
Juwita terus melihat hasil USG miliknya selama perjalanan pulang. Sama seperti yang Jeff katakan tadi pagi, sebuah janin memang telah terbentuk dan mulai berkembang di dalam rahimnya. Juwita menyentuh foto yang masih berupa bulatan kecil itu, lalu tersenyum dan menyembunyikan wajahnya agar tidak dilihat oleh Jeffsa. Apa dia benar-benar akan jadi seorang ibu?
Juwita mengalihkan pandangannya ke kaca. Rasanya seperti mimpi untuk sampai di tahap ini. Juwita masih seorang anak kecil kemarin. Yang hanya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama orangtuanya setiap hari. Dia masih ingat bagaimana ayah dan ibunya selalu menciumnya saat dia membuka mata di pagi hari. Sarapan bersama, mengantar ayahnya pergi bekerja lalu menyambut kepulangan sang ayah di sore hari. Dan hari-harinya akan ditutup dengan ciuman dua malaikat itu lagi sebelum dia tidur.
Sayangnya kehangatan itu tidak berlangsung lama. Karena malam suatu malam, Juwita harus melihat dua malaikat itu kembali ke surga tepat di depan matanya.
Kini, Juwita kembali menunduk. Menyentuh perutnya sendiri dan membisikkan janjinya kepada calon buah hatinya disana. Berjanji bahwa dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah orangtuanya lakukan untuknya. Membangunkannya setiap pagi dengan ciuman, menemaninya bermain dan belajar sepanjang hari, tentu saja sesekali juga harus membawanya pergi mengantar bekal untuk ayahnya di kantor. Hanya dengan membayangkannya saja, Juwita sudah sangat senang.
Ingin sekali waktu segera berlalu agar dia cepat melahirkan dan melihat wajah anaknya. Tapi rasanya tidak adil jika langsung seperti itu karena biar bagaimanapun juga semuanya harus berproses secara natural. Bukankah Juwita harus mengalami morning sickness atau hal lainnya yang biasanya dialami oleh ibu hamil dulu? Ngidam misalnya.
Ngomong-ngomong, kira-kira apa jenis kelamin anaknya nanti. Laki-laki atau perempuan? Lalu bagaimana dengan wajahnya. Mungkinkah seperti fotokopian ayahnya seperti kebanyakan kasus?
Juwita melirik Jeff dengan tatapan penuh cinta. Rasanya sangat iri jika anaknya nanti harus memiliki wajah plek ketiplek seperti ayahnya. Kan Juwita yang akan membawanya kemana-mana selama sembilan bulan? Bukankah tidak adil jika tidak ada sentuhan kemiripan dari ibunya?
Tapi setelah menyadari setampan apa wajah Jeff, rasanya tidak masalah juga. Malahan sekarang Juwita sudah mulai berdoa, agar anaknya nanti persis seperti ayahnya. Parasnya, sifatnya, sikapnya, terutama tinggi badannya.
"Wi, kenapa?" tanya Jeff saat menyadari Juwita terus-terusan melihatnya.
Jeff memarkirkan mobilnya di teras rumah. Kebetulan masjid di depan gang sudah dalam proses pembangunan ulang, jadi Jeff bisa membawa mobilnya masuk ke halamannya sendiri.
"Jaga dirimu baik-baik, Jeff!" kata Juwita.
Jeff tersenyum. Lalu melepaskan sabuk pengamannya sebelum memegang tangan Juwita. "Sayang, kaulah yang harus menjaga dirimu baik-baik. Karena di perutmu ini sudah ada calon anak kita," kata Jeffsa.
Jeff menyentuh perut yang masih rata. Lalu menciumnya terlebih dulu sebelum mencium pipi Juwita.
"Jeff, menurutmu apa kita bisa menjadi orangtua yang baik nanti?" tanya Juwita.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi yang pasti, kita akan berusaha memberikan yang terbaik untuknya kan?" jawab Jeffsa.
Juwita tersenyum lalu memegang tangan Jeff dengan erat. "Lalu, bisakah kau menjanjikan satu hal untukku?" tanya Juwita.
"Apa?" tanya Jeffsa. Jangankan satu, seribu pun Jeff bisa memberikannya jika itu untuk Juwita.
"Jangan mati terlalu cepat. Jangan pernah berpikir untuk mati sebelum anak kita dewasa dan membangun rumah tangganya sendiri," jawab Juwita.
Juwita mengatakannya dengan ekspresi yang berbeda. Dan itu tidak bisa disembunyikan dari Jeffsa. Jeff tahu betul, Juwita hanya sangat khawatir dengan masa depan anaknya yang belum lahir karena Juwita pernah mengalami hari yang sulit tanpa orangtua.
