Mother

Mother
190 Menghubungi Dokter Agam


"Aku, aku juga minta maaf padamu, Kak Marva. Maafkan semua kesalahanku padamu." Marva tersenyum sendu, air matanya juga tidak berhenti mengalir.


Rei mengusap air matanya.


Nenek


Freya


Kenapa sekarang Marva yang harus seperti ini?


"Radhi, Raine."


Radhi dan Raine berpelukan sambil menangis.


"Maafkan Ayah, ya. Kalian jangan menangis! Jangan menangis karena ayah. Ayah tidak sanggup melihatnya."


Radhi dan Raine berusaha berhenti menangis. Kedua anak itu lalu memeluk syah mereka.


"Jangan sakit lagi, Ayah. Cepat sembuh, kan kita mau tinggal bertiga." Marva diam saja, dia tidak bisa bicara terlalu banyak.


"Om, Tante, maafkan Marva."


"Kami semua sudah memaafkan kamu, Marva. Jangan banyak pikiran, ya."


"Rei, kamu tahu kan, dari dulu aku ingin sekali menikahi kamu. Tapi aku tahu, itu mungkin tidak bisa terwujud. Selain karena keluarga aku yang tidak merestui, kamu juga menolak ku."


Marva berhenti sesaat, mengatur nafasnya dan memejamkan mata.


"Kakek, Papa, Mama, Vio, tolong jangan benci Rei, dia tidak adalah apa-apa. Akulah yang mengejar-ngejar dia. Kalau nanti aku sudah tidak ada lagi, tolong jangan halangi dia untuk bertemu dengan Radhi dan Raine."


Air mata Rei semakin turun, begitu juga dengan Delia dan Vio.


Nafas Marva semakin cepat, matanya mulai meredup. Monitor menunjukkan garis yang lebih banyak lurusnya.


"Marva, Marva jangan tinggalkan Mama, Sayang."


"Kalian ke luar dulu!"


Tapi tidak ada yang keluar


Dokter langsung menggunakan defibrilator, mencoba untuk menyelamatkan Marva.


"Minggir!" sentak Arby.


Arby mengguncang tubuh Marva dengan kuat.


"Bangun aku bilang!"


"Marva, bangun!" ucap Ikmal.


"Marva, kalau kamu mau menikahi Rei dan menceraikan aku, aku ikhlas. Aku mohon bangunlah. Aku benar-benar ikhlas atas semuanya," ucap Vio. Mereka menatap Vio yang berkata seperti itu.


"Sayang, mama juga merestui kamu menikah dengan Rei. Bangun ya, Sayang. Mama merestui kamu. Ini kan, yang kamu inginkan sejak dulu? Papa dan kakek kamu juga pasti merestui kamu, iya kan?" tanya Delia pada Carles dan Frans.


"Iya, kami merestui kamu dan Rei, Marva."


"Cih, gampang sekali kalimat restu itu keluar setelah keadaan Marva seperti ini." Arby menatap mereka dengan kesal. Tangannya masih mengguncang tubuh Marva.


Ikmal, Marcell, Vian dan Mico mendekat pada Arby.


"Sudah, Arby."


"Tidak bisa! Sialan ini harus bangun. Apa dia tega meninggalkan Radhi dan Raine? Bangun brengsek, apa kamu mau Rei menikah dengan dokter Agam, hah? Dan Radhi juga Raine memanggil dokter Agam dengan panggilan daddy?"


Seperti sebuah keajaiban, monitor kembali menunjukkan garis naik turun, meski hanya sedikit saja.


"Rei, menikah lah dengan Marva, aku mohon!" ucap Vio.


"Tapi ... aku, aku ...."


"Bunda, menikahlah dengan ayah!"


"Kami mohon, Bunda." Radhi dan Raine memeluk Rei. Mendengar dan melihat anak-anaknya memohon seperti ini, Rei sungguh tidak tega, tapi untuk menikah kembali dengan Marva?


"Rei, menikahlah dengan Marva. Kami merestui kalian. Mau ya, menikah dengan Marva!"


Rei menelan salivanya, dikepung di tengah keluarga Marva seperti ini, dia pasti gugup.


"Menikahlah dengan Marva!" ucap Frans.


Rei melihat Frans, Carles dan Delia. Ini permohonan atau paksaan? Terlihat tidak ada bedanya.


"Aku, aku mau menghubungi Agam dulu."


"Kenapa harus menghubungi pria itu dulu?" bentak Marcell.