Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 62 Keras Kepala


Juwita segera mengikuti Jeff dari belakang. Tentu saja matanya sempat melirik sebuah cek yang ada di genggaman Yasmine. Sayangnya tulisan itu terlalu kecil untuk bisa dilihat Juwita. Padahal Juwita sangat penasaran berapa banyak yang diberikan Jeff untuknya. Sialan memang. Bagaimana bisa Juwita terjebak dalam situasi seperti ini. Suaminya memberikan uang tepat di depan matanya sendiri. Tentu saja ini membuat Juwita sangat marah.


Sementara Jeffrey, dia bukannya tidak tahu Juwita cemberut. Jeff juga tahu Juwita melirik cek itu. Tapi dimana masalahnya. Dialah pemilik uang itu. Soal kepada siapa dia memberikan, itu urusannya. Toh hanya seratus juta saja.


"Jeff, kau mau menemui klien tanpa membawa apa-apa?" tanya Yasmine saat melihat Jeff tidak membawa apapun.


Menemui klien penting, mereka seharusnya membawa berkas atau semacamnya. Kalau mereka pergi tanpa membawa apa-apa seperti ini, ini terlihat seolah mereka akan pergi kencan saja. Yasmine bahkan tidak pernah pergi berduaan seperti itu bersama Jeffrey selama ini. Bahkan kontak fisik diantara mereka hanya terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saat perkenalan pertama mereka sebelum Jeff kabur dari rumahnya.


"Tidak perlu. Klienku hari ini sangat spesial, lagipula ada asisten pendek ini. Dia pasti sudah mengurus semuanya. Bukankah seperti itu, Juwita?" tanya Jeff dengan menyunggingkan senyum devil di depan sana. Jeff tidak menoleh lagi. Terus berjalan dengan meletakkan satu tangannya di kantong celana sementara satu yang lainnya memainkan ponselnya.


Jeff sengaja menyebut nama Juwita di depan Yasmine. Agar Yasmine tahu siapa nama wanita yang berani menyela percakapannya tadi. Karena percikan api diantara Yasmine dan Juwita sudah menyala, kenapa tidak menambah sampah kering agar apinya semakin besar. Bukankah dengan begitu baru pertikaian diantara mereka akan semakin menarik?


Lalu kita lihat nanti, apa Juwita yang mengaku sebagai istrinya ini pantas menyandang gelar sebagai asisten pribadi Jeffrey. Karena sejak Juwita berani memeluk Jeff dan tidak memberi muka pada Yasmine, semua tugas Juwita langsung berubah saat itu juga. Tidak hanya menjadi asisten seorang Jeff di kantor, tapi juga harus menjadi asisten Jeff di rumahnya. Karena tanpa persetujuan Juwita, Jeff sudah merencanakan sebuah kejutan besar untuk Juwita.


Kalau Juwita bukan istrinya maka anggap saja itu sebagai hukuman untuknya. Tapi kalau Juwita benar istrinya, bukankah istri seorang Jeff harus tangguh dan tidak mudah dikalahkan oleh wanita lain seperti Yasmine?


"Tentu saja. Aku ini sangat profesional, Presdir!" jawab Juwita dengan senyum devil yang lain. Juwita bahkan sudah mendahului Jeff dan berjalan di depannya.


Di situasi seperti ini, Yasmine hanya bisa menghentakkan kakinya. Kecewa dengan Jeff dan cemburu setengah mati pada Juwita di saat yang sama.


Jeff dan Juwita semakin jauh. Lalu beberapa bodyguard langsung sigap dengan tugasnya, yaitu menyuruh Yasmine keluar dari ruangan Jeff karena Jeff tidak suka seseorang berlama-lama di ruangannya.


Sementara itu di sepanjang perjalanan, tidak ada yang Juwita dan Jeff katakan. Jika ada suara mungkin itu hanya suara sol sepatu milik Juwita dan Jeff. Tidak, suara sepatu milik Juwita lebih dominan karena sepatu hak tinggi itu seolah ingin menghancurkan lantai perusahaan. Menolak pelukannya, memberikan uang tepat dihadapannya. Lihatlah berapa banyak pelajaran yang akan Juwita berikan pada Jeff nanti.


Jeff tersenyum tipis menyadari tingkah Juwita. Lalu memperhatikan Juwita dan melihat langkah percaya diri dari sepasang kaki mulus itu. Keheningan baru pecah saat sopir pribadi dan bodyguard khusus mempersilahkan Jeff naik ke mobil.


"Hari ini tidak perlu mengikutiku. Gunakan ini untuk bersenang-senang dan pulang lebih awal. Anggap saja hari ini kalian libur," kata Jeffrey dengan memberikan tips kepada bodyguardnya sebelum mengambil alih kemudi.


Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Juwita setelah ini. Jadi mana mungkin Jeff membiarkan seseorang mengikutinya. Jeff sudah sangat penasaran apa jawaban Juwita, terlebih bagaimana peristiwa kecelakaan itu. Jeff sudah akan membuka mulut, tapi rupanya dia kalah cepat. Karena sekarang ini Juwita sudah membuka obrolan terlebih dulu.


"Berapa banyak yang kau berikan padanya?" tanya Juwita.


Meskipun wajahnya menghadap ke kaca jendela, Jeff tahu Juwita sedang marah. Terlihat jelas dari nada bicaranya. Sangat acuh tapi jujur saja ini membuat Jeff semakin tertarik. Biasanya seseorang akan melakukan apapun untuk menarik perhatiannya. Tidak akan pernah memalingkan muka seperti yang Juwita lakukan saat ini.


"Bukan urusanmu. Kau itu hanya orang yang mengaku sebagai asistenku bahkan sebelum aku menerimamu," jawab Jeffrey.


Juwita akhirnya menoleh. Tapi Jeff mengabaikannya dan semakin mempercepat laju kendaraannya. Dan tujuannya adalah rumahnya sendiri. Rumah yang tidak sebesar milik kakek atau orangtuanya tapi memiliki harga yang melebihi harga rumah mereka.


"Kalau kau sangat senggang. Lebih baik kau menggunakan waktumu untuk mencari anak kita. Karena kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan pernah memaafkan orangtua dan nenekmu itu, Jeff!" kata Juwita.


Juwita menatap Jeff dengan mata lebar sempurna. Lalu segera meralat kata-katanya yang salah. "Ah, maksudku adalah aku bisa saja membunuh mereka bertiga, Jeffsa!" ulang Juwita.


"Aku Jeffrey bukan Jeffsa," tolak Jeff.


Tapi Juwita tidak peduli dengan perbedaan itu. Karena Jeffrey atau Jeffsa semuanya sama saja. "Kita pergi ke alamat ini sekarang!" kata Juwita dengan menyerahkan alamat rumah mereka yang sudah terbakar. Berharap Jeff mengingat sesuatu meskipun sudah tidak ada yang tersisa di rumah kecil itu.


Jeff melirik alamat yang disodorkan Juwita. Lalu berpaling muka setelah mengingat dimana tempatnya. "Disini aku adalah bosnya dan kau bawahanku. Kenapa juga aku harus mengikuti perintahmu? Bukankah seharusnya kau yang mengikuti perintahku?" tanya Jeff dengan senyum tipis.


Jeff segera turun dari mobil. Lalu menarik Juwita bersamanya. Ribuan pertanyaan yang tidak pernah Jeff dapatkan jawabannya, Jeff berharap Juwita bisa menjawab semuanya.


Benar saja. Di ruangan pribadi milik Jeff itu, Juwita menjawab semua pertanyaan yang Jeff ajukan dengan lancar. Bahkan meskipun Jeff mengulang beberapa pertanyaan secara acak jawabannya tetaplah sama. Sangat banyak yang mereka katakan. Tentang kecelakaan. Tentang Jouvis yang kemungkinan tertukar dengan Rayyan dan masih banyak lagi. Sejak matahari masih diatas kepala sampai sudah hampir tenggelam di ujung barat. Baiklah, Jeff merasa semua yang dikatakan Juwita masuk akal. Tapi Jeff masih belum percaya sepenuhnya. Karena bagaimanapun juga tidak ada satupun bukti tertulis yang membuat Jeff yakin. Untuk saat ini, satu-satunya pilihan Jeff adalah menahan Juwita dan memastikannya hidup sampai Jeff bisa membuktikan semua kata-kata Juwita adalah benar.


"Ini untukmu!" kata Jeff akhirnya.


"Ini apa?" tanya Juwita ketika Jeff menyerahkan sebuah kunci.


"Kunci kamarmu," jawab Jeffsa.


Jeff melirik jam ditangannya. Lalu segera bangkit sebelum acara ulang tahun neneknya dimulai. "Dalam sepuluh menit seseorang akan mengantar gaun untukmu. Jadi segera pergi ke kamarmu dan bersiap-siap!" titah Jeffrey.


"Aku tidak mau," tolak Juwita.


Tidak hanya mengembalikan kunci kamar yang diberikan untuknya. Juwita juga sudah bangkit untuk pulang ke rumah Kakek Ham. Tapi sayangnya, mulai hari ini dan seterusnya Juwita tidak lagi memiliki kebebasan untuk datang dan pergi sesuka hatinya lagi. Karena rumah Juwita sekarang adalah rumah Jeffrey. Bukan yang lainnya.


"Tidak mau? Yang mana yang tidak kau inginkan?" tanya Jeffrey.


"Dua-duanya aku tidak mau!" jawab Juwita.


"Apa kau pikir kau bisa menolak?" tanya Jeffrey.


...***...