
Marva masuk ke kamarnya, dan tidak ada Vio di sana. Sudah beberapa hari ini dia memang tidak bertemu dengan Vio, juga tidak berkomunikasi. Anak-anak juga sering bersama Rei, karena kemauan Radhi dan Raine sendiri, karena mau menghibur Chiro.
Marva akan menyempatkan diri mengajak Rei makan siang, meski perempuan itu sering menolaknya.
"Aku bukannya memanfaatkan anak-anak kita untuk mengikat kamu, Rei. Memang mereka sendiri yang mau mengajak kamu makan siang."
"Tolong berikan aku kesempatan untuk meyakinkan kamu."
Rei memandang pria tampan di hadapannya itu. Pria yang wajahnya sangat mirip dengan anak perempuannya. Setiap kali Rei melihat Raine, dia akan seperti melihat Marva.
Apa Tuhan memang mentakdirkan mereka akan seperti ini? Entah nanti ke depannya mereka akan bersama atau tidak.
Memandang Radhi akan membuat Marva selalu teringat dengan Rei.
Memandang Radhi akan selalu membuat keluarga Arthuro teringat siapa perempuan yang menyelamatkan garis keturunan mereka.
Memandang Raine akan membuat Rei selalu teringat akan Marva.
Ada Rei dalam diri anak laki-laki.
Ada Marva dalam diri anak perempuan.
Ponsel Rei berbunyi, panggilan masuk dari seorang perawat.
"Halo Dokter Rei, maaf mengganggu, tapi sudah banyak pasien yang menunggu. Apa Dokter masih lama?"
"Aku datang sekarang." Rei langsung mematikan panggilan itu.
"Maaf ya Marva, aku harus pergi sekarang."
Rei merutuki dirinya sendiri yang sampai lupa. Untung saja posisi rumah sakit hanya tinggal menyeberang saja, jadi tidak membutuhkan waktu lama.
Agam melihat Rei yang berjalan dengan terburu-buru. Perempuan itu lebih kurus dari yang sebelumnya. Dia jadi teringat Freya.
Biasanya saat jam makan siang dan mereka semua ada di rumah sakit ini, pasti suasana akan ramai karena Arby dan rombongannya akan mengganggu ketenangan para perempuan itu. Sekarang yang ada hanya kesedihan.
Marva mencoba untuk menghubungi Vio, namun ponsel perempuan itu mati. Untung saja dia punya bisnis lain bersama saudara-saudaranya itu, jadi dia tidak perlu khawatir menafkahi Radhi dan Raine, juga Rei jika nanti dia benar-benar harus keluar dari keluarga Arthuro.
Mico tertawa mengejek Marva. Ingatkan Mico untuk hati-hati saat jatuh cinta nanti, karena dia tidak suka dengan sesuatu yang rumit, meskipun pekerjaannya sebagai pengacara saja memang rumit.
"Benarkan, apa yang pernah aku bilang padamu dulu. Coba kalau waktu itu kamu mengikuti saran dariku."
Marva menghela nafas, membenarkan apa yang dikatakan Mico.
"Sudah."
"Sebagai orang yang pernah berada di lingkungan keluarga besar itu, aku turut prihatin dengan nasib kamu."
"Jangan begitu Mico, kita ini ...."
"Cukup! Aku tidak mau membahasnya."
"Mendingan kamu cepat keluar dari keluarga Arthuro, sebelum benar-benar diusir. Itu pun kalau kamu tidak takut miskin," kompor Mico.
"Sialan! Aku tidak takut miskin. Aku juga sudah menyiapkan diri untuk pergi. Untung saja aku sudah punya beberapa aset dari hasil kerja aku sendiri."
"Salah satunya apartemen di tempat Freya itu?"
"Iya, kami kan langsung membelinya saat tahu Freya dan sahabat-sahabatnya tinggal di sana."
☘️☘️☘️
Marva masuk ke apartemennya. Saat itu, dia hanya mengisi apartment ini dengan sedikit barang saja. Tapi sekarang sudah lebih lengkap dengan kebutuhan anak-anaknya.
Kita berempat akan bahagia di sini.
.
.
.
.
Kalau cerita ini tamat, kalian mau cerita tentang siapa?
Mico?
Monic?
Atau yang lain?
Aku udah nyiapin cerita lain, sih. Tapi belum tahu kapan mau publish.