluarga kandung, Freya tetap berarti baginya.


Tri mengambil air hangat untuk membasuh tubuh Marva, membuat Marva senang tapi juga merasa bersalah sekaligus.


Apakah dia jaga karena sidah menipu untuk mendapatkan perempuan ini?


Kalau orang lain tahu, pasti dia sudah dihujat dan disumpah serapahi. Dikutuk dan didoakan mati saja.


Tapi bodo amat lah, hati tetaplah hati, tidak bisa mengalah dengan akal sehat.


Dia rela menjadi penjahat untuk bisa bersama Rei. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk anak-anak mereka. Dia mau kehidupan anak-anaknya menjadi lebih baik dari dia.


Tidak mengalami persoalan rumit seperti dia.


Dia berjanji tidak akan membesarkan Radhi dan Raine, juga anak-anaknya yang lain, seperti dia dibesarkan.


Masa lalu mengajarkan Marva banyak hal. Membuat dia pada awalnya, merasa cemas bagaimana kalau nanti dia memiliki anak?


Dia takut tidak bisa menjadi ayah yang baik.


Sebuah konflik batin yang dia pendam. Di mana keluarganya menuntut keturunan darinya, sedangkan dia sendiri ketakutan untuk memiliki anak.


Saat Rei dinyatakan hamil, hati dan pikirannya kembali bertentangan.


Ada perasaan bahagia, tapi ada juga ketakutan di sana.


Kenapa aku harus memiliki anak?


Itulah pertanyaan yang dia tanyakan sendiri dalam hati dan pikirannya.


Saat Radhi dan Raine lahir, kembali dia ketakutan tapi juga senang.


Bagaimana ini, sekarang aku sudah menjadi seorang ayah. Apa aku sanggup? Apa aku bisa. menjadi ayah dan suami yang baik? Bagaimana kalau aku menyakiti anak-anak dan istriku?


Itu yang ada dalam hati dan pikiran Marva saat Radhi dan Raine lahir. Sepasang bayi kembar yang tidak berdosa, yang akan sangat mempengaruhi masa depannya.