
Juwita meninggalkan perusahaan tanpa beban. Adhyaksa Group ya? Perusahaan yang dulu sempat dia bangga-banggakan di hadapan Jeff ternyata bukan tempat yang ingin dia tinggali lebih lama untuk bekerja. Senyum manis itu terus terukir di sudut-sudut bibir Juwita di sepanjang jalan. Raganya memang masih berada di dalam gedung, tapi jujur saja pikirannya sudah melancong entah kemana. Tidak ada sedikitpun penyesalan meskipun dia telah mengundurkan diri dari perusahaan idaman di kota ini.
Persetan dengan perusahaan idaman. Dia hanya ingin menikmati hidupnya sebaik yang dia bisa di kehidupannya yang akan datang. Mengenal orang baik, berteman dengan orang baik dan menghabiskan waktu dengan orang-orang baik pula. Senyum ceria yang dimata Jeff seperti pelangi itu kian bersinar dan membius beberapa pasang mata yang melihatnya. Tak terkecuali Dante, Presdir yang sejatinya mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.
"Bawa dia keruanganku!" titah Dante.
Baru kemarin sore Dante melihat Juwita di perusahaannya. Malam harinya baru melihat bagaimana hasil kerjanya dan keesokan harinya Juwita sudah mengundurkan diri. Juwita pikir dia siapa? Sejak dia bergabung dengan Adhyaksa Group, meksipun dia masih magang tapi dia sudah tidak sebebas itu. Karena Dante akan membuat Juwita tetap tinggal apapun caranya.
"Baik, Presdir!" sahut asistennya.
Asisten wanita itu segera menghubungi seseorang di lantai bawah. Meminta mereka menahan Juwita agar tidak pergi kemana-mana. Lalu dirinya sendiri segera turun kebawah untuk menjemput dan membawanya ke ruangan Presdir sekarang juga.
Dan disinilah Juwita sekarang. Berdiri di hadapan Dante di ruangan yang hanya ada mereka berdua. Ingatan Juwita sangat baik, jadi sudah pasti dia ingat bahwa Presdir ini adalah pria yang menawarkan cinta untuknya beberapa bulan yang lalu. Tapi kenapa Dante memanggilnya. Dia kan sudah mengundurkan diri?
"Kembali bekerja!" kata Dante setelah sekian lama membuat Juwita menunggu.
"Maaf, Presdir! Tapi aku sudah tidak ingin bekerja disini lagi," tolak Juwita tanpa menutupi keinginannya.
"Kenapa?" tanya Dante.
"Perusahaan ini tidak cocok untukku," jawab Juwita.
"Meskipun begitu, Apa kau pikir bisa mengundurkan diri seenak hatimu?" tanya Dante.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Juwita.
"Karena akulah bosnya!" jawab Dante.
"Presdir, meskipun begitu aku ini hanya karyawan magang. Aku masih bebas, aku masih bisa meninggal perusahaan ini sesuka hatiku. Terlebih kenapa aku harus tinggal di perusahaan yang memelihara pekerja buta seperti Melodi?" tanya Juwita. Awalnya Juwita ingin bersikap sesopan mungkin, tapi setelah mengetahui bahwa Dante-lah Presdirnya Juwita tidak perlu sesopan itu lagi.
Dante tersenyum tipis mendengar kalimat panjang yang dikatakan oleh Juwita. Menyadari perubahan pada diri Juwita karena Juwita yang dulu tidak seberani ini. "Sepertinya banyak hal yang telah terjadi," batin Dante tanpa tahu bahwa Juwita yang diincarnya sudah menikah.
"Presdir, jika sudah tidak ada yang ingin Anda katakan, saya akan pergi sekarang!" kata Juwita saat melihat Dante terus-terusan tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya yang dia katakan sebelumnya.
"Aku akan memecat Melodi untukmu. Apa dengan begini kau bersedia tetap tinggal?" tanya Dante memberi penawaran.
Juwita memang senang jika Melodi dipecat. Tapi meskipun begitu, bukan berarti dia ingin tinggal. Apa Dante kira Juwita adalah barang yang bisa ditukar-tukar? Membuang Melodi lalu mengambilnya sebagai gantinya. Apa Dante sedang bercanda? Memangnya berapa gaji yang dia tawarkan? Bukankah lebih baik Juwita menuruti kata Jeff untuk berhenti bekerja dan menikmati hidup bersama Jeff dan yang lainnya?
"Maaf, Presdir! Tapi aku sudah tidak tertarik!" jawab Juwita.
"Juwita, kau berani menolak tawaranku lagi?" tanya Dante.
Pria itu memang sedang menyatukan kedua tangannya sehingga menutupi sebagian wajahnya. Tapi meskipun begitu itu tidak cukup untuk menutupi tatapan penuh ancaman yang terpancar dari sorot mata itu.
