
Tidak ada waktu untuk membicarakan masalah pribadi. Rei bahkan lupa dengan keputusan untuk berbicara dengan Marva. Freya juga lebih banyak tidur.
Ada perasaan takut dalam hati mereka, jika mata itu tertutup, maka tidak akan terbuka lagi.
Ini benar-benar siksaan yang luar biasa.
Setelah dibujuk, akhirnya Freya mau juga melakukan operasi.
Dan hari ini
Mereka harus menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dada.
Rambut yang tadinya hitam, panjang dan halus, sebentar lagi tidak akan ada sehelai pun. Di balik tubuh Freya, mereka bisa melihat tangan Chiro yang gemetaran. Anak kecil itu menggigit bibirnya kuat-kuat, bahkan menekan hidungnya agar tidak terisak. Sudah berapa kali Chiro mengelap air matanya dengan ujung bajunya.
Belum pernah mereka melihat wajah anak itu sesedih ini.
"Ecan berubah pikiran, Mommy."
"Apa?" tanya Freya.
"Ecan tidak mau lagi dede bayi. Asal Mommy bisa selalu bersama Ecan, Ecan sudah senang."
Mereka menunduk dalam, seperti sedang mengheningkan cipta di tengah pemakaman.
Freya diam saja, dia tidak tahu harus bicara apa.
Sret
Suara rambut yang dipotong dengan gunting tajam itu kini terdengar. Marva menggenggam tangan Rei yang sudah gemetaran. Dia bahkan memeluk perempuan itu, jaga-jaga jika nanti Rei pingsan. Sama seperti yang lainnya, yang juga sudah dijaga oleh para pria yang sebenarnya juga tidak kuat menahan sedih.
Kedua orang tua Freya diminta untuk duduk. Berkali-kali mamanya Freya menggeleng kuat, melihat anaknya harus seperti ini.
Seorang ibu pasti akan berkata seperti ini jika anaknya sakit. Lebih baik sakit itu dipindahkan saja ke dirinya, yang penting anaknya sehat selalu.
Sama seperti Freya yang akan selalu berkorban untuk Chiro.
Sama seperti Rei yang akan selalu berkorban untuk Radhi dan Raine.
Sebagai tanda solidaritas, mereka juga memotong rambut mereka. Tidak masalah, bahkan jika mereka harus botak sekali pun. Toh rambut masih bisa tumbuh lagi.
Wajah pucat Freya semakin terlihat pucat dan kurus tanpa rambut di kepalanya.
Mereka semua berkumpul di rumah sakit malam ini, menunggu operasi yang akan dilakukan selepas Subuh besok.
Freya memandang mereka satu persatu, sedangkan mereka tidak ada yang sanggup memandang mata sayu itu. Mata yang selalu memancarkan ketegasan dan kecerdasan.
Arby mencium Freya, yang tidak ditanggapi oleh perempuan itu. Seharusnya dia senang, karena bisa mencium Freya sepuas hatinya. Tapi untuk kali ini, dia mau Freya merasa kesal. Dia ingin perempuan itu memukuli dirinya dengan sekuat tenaga, menendang, bahkan menjambak rambutnya sampai rontok seperti dulu pun tak apa. Tapi jangan seperti ini. Jangan diam saja saat Arby mencuri kesempatan seperti ini.
Jangan pasrah!
Tetaplah menjadi Freya yang kuat.
Cepat bilang, "Jangan macam-macam, duda mesum!"
Marva semakin erat menggenggam tangan Rei. Dia juga sedih dengan keadaan Freya, karena Freya memang sudah dianggap adik oleh Marva.
Semua menghembuskan nafas perlahan. Menyiapkan hati untuk besok. Menyiapkan diri sebaik mungkin saat pintu operasi besok terbuka untuk memberikan kabar kepada mereka, apakah mereka berhasil, atau kah Freya akan damai selamanya.
Hanya doa yang bisa Rei lakukan sebanyak mungkin sekarang.
Jangan biarkan Freya pergi seperti nenek aku. Dia juga belum bahagia, Tuhan. Biarkan dia kembali berkumpul bersama keluarganya, juga dengan Chiro dan Arby.