
"Segera ganti bajumu. Kita makan diluar malam ini," kata Jeff kepada Juwita.
"Sekarang?" tanya Juwita heran.
"Aku yang traktir!" kata Jeff.
"Tidak bisa, biarkan aku yang mentraktirmu malam ini ya?" paksa Juwita bersemangat.
"Aku mengajak teman-temanku juga. Mereka banyak dan tidak akan kenyang meskipun makan tiga porsi. Selain itu kau belum bekerja. Bagaimana kalau kau miskin mendadak karena jumlah tagihan yang terlalu banyak?" tanya Jeff.
"Jeff, ucapanmu melukai perasaanku tahu. Kalau bilang aku yang traktir ya aku. Aku tidak akan pergi jika bukan aku yang bayar!" kukuh Juwita.
Apa-apaan itu, memangnya seberapa banyak temannya yang ikut makan? Paling juga tidak lebih dari sepuluh orang. Dan lagi apa yang Jeff katakan barusan. Bukankah dia mengaku hanya seorang pengangguran yang menghasilkan sedikit uang, atau berandalan yang tidak jelas apa pekerjaannya. Tapi kenapa bersikap seolah dirinya seperti bos yang banyak uang saja?
"Terserah, kalau begitu cepatlah. Aku tidak suka perempuan yang terlalu banyak drama!" kata Jeff mengalah. Tentu saja dengan memasang wajah tidak suka karena Juwita sepertinya sangat tidak ingin mengandalkannya.
"Baik!" jawab Juwita. Wajahnya sudah 180° berubah dari cemberut menjadi berbunga-bunga.
Juwita segera masuk ke kamarnya. Mengganti bajunya secepat kilat dan memoleskan make up tipis di wajahnya. Lalu segera bergegas keluar karena Jeff sudah menyalakan mesin motor sportnya di luar.
"Pakai ini!" kata Jeff. Lalu memasangkan helm untuk Juwita.
"Jeff, kau baik sekali!" puji Juwita.
"Apa kau baru sadar setelah dua minggu aku jadi suamimu. Apa itu tidak terlalu terlambat?" sindir Jeff.
"Sebelumnya aku hanya tidak menyadarinya," kata Juwita tanpa beban.
"Ck, kau ini!" decak Jeff.
Juwita hanya meringis lebar, lalu menyibakkan poni yang menutupi wajahnya. Tapi senyumannya menjadi canggung ketika melihat Jeff masih melihatnya dengan tatapan aneh.
"Jeff, apa ada yang salah?" tanya Juwita. Tidak ada semacam kotoran yang tersangkut di sela-sela giginya kan?
"Hei, apa kau masih istriku Si Juwita itu?" tanya Jeff.
"Apa maksudmu?" jawab Juwita.
"Kau ini asli kan?" tanya Jeff lagi. Pria berandalan yang kerennya melebihi tokoh anime itu pun mencubit pipi Juwita. Lalu matanya melihat kearah dada dibarengi dengan tangannya yang juga memeriksa bagian itu.
"Ini aneh, ukurannya masih sama dengan yang terakhir kali."
"Jeffsa! Aku ini Juwita. Kenapa menyentuh sembarangan hanya untuk memastikan aku asli atau bukan?" protes Juwita.
"Karena selain wajah dan dadamu tidak ada bagian lainnya yang ku tahu," jawab Jeff tanpa merasa bersalah.
"Aku ini masih Juwi. Juwita yang memaksamu menikah dua minggu lalu," jelas Juwita.
"Tapi sejak kapan kau jadi setinggi ini. Apa pertumbuhan tinggi badanmu baru dimulai saat kau pindah ke rumahku?" tanya Jeff dengan menyentuh dagunya dan berpikir keras.
"Jeffsa! Aku menyesal memujimu tadi. Kenapa kau tidak menyaring dulu apa yang akan kau katakan sih!" protes Juwita lagi.
"Hei, kau memang lebih tinggi dari biasanya. Kau tidak setinggi ini sebelumnya," bela Jeff.
"Itu karena aku memakai sepatu dengan hak setinggi 3 cm sekarang. Bukannya aku yang tambah tinggi!" kata Juwita.
Jeff melihat kebawah, benar saja disana memang terpasang sepatu berwarna putih yang cukup tinggi. Untung saja Juwita mengatakannya, jika tidak Jeff pasti sudah mengira yang berdiri di depannya saat ini Juwita yang palsu, bukan yang asli.
"Tidak perlu marah-marah. Hanya soal tinggi badan saja kenapa agresif sih. Cepat naiklah!" perintah Jeff.
Meskipun sempat kesal tapi akhirnya Juwita naik juga, "Jangan kencang-kencang. Aku masih takut mati!" pesan Juwita saat sudah nangkring di atas motor.
"Kalau tak ingin mati pegangan yang erat," kata Jeff mengingatkan.
Tanpa menunggu lama lagi akhirnya sepasang suami istri tidak saling mencintai itupun pergi. Meninggalkan rumah mini mereka yang nyaman dan penuh dengan nyanyian jangkrik malam. Jeff dengan lihai memacu motor sportnya dengan kecepatan sedang. Tidak dengan kecepatan tinggi seperti biasanya atau anak beruang yang sekarang duduk di belakang sana akan marah.
"Hei, kau tidak tidur kan?" tanya Jeff ketika Juwita hanya diam saja.
"Tidak kok," jawab Juwi. Gadis itu sekarang bukan hanya pegangan pada Jeff. Tapi memeluknya dengan melingkarkan kedua tangannya.