Awalnya Dante ingin memperlakukan Juwita dengan baik. Tapi karena lagi-lagi Juwita menolaknya meskipun Dante sudah menurunkan arogansinya dan memberikan sebuah tawaran untuk tetap tinggal, maka Dante akan memaksanya meskipun dengan menggunakan sedikit kekerasan. Bedanya, bukan lagi untuk membuatnya tinggal dan bekerja di perusahaan, tapi tinggal disisinya untuk menjadi wanitanya.
"Presdir,-"
"Tidak masalah jika kau tidak ingin bekerja. Tapi kau harus tinggal dan jadi istri yang patuh!" potong Dante.
Juwita tersenyum tipis. Jadi inikah tujuan Dante sebenarnya? Kenapa pria ini masih tidak berubah seperti waktu itu. Menjadi istri yang patuh katanya, apa Dante bercanda? Juwita kan sudah menikah. Bahkan meskipun Jeff menceraikannya sekalipun Juwita tidak akan berpikir lagi untuk menolak tawarannya.
"Kau sudah menikah?" tanya Dante dengan tatapan yang semakin tegas dan jelas.
"Aku sudah menikah dan aku sangat bahagia. Presdir, maaf aku harus segera pulang karena suamiku sudah menungguku di rumah," pamit Juwita dan pergi begitu saja.
Dante masih duduk di kursi kebesarannya. Menunjukkan senyum sinis yang tidak mungkin Juwita lihat karena sudah lebih dulu pergi.
Sudah menikah?
Memangnya kenapa kalau sudah menikah. Karena Dante akan segera menyingkirkan pria yang sudah lancang berani menikahi Juwita. Dante mengambil sebuah bolpoin di ujung meja kerja, memutar beberapa kali dengan lincah menggunakan jari-jarinya sebelum mematahkannya.
"Tunggu saja. Akan ada hari dimana kau akan berlutut dan memohon kepadaku!" batin Dante.
.
.
.
.
Juwita semakin mempercepat langkah kakinya. Segera menjauh dari ruangan Dante sebelum pria itu marah dan mengerahkan semua pengawal untuk menahannya seperti adegan dalam novel. Untung saja tidak ada adegan seperti itu sampai Juwita berhasil keluar dari gedung.
Di pelataran yang luas itu, Juwita mencari ponselnya. Lalu menekan tombol dial untuk menelepon Jeffsa yang sebenarnya sedang sibuk membahas kesepakatan harga desain dengan seorang klien. Tidak hanya berdua, karena Kakek Firman juga ada di tempat itu karena klien itu adalah kenalan Kakek Firman yang akan menggunakan jasa arsitek milik Jeff.
"Jeff, apa kau sibuk?" tanya Juwita sesaat setelah panggilannya diangkat Jeffsa.
"Tidak, aku ini hanya seorang berandalan yang menganggur jadi sibuk apa?" jawab Jeff sembari meletakkan telunjuknya di depan kakeknya agar dia diam.
"Aku sudah mengundurkan diri. Ayo pergi jalan-jalan untuk merayakannya!" ajak Juwita.
Senyum Jeff langsung melebar sempurna. Begini baru benar. Kenapa istrinya yang manis harus bekerja sebagai karyawan magang di perusahaan Adhyaksa itu. Jika Jeff mau, Jeff bisa meminta kakeknya untuk membeli perusahaan itu dan menjadikan Juwita Presdirnya.
Tapi lupakan saja tentang membuat Juwita menjadi seorang Presdir. Angan-angan itu terlalu tinggi untuk Juwita yang oon. Karena di mata Jeffsa, Juwita lebih berbakat untuk menghabiskan uang daripada menjadi seorang Presdir.
"Jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu sekarang juga!" kata Jeff.
Jeff segera meminum kopi yang tersisa di gelasnya tanpa sisa. Lalu bangkit dan membereskan barangnya dengan cekatan. Sontak wajah sumringah dan semangat membara itu membuat Kakek Firman dan temannya saling berpandangan.
"Kau mau kemana?" tanya Kakek Firman.
"Menjemput istri tersayangku," jawab Jeff.
"Nak Jeff, tapi kita belum selesai membahas kesepakatan harga," kata seorang klien yang usianya tidak jauh beda dengan kakeknya.
"Oh, itu. Tuan Wildan, mengingat Anda adalah teman baik kakekku, aku tidak akan memungut biaya untuk desain kali ini. Anggap saja ini sebagai permohonan maaf dariku karena harus pergi sekarang," jawab Jeff.
"Apa?" kata Kakek Firman dan Kakek Wildan bersamaan tapi Jeff sudah pergi lebih dulu tanpa menjawabnya.
...***...