Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 65 Dia Rayyan Bukan Jouvis


"Apa yang dilakukan Juwita hari ini? Dia tidak membuat masalah kan?" tanya Jeff sesampainya di rumah.


Pertanyaan itu Jeff lontarkan pada seseorang yang dia percaya sebagai kepala pengurus rumah. Sebut saja namanya Anita, wanita paruh baya yang Jeff beri tugas untuk memastikan tidak ada satupun yang masuk ke rumah tanpa ijin darinya.


"Tidak, Tuan!" jawab Anita dengan sopan.


"Ada apa dengannya. Kenapa hari ini dia patuh sekali. Kemarin dia tidak begitu kan?" gumam Jeffrey. Alis pria itu sedikit terangkat. Tidak menyangka Juwita akan anteng seperti ini. Padahal kemarin mereka nyaris adu mulut sepanjang hari.


"Lalu bagaimana dengan Rayyan?" tanya Jeff lagi.


"Eh, Rayyan?" tanya Anita. Dia sedikit kebingungan. Siapa Rayyan? Seingatnya tidak ada yang memiliki nama Rayyan di rumah ini. Karena bayi kecil yang ada di rumah ini, mereka semua tahu namanya adalah Jouvis bukan Rayyan.


"Mulai sekarang dan seterusnya nama anak itu Rayyan bukan Jouvis. Jadi katakan pada orang-orang rumah untuk berhenti memanggilnya dengan sebutan Baby Jouvis!" perintah Jeffrey.


"Oh! B-baik, Tuan!" jawab Anita.


Meksipun tidak tahu apa alasan Jeff mengubah nama itu, tapi Anita tetap mematuhi perintah Jeffrey. Sebagai orang yang dituakan dan paling lama bekerja di rumah ini, dia tahu jika Jeff sudah mengatakannya berarti Jeff memiliki rencananya sendiri. Soal apa alasannya, Anita yakin suatu hari nanti dia juga akan tahu.


"Dimana Rayyan sekarang?" tanya Jeff lagi.


"Rayyan sudah tidur, Tuan!" jawab Anita.


"Tidur?" tanya Jeffrey.


Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya Rayyan belum tidur di jam-jam seperti ini. Dua pengasuhnya bahkan harus sering begadang untuk menjaganya secara gantian.


"Maaf, Tuan! Sebenarnya Rayyan tidur di kamar Nona Juwita malam ini. Pagi tadi anak itu rewel, tapi begitu Nona Juwita merawatnya dia langsung patuh," lanjut Anita.


"Oh!" sahut Jeff singkat.


Setelah mendengar jawaban dari Anita, Jeff memutuskan untuk pergi ke kamar Juwita. Meskipun Jeff tahu Rayyan bukan anaknya dan enggan dipanggil papa, tapi Jeff masihlah perhatian. Tidak terlalu dekat tapi juga tidak sebegitu acuh. Jeff masih sering memantau tumbuh kembangnya dan memastikan anak itu tumbuh normal seperti anak-anak lainnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jeff saat melihat dua pengasuh Rayyan siaga di depan kamar Juwita. Duduk berdua tidak jauh dari pintu kamar masih dengan menggunakan seragamnya.


"Tuan, kami menunggu Baby Jouvis disini," jawab salah satu pengasuh.


"Tidak perlu menunggunya. Kalian pergilah istirahat!" titah Jeffrey.


"Apa ini tidak apa-apa, Tuan?" tanya salah satu pengasuh.


"Bagaimana kalau Baby Jouvis mengganggu istirahat Nona Juwita?" tanya pengasuh yang satunya.


Dua pengasuh itu sedikit takut. Meskipun Juwita sudah meminta mereka istirahat tapi nyatanya mereka tidak berani pergi. Takut kalau Jeff marah dan memecat mereka karena membiarkan Juwita merawat Rayyan.


"Kalau dia bangun, maka biar Juwita yang mengurusnya. Satu lagi, jangan panggil dia Jouvis lagi. Panggil dia Rayyan mulai sekarang dan seterusnya," jawab Jeffrey.


Sementara Jeffrey, dia langsung masuk ke kamar Juwita. Setelah seharian lelah berkutat dengan pekerjaannya diluar, ditambah dengan lelahnya atas tingkah laku mamanya, entah kenapa yang ingin dia lihat sekembalinya dari rutinitas itu adalah Juwita. Ajaibnya, tepat setelah Jeff menutup pintu sekelebat bayangan muncul. Seorang wanita dengan wajah samar menyambutnya. Berjalan kearahnya dengan menggendong seorang bayi yang wajahnya juga samar. Wanita itu tidak hanya mendekat, melainkan mencium Jeff dengan mengatakan 'Jouvis, lihatlah! Papa sudah pulang!'


"Akh!" keluh Jeff pelan.


