
Tap
Tap
Tap
Prita bergegas menemui Anggara dengan langkah kaki yang tegas. Jika kalian menebak Prita menemui Anggara untuk mengatakan rindu atau aku mencintaimu, maka kalian salah besar. Karena tujuan Prita mencari Anggara adalah untuk memberitahukan sebuah kabar buruk yang akan berdampak besar pada perusahaan menengah yang tengah di kembangkan Anggara saat ini.
"Gara, gawat!" kata Prita setelah membuka pintu.
Gadis itu segera mendekati Anggara yang sibuk dengan pekerjaan rutinnya. Sementara Anggara yang dipanggil langsung mendongakkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Anggara.
Pria itu masih santai meskipun Prita sudah memasang wajah panik. Lalu bangkit untuk menyambut kedatangan Prita.
"Coba lihat ini!" kata Prita sembari menyodorkan sebuah map.
Anggara melihat map itu sebentar. Lalu segera meraih dan membaca isinya dengan alis yang naik turun. Setelah beberapa saat membaca, akhirnya dia tahu juga apa yang membuat Prita panik.
"Ini, bagaimana bisa?" tanya Anggara dengan meremas ujung kertas yang dia pegang sebelum meletakkannya kembali ke meja. Perusahaan menengah yang dia kembangkan dengan susah payah, kenapa tiba-tiba menjadi bermasalah seperti ini?
"Kenapa tiba-tiba seperti ini. Bukankah mereka sudah sepakat sebelumnya?" tanya Anggara setelah mendapati hampir seluruh kliennya memutuskan hubungan kerjasama secara sepihak.
"Aku juga tidak tahu. Orang kita masih mencari tahu penyebabnya. Tapi Ga, bukan hanya itu masalahnya. Ada masalah yang lebih buruk lagi," lanjut Prita.
"Lebih buruk lagi?" tanya Anggara penasaran.
Seluruh klien membatalkan kerjasama adalah berita buruk. Dan Prita mengatakan masih ada yang lebih buruk lagi, dia tidak sedang bercanda kan?
"Ini tentang perusahaan orangtuamu," jawab Prita. Meskipun tidak senang mengatakannya, tapi ini adalah kewajibannya untuk memberitahu Anggara.
"Ada apa dengan perusahaan mereka?" tanya Anggara.
Anggara sudah mulai was-was. Ayahnya memang tidak konsisten dalam mengurus perusahaan itu. Ayahnya memang tidak bisa diandalkan. Untuk itulah Anggara memutuskan untuk merintis perusahaannya sendiri waktu itu.
"Perusahaan ayahmu sudah bangkrut sekarang!" jawab Prita.
"B-Bangkrut?" tanya Anggara.
"Orangtuamu terlilit banyak hutang sekarang. Ayahmu tergila-gila dengan judi online dalam jumlah besar. Lalu ibumu suka berfoya-foya dengan teman sosialitanya. Baru-baru ini dia juga ditipu dalam jumlah besar saat membeli berlian. Lalu adikmu, mereka tidak serius membantu ayahmu," jawab Prita.
Anggara langsung duduk dengan memijit keningnya yang mulai pusing. Soal perusahaan orangtuanya yang semakin merosot dia sudah tidak kaget lagi. Tapi soal ayahnya yang terlilit hutang karena judi dan ibunya yang berfoya-foya sampai bangkrut, itu baru Anggara ketahui saat ini. Pantas saja suntikan dana yang dia berikan selama ini selalu saja tidak cukup.
Baiklah, perusahaan ayahnya memang bermasalah, tapi ada apa dengan perusahaannya. Kenapa klien-kliennya kabur bertepatan dengan bangkrutnya perusahaan orangtuanya? Apa ada orang yang merencanakan ini?
"Pasti ada seseorang di balik semua ini. Tapi siapa?" batin Anggara.
Sekedar informasi, Anggara memang membangun bisnisnya sendiri. Meskipun bukan perusahaan besar seperti Adhyaksa Group milik Dante, tapi itu cukup lumayan. Bahkan bila boleh jujur, inilah yang membuatnya percaya diri meminta mamanya mengajukan pembatalan adopsi agar dia bisa menikahi Juwita waktu itu. Karena tanpa sokongan orangtuanya, Anggara sudah bisa hidup.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Prita.
"Aku akan menemui orangtuaku dulu. Lalu soal klien kita, aku akan mencari jalan keluarnya nanti," jawab Anggara kemudian pergi.
.
.
.
Sementara itu di tempat yang lain Mama Reta sedang duduk berhadapan dengan Dante Adhyaksa. Mereka tidak memiliki hubungan yang khusus. Mereka juga tidak saling kenal. Tapi mulai saat ini akan menjadi partner demi kepentingan pribadi mereka masing-masing.
Setelah mencari tahu lebih detail, Dante akhirnya tahu Juwita hanya anak angkat dari orangtua angkat Juwita suka berjudi dan berfoya-foya. Perusahaan mereka sudah nyaris bangkrut sejak lama. Hanya saja masih terselamatkan karena selalu mendapatkan suntikan dana dari Anggara. Sayangnya kesempatan untuk memperbaiki perusahaan yang nyaris bangkrut itu tidak mereka gunakan dengan baik. Mereka malah terus berfoya-foya dan judi sehingga semakin terjerumus hutang yang dalam jumlah yang cukup fantastis. Dan celah inilah yang akan dimanfaatkan Dante untuk memiliki Juwita.