"Aku janji. Aku akan tetap hidup bersamamu. Memiliki banyak anak, memiliki banyak cucu dan terus bersamamu sampai kita menua. Lagipula kenapa aku harus mati. Kita bahkan belum melihat kakinya menendang perutmu. Belum begadang untuk mengganti popoknya atau membuatkannya susu. Belum membacakan dongeng sebelum tidur dan aku belum mengajarinya memanggilmu dengan sebutan mama. Jadi bagaimana mungkin aku mati," kata Jeffsa menenangkan Juwita.
Air mata Juwita nyaris tumpah. Apa sih yang baru saja dia katakan. Bagaimana bisa dia meminta janji soal hidup dan mati kepada Jeffsa? Bukankah soal hidup dan mati sudah ada takdirnya. Tapi jika boleh, jika diantara mereka bertiga ada yang mati duluan, Juwita sangat bersedia mati lebih dulu.
Juwita tidak bisa hidup tanpa Jeff dan anaknya. Sementara Jeff, dia pasti akan bertahan hidup meskipun Juwita mati karena ada anak diantara mereka. Lalu anaknya nanti, seharusnya dia akan tetap hidup layak karena ada ayah yang akan selalu menjaganya. Tapi, doa tertinggi Juwita tentu saja bisa hidup lebih panjang bersama mereka.
"Hei, kenapa malah menangis. Bukankah seharusnya kau senang?" kata Jeff sembari menghapus air mata Juwita yang menggenang.
Jeff mengacak-acak rambut Juwita. Setelah dia tenang, Jeff mengulurkan tangannya untuk membantunya melepas sabuk pengaman. Tapi sepertinya Juwita telah salah paham atas pergerakan Jeffsa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Juwita dengan mendorong Jeff.
"Sayang, aku hanya ingin membantumu melepaskan sabuk pengaman. Apa sih yang kau pikirkan. Apa kau pikir aku akan meminta jatahku disini saat tetangga kita berlalu-lalang?"
Jeff tidak hanya menggoda Juwita dengan memainkan dua alisnya. Tapi juga mengedipkan matanya dengan genit. Juwita yang terlanjur malu akhirnya mencari sebuah alasan yang sekiranya masuk akal untuk menyelamatkan wajahnya.
"Aku tahu itu. Maksudku tadi adalah aku bisa melepas sabuk pengaman ini sendiri. Jadi kau tidak perlu membantuku," kata Juwita.
"Wi, jangan berbohong. Aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Jeffsa.
"Jeff, jangan salah paham! Apa sih yang kau pikirkan. Kenapa kau selalu saja mesum begini?" omel Juwita kemudian segera turun dari mobil dan disusul oleh Jeff.
Juwita segera masuk ke rumah. Mengambil segelas air dan masuk ke kamar. Tentu saja yang dilakukan Jeff hanyalah mengikuti ibu hamil itu dari belakang.
"Wi?" panggil Jeff lagi.
"Eum," sahut Juwita.
"Apa aku tidak boleh menjenguk anakku?" tanya Jeff. Pria itu tidak hanya sudah naik ke ranjang tapi juga sudah rebahan di ranjang bagiannya. Bahkan memberikan sebuah kode agar Juwita segera naik ke posisinya.
"Tidak boleh!" jawab Juwita tanpa menoleh. Sepertinya menghapus make up adalah prioritasnya saat ini.
"Kenapa tidak boleh. Aku kan bapaknya, Wi?" protes Jeffsa.
"Kau bisa melukai anakku, Jeff!" jelas Juwita. Tapi yang ditolak tidak menyerah begitu saja.
"Wi, dia itu anakku juga. Aku bisa pelan-pelan. Aku janji, jadi ayo!"
"Kau selalu bilang begitu setiap akan memulai Jeffsa! Tapi kau juga selalu mengingkari kata-katamu. Apanya yang pelan-pelan, bukankah selama ini kau selalu,-"
"Selalu apa?" tanya Jeff saat Juwita tidak melanjutkan kalimatnya.
"Bukan apa-apa," jawab Juwita.
Juwita segera naik ke ranjang. Lalu tidur dengan posisi membelakangi suaminya dan memejamkan mata untuk tidur siang. Jeff yang berhasil membuat Juwita marah tersenyum lebar. Lalu menghujaninya dengan ciuman.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan puasa. Tapi Wi, jika selama sembilan bulan kau tidak memberiku makan. Bagaimana kalau burungku mati?" canda Jeffsa.
Juwita yang sebelumnya menutup mata akhirnya bangkit. Lalu memberikan hujan cubitan di seluruh tubuh Jeffsa. "Jangan bercanda. Kalau dia mati, maka potong saja dan kubur di halaman depan."
...***...