Jeff memegangi kepalanya yang sedikit sakit. Tidak menyangka potongan ingatan itu muncul secara tiba-tiba seperti ini?. Jeff yang masih berdiri dengan memegang handle pintu segera mencari tempat duduk untuk menenangkan diri. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya beberapa detik kemudian. Bukan karena mengingat semuanya. Tapi menyadari sesuatu bahwa potongan ingatannya dia dapatkan saat dia berada di dekat Juwita.


"Karena sudah begini. Sebaiknya aku harus sering-sering berada di dekatmu agar bisa mengingat semuanya kan?" gumam Jeffrey dengan melihat Juwita yang sudah terlelap dengan Rayyan.


Juwita memang sudah tidur sekarang ini. Dia bukannya tidak cemas atau santai-santai saja saat anaknya hilang. Dia hanya terlalu lelah lahir dan batin karena dari pagi hingga siang terus mondar-mandir sembari sesekali menghubungi Kakek Ham untuk mendiskusikan pencarian Jouvis. Juwita baru berhenti ketika Rayyan terus menangis dan enggan diasuh oleh pengasuhnya.


Juwita yang memiliki keyakinan anaknya ikut terbawa Alan dan Caca akhirnya mengambilnya. Juwita yakin di suatu tempat Alan dan Caca memiliki kesulitan sendiri sehingga tidak bisa menemuinya. Dan yang terpenting Juwita percaya bahwa Alan dan Caca pasti merawat Jouvis dengan baik mengingat mereka belum memiliki anak. Yah, itulah yang terpikirkan oleh Juwita sekarang ini. Jadi tidak ada alasan untuk mengabaikan Rayyan. Meskipun air matanya terus tumpah karena rindunya pada Jouvis saat melihat Rayyan, tapi Juwita menguatkan hatinya untuk mencoba menjadi ibu pengganti yang baik untuk Rayyan.


Juwita merawat Rayyan seperti dia merawat Jouvis. Memandikannya, membuatkan makanan untuknya dan menghabiskan waktunya bersama Rayyan. Puncaknya adalah setengah jam yang lalu. Juwita yang sudah lelah ikut tertidur sesaat setelah dia berhasil menidurkan Rayyan.


Jeff berjalan mendekat. Memperhatikan dua manusia yang sama-sama terlelap. Senyum tipis Jeff kembali muncul. Lalu tangannya dengan lancang mengusap kepala Juwita dan Rayyan secara bergiliran.


"Aku ingin tidur dengan kalian. Bolehkan?" tanya Jeffrey.


Benar saja, tidak lama kemudian Jeff pergi ke kamarnya. Membersihkan dirinya secepat mungkin sebelum kembali masuk ke kamar Juwita.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kurang lebih Jeff sudah rebahan sejak satu setengah jam yang lalu. Tapi matanya masih awas melihat Juwita yang tidur dengan memeluk gulingnya. Sesekali tangannya yang kekar menyentuh wajah itu. Sesekali juga memainkan helaian rambut Juwita. Tapi semua pergerakannya langsung terhenti ketika menyadari Juwita mulai bergerak. Jeff langsung menutup matanya. Berpura-pura tidur agar Juwita tidak mengusirnya saat sadar ada penyusup di kamarnya.


"Aku mau pipis tapi malas," batin Juwita sembari meregangkan otot-ototnya.


Juwita mengucek matanya beberapa kali. Lalu kembali memejamkan mata dan memeluk Rayyan. Tapi tangannya menyentuh tangan Jeffrey yang juga memeluk Rayyan.


"Jeffsa?" gumam Juwita.


Sedikit terkejut karena melihat Jeff tertidur di ranjangnya. Tapi itu tidak membuat Juwita marah. Marah untuk apa, Jeff kan suaminya. Malahan yang dilakukan Juwita sekarang adalah menyelimuti Jeff untuk memastikannya tetap hangat. Seandainya Jeff bangun, sudah pasti Juwita tidak akan melakukannya. Tapi karena Juwita pikir Jeff tidur, maka lakukan saja. Kapan lagi bisa merawat Jeff tanpa takut dikira mencari muka selain saat Jeff tidur.


"Kau pasti lelah kan, sayang?" kata Juwita dengan menyentuh lembut wajah Jeffrey.


Suara itu sangat pelan tapi Jeff bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Sentuhan Juwita di pipinya juga terasa hangat. Ingin sekali menyentuh tangan itu dan menggenggamnya tapi urung Jeff lakukan karena Jeff merasakan hembusan nafas Juwita di wajahnya. Lebih tepatnya saat sebuah ciuman mendarat di seluruh wajah Jeff dan berakhir di bibirnya.


"Selamat malam, Sayang! Maaf aku mencuri ciuman milikmu selagi kau tidur. Itu karena aku sangat merindukanmu!" kata Juwita lagi.


...***...