Hutang sebanyak itu sebenarnya bisa saja dibayar oleh Anggara. Tapi Dante tidak kesini tanpa persiapan. Karena sebenarnya saat ini dia sudah dalam proses untuk memiskinkan Anggara.
Setelah Dante merampas semua klien Anggara dan menarik semua klien itu untuk bekerjasama dengan Adhyaksa Group miliknya yang lebih besar, seharusnya hanya tinggal menghitung waktu sampai perusahaan Anggara kolaps.
"Aku bisa membayar semua hutangmu. Tapi aku ingin kalian menyerahkan sesuatu," kata Dante.
Pria itu sangat berterus terang. Dia tidak ingin membuang waktunya lebih lama untuk berbincang dengan Reta yang mata duitan. Jujur saja, sebenarnya dia juga tidak akan sudi menemui wanita ini jika bukan demi mendapatkan Juwita.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Reta.
Memberikan sesuatu kepada Dante lalu semua hutangnya lunas, bukankah itu sangat menarik? Tapi memangnya apa yang Dante inginkan sampai mau membayar hutang yang jumlahnya ratusan miliar rupiah itu?
"Satu anakmu," jawab Dante.
Senyum Reta langsung merekah. Mengira satu anak yang diinginkan Dante adalah salah satu diantara kembar Anggita atau Anggika. Dalam pikirannya saat ini bahkan sudah penuh dengan imajinasi liar tentang memiliki menantu yang kaya raya.
"Aku punya dua anak perempuan. Jadi, yang mana yang kau inginkan. Aku bahkan tidak keberatan jika kau ingin menikahi keduanya," kata Reta percaya diri.
Dante tersenyum sinis. Dalam hatinya menertawakan Reta yang dengan tidak tahu malu mengatakan ini di depannya. "Bukan mereka yang kuinginkan, tapi Juwita," kata Dante menjelaskan.
"Juwita?" tanya Reta.
"Iya, Juwita. Berikan Juwita padaku dan aku akan membayar semua hutangmu," jawab Dante.
Dante membakar tembakaunya. Lalu menghisapnya dan mengeluarkan asapnya ke udara.
"Dante, aku memiliki dua anak yang cantik. Mereka jauh lebih baik dari Juwita. Jika kau tidak ingin menikahi dua-duanya, maka kau bisa memilih salah satu diantara mereka. Kenapa harus Juwita?" tanya Reta.
Atas dasar apa? Kenapa harus Juwita yang diinginkan Dante yang kaya raya?
"Karena yang aku inginkan hanyalah Juwita," jawab Dante.
"Tapi anak itu sudah menikah. Dia bukan lagi seorang perawan dan dia bukan anak kandungku. Kenapa tidak memilih si kembar saja yang masih terjaga?" tanya Reta.
Reta berharap Dante akan berubah pikiran. Tapi sepertinya dia harus kecewa karena Dante malah memberikannya tatapan setajam pedang.
"Aku tidak peduli Juwita sudah menikah atau belum. Memangnya kenapa kalau dia sudah menikah dan tidak perawan. Aku akan tetap menikahinya nanti. Tapi jangan pernah menganggap dua anakmu itu lebih suci dari Juwita. Apa kau yakin anakmu yang suka berganti-ganti pasangan dan keluar masuk klub malam itu masih terjaga?" sembur Dante.
"Tapi,-"
"Aku tidak kemari untuk mendengarkan permintaanmu. Aku hanya memberimu satu kesempatan untuk terbebas dari hutang dengan memberikan Juwita padaku. Jadi pikirkanlah dan segera beritahu apa keputusanmu!" kata Dante.
Dante bangkit dari duduknya. Sudah terlalu muak untuk tinggal disini lebih lama. Selain itu masih ada pekerjaan penting yang harus dia lakukan. Yaitu menghadiri pertemuan penting dengan klien-klien yang dia rebut dari Anggara.
"Baiklah, aku setuju!" kata Reta menghentikan langkah Anggara.
Reta segera menyusul Dante yang sudah berjalan beberapa langkah. Lalu mengulangi kalimatnya sekali lagi.
"Aku akan memberikan Juwita untukmu. Jadi tolong jaga janjimu untuk membayar semua hutang-hutangku," kata Reta meningkatkan.
Menjual anak yang tidak dia besarkan dengan kasih sayang demi hutang. Sepertinya itu cukup lumayan. Meskipun dia harus mengubur impiannya punya menantu kaya raya. Tapi lupakan saja, toh masih banyak pria kaya lainnya di luaran sana.
"Aku akan membayar semuanya asalkan kau menyerahkan Juwita padaku tanpa luka sedikitpun," janji Dante kemudian pergi begitu saja.
Pria itu benar-benar pergi sekarang. Tanpa tahu apa satu-satunya kesalahan yang dia buat. Kesalahannya adalah tidak mencari tahu latar belakang Jeff yang sudah dia anggap tidak penting karena menganggapnya sebagai berandalan yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa.
...***...