"Eum, kenapa perut Jeff berbeda. Kenapa ini sangat keras?" batin Juwi ketika tangannya sudah melingkar disana dan sempat memegang beberapa kotak ABS-nya.
Tanpa mengatakan apapun, Jeff menambah kecepatannya menjadi 160 km/jam saat mereka sampai di jalanan besar yang cukup sepi. Membuat Juwita semakin menempel dan memeluk Jeff kuat-kuat, "Jeffsa, apa kau ingin kita segera mati?"
"Omong kosong. Kenapa harus mati, kita kan belum bersenang-senang," jawab Jeff tanpa mengurangi kecepatannya. Malahan menikmati pelukan itu dan tekanan dari bola-bola Juwita di punggungnya.
Setelah 10 menit, akhirnya sampailah mereka ke tempat makan tujuannya. Sebuah rumah makan dengan konsep lesehan dengan pemandangan pohon bambu-bambu kecil di sekelilingnya.
"Jeff, kau yakin ingin makan disini?" tanya Juwita ragu.
"Kenapa, apa kau tidak terbiasa makan di tempat seperti ini?" jawab Jeff.
"Bukan, aku suka. Tapi lihatlah, mereka membuatku takut," kata Juwita dengan menunjuk ke pintu masuk yang dipenuhi dengan preman yang terlihat garang.
"Jangan takut! Mereka itu teman-temanku, Ayo!" kata Jeff. Tanpa ragu melingkarkan tangannya ke pundak Juwita dan membawanya menemui teman-temannya yang dia katakan sebelumnya.
"Teman?" tanya Juwi. Juwi sedikit ngeri melihat mereka, terlebih saat melihat badan yang sebagian besar bertato. Tapi tidak menolak saat Jeff membawanya menemui 'teman' yang jumlahnya lebih dari 50 orang itu.
"Apa mereka berencana untuk demo?" batin Juwi.
"Hallo, Bos!" sambut mereka ketika melihat Jeffsa menghampiri mereka dan melakukan high five.
"Bos, apa ini istrimu?" tanya seorang pria bertubuh paling tinggi dan besar kepada Jeff. Melihat Juwita yang kaku karena takut setengah mati.
"Jangan dekat-dekat, dia alergi dengan pria bertato," kata Jeff. Melarang pria itu mendekat lebih jauh.
"Jeff, aku bukannya alergi. Aku hanya sedikit takut saja," sela Juwita dengan cepat. Dia takut kalimat Jeff menyinggung perasaan mereka.
Tato adalah seni. Tidak ada yang salah dengan tato atau orang bertato. Itu kebebasan mereka. Juwita menghormati pilihan setiap orang. Dia tidak alergi atau berpikir tato itu buruk. Juwita hanya tidak suka, tapi bukan berarti tidak bisa berkompromi dan melawan rasa takutnya.
"Kalau begitu ayo masuk, istri-istri kami sudah menunggu di dalam," kata pria besar itu.
"Istri?" tanya Juwita.
"Nona Bos, kami selalu begini. Apa Jeff tidak memberitahumu sebelum kesini?" tanya pria besar lainnya.
"Dia hanya bilang mengajak teman-temannya makan," jawab Juwi.
"Jangan bicara lagi, ayo masuk!" ajak Jeff.
Jeff menarik tangan Juwita. Membawanya masuk ke rumah makan lesehan yang sudah siap menyambutnya. Baru juga melangkahkan kaki di dalam, puluhan anak-anak segera menyambut dan mengerumuni Jeff layaknya anak itik yang diberi makan. Bahkan ada dua anak kecil yang langsung memanjat Jeff.
"Papi Jeff!"
"Papi Jeff, gendong!"
"Papi Jeff, kami rindu!"
"Papi Jeff, siapa kakak cantik ini. Apa dia mami kami?"
Lagi, Juwita membulatkan matanya. Melihat Jeff dengan tatapan seolah meminta penjelasan. "M-mereka b-bukan anak-anakmu kan, Jeff?"
"Mereka semua anak pria-pria bertato itu. Juwita, apa kau sudah mengerti sekarang. Kenapa aku mengatakan tidak menyukai anak-anak padamu hari itu. Karena mereka selalu membuatku sibuk mengurus anak-anak mereka seperti ini saat bertemu," keluh Jeff.
Juwita tercengang, melihat ke arah teman-teman Jeff yang sekarang ini sibuk melayani istri-istri mereka. Sebagian menyuapi mereka, memilihkan makanan kesukaan istri mereka masing-masing, dan memperlakukan mereka layaknya seorang ratu. Lalu sebagian lainnya segera membantu Jeff bergiliran menjaga anak selagi istri mereka makan.
Sebuah pemandangan epic yang tidak pernah Juwita lihat selama kehidupannya setelah kedua orangtuanya mati. Seorang wanita, akan diperlakukan layaknya ratu di tangan pria yang tepat. Sepertinya itu benar. Tidak melulu pria terbaik adalah orang kaya. Tidak melulu pria terbaik itu adalah pria tampan. Pria terbaik adalah yang memperlakukanmu tetap baik meskipun terkadang semua tidak baik-baik saja.
"Juwita, ayo sini!" panggil seorang wanita.
Juwita yang sempat berkaca-kaca sadar dari lamunan singkatnya. Tidak hanya dipanggil, beberapa wanita lainnya juga menyambut Juwita dan membawanya berkumpul bersama mereka.
"Jeff, bentar ya. Tolong jaga anakku dulu!" kata teman-teman Jeff yang lain.
"Pergilah!" kata Jeff pasrah.
"Maaf, tapi aku akan membantumu menjaga anak-anak ini dan makan bersamamu nanti," tolak Juwita.
...***...