
PRANG
Suara gaduh terdengar dari rumah berlantai dua yang cukup mewah. Rumah mewah yang Juwita tinggalkan sejak usianya menginjak 12 tahun dan memilih pergi bersama Sadewa untuk tinggal di rumahnya. Rumah itu adalah rumah keluarga angkat Juwita.
Mama Reta yang mendengar suara barang pecah pun bergegas lari kelantai dua menuju sumber suara.
"Gara?" pekik Mama Reta ketika melihat Anggara baru saja menyapu bersih isi meja yang ada di depannya dan membuat semua barang itu berserakan di lantai yang sebagian besar pecah.
"Gara, kamu ini kenapa sih, Nak?" tanya Mama Reta heran.
Anggara menoleh, memberikan tatapan benci kepada mamanya sendiri yang berdiri di ambang pintu. Seorang mama yang tidak pernah mengabulkan satu-satunya permintaannya untuk tidak memungut Juwita sebagai anak angkat setelah mamanya menabrak orang tua Juwita sampai mati.
"Ini semua salah mama!" kata Gara menyalahkan mamanya.
"Salah mama, memangnya apa yang mama lakukan, Gara?" tanya Mama Reta.
"Karena mama tidak mau dengerin kata Gara, Ma?" jawab Gara.
"Maksud kamu apa sih, Sayang?" tanya Mama Reta. Wanita jahat itu butuh penjelasan atas kesalahan yang dilimpahkan Anggara padanya.
"Salah mama karena memungut Juwita jadi anak mama," jawab Gara dengan nada tinggi.
"Anggara, meskipun Juwita jadi anak mama tapi dia tidak pernah mendapatkan apapun. Status sebagai anak mama itu hanyalah status di atas kertas semata agar mama dan papa terbebas dari hukuman berat. Kasih sayang mama dan papa hanya buat kamu dan dua adik kembarmu. Jadi apa yang membuat kamu marah sampai memecahkan barang-barang?" jelas Mama Reta.
"Karena Gara tidak suka, Ma! Gara tidak mau Juwita jadi adik angkat Gara!" ucap Gara.
"Anggara, suka tidak suka apa itu masih penting. Anak itu sudah pergi dari rumah ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Lagipula kenapa membahas ini lagi sih. Bukannya kamu juga tidak suka Juwita. Kamu tidak pernah peduli sama Juwita selama ini. Jadi kenapa sekarang malah sampai marah-marah dan menyalahkan mama?" protes Mama Reta.
Wanita itu berjalan mendekat. Mencoba berbicara dengan anak tertuanya dengan jarak yang lebih dekat.
"Ma, Gara tidak mau tahu. Mama harus segera mengajukan pembatalan adopsi Juwita secepatnya," pinta Anggara.
"Apa pembatalan adopsi itu penting?" tanya Mama Reta.
"Tentu saja penting. Karena jika status Juwita masih adik angkat Gara, Gara tidak akan pernah bisa menikahi Juwita, Ma!" jawab Gara.
"Gara, apa kamu menyukai anak sialan itu?" tanya Mama Reta.
"Gara cinta sama Juwita. Gara tidak ingin Juwita jadi adiknya Gara. Gara mau Juwita jadi istri Gara, Ma!" jawab Anggara.
PLAK
Sebuah pukulan mendarat di pipi Anggara. Mama Reta sangat marah. Bagaimana bisa Anggara jatuh cinta dengan anak miskin yang dengan susah payah ingin dia singkirkan itu. Sampai matipun dia tidak akan pernah setuju.
"Pukul Gara, Ma. Pukul!" tantang Gara.
"Anggara!"
"Ma, Mama punya dua pilihan sekarang. Segera urus pembatalan adopsi itu secepatnya atau Gara akan kasih tahu papa kalau Anggika dan Anggita itu bukan anak papa. Tapi anak dari pria selingkuhan mama," ancam Gara.
"Anggara, kamu berani mengancam mama? Meskipun mama urus pembatalan itu, apa masih ada gunanya. Juwita sudah menikah dengan berandalan itu kan?" tanya Mama Reta.
"Ma, mama cuma perlu urus pembatalan adopsi. Soal berandalan itu, Gara bisa menyingkirkannya," kata Gara.
"Tapi mama tidak mau punya menantu seperti Juwita. Mama tidak mau melihat wajah itu selamanya. Mama tidak akan merestui kalian menikah sampai matipun," tolak Mama Reta.
"Anggara bisa bawa Juwita pergi jauh supaya mama tidak bisa melihat Juwita. Anggara bisa pergi dan hidup diluar sana," kukuh Gara.
"Cih," umpat Mama Reta.
"Mama akan mengurus semuanya," jawab Mama Reta.
Wanita itu akhirnya mengalah. Memilih menyenangkan hati Anggara dulu agar Anggara tidak membuka rahasianya bahwa Anggika dan Anggita bukan adik kandungnya. Lalu membereskan Juwita nanti. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah rela jika Anggara harus menikah dengan Juwita.
.
.
.
"Menikah dengan Jeff ternyata sangat menyenangkan seperti ini, ya? Mau nyuci sudah ada mesin cuci. Tidak perlu repot-repot masak. Mau makan tinggal pesan, malahan sering-sering dikirimin Mbak Natalie atau Mbak Ayunda. Membersihkan rumah mini ini juga tidak ada capeknya sama sekali," gumam Juwita senang.
Juwita segera menghempaskan bokongnya ke sofa. Menyalakan televisi berukuran sedang itu dengan ditemani keripik umbi pemberian tetangganya.
"Tetangga-tetangga itu juga sangat menyenangkan. Tidak ada julid-julidnya sama sekali," puji Juwi sekali lagi sambil melirik area dapur yang penuh dengan beberapa hasil panen pemberian tetangganya yang memiliki ladang.
Dua minggu sudah Juwita menjadi istri dari seorang pria yang dikenal berandalan bernama Jeff. Tapi tidak ada perbedaan berarti dari status lajang menjadi seorang istri. Karena Juwita masih sangat bebas. Malah bisa dikatakan jauh lebih bebas dari sebelumnya.
Sangat bebas ingin bangun jam berapapun dia mau. Bebas melakukan apapun yang dia suka dan yang paling tidak Juwita sangka adalah Jeff memegang kata-katanya waktu itu. Mereka tidur di kamar terpisah karena Jeff tidak suka anak-anak dan tentunya tidak ada acara unboxing seperti yang Jeff katakan hari itu.
Jeff bahkan terkesan membiarkan saja saat melihat Juwita sering terlihat santai dan terciduk sedang ngerumpi bareng tetangganya.
Jeff baru akan menegurnya ketika Juwita melupakan satu-satunya kewajibannya, yaitu menyiapkan makan untuk Jeff karena terlalu asyik bermain dengan anak-anak Ayunda dan Azzam yang tingginya seperti anak tangga. Dari empat anak, yang paling besar berumur 8 tahun dan yang terkecil berumur 2 tahun. Belum ditambah anak-anak milik Natalie yang juga sering nimbrung bareng.
Selama dua minggu ini pula Juwita masih tidak tahu apa pekerjaan Jeff. Juwita tidak bertanya dan enggan bertanya karena sudah pasti Jeff enggan menjawab. Toh Jeff sudah mengatakan di awal dia tidak suka urusan pribadinya dicampuri, jadi biarkan saja. Bukannya tidak penasaran sebenarnya, tapi Ayunda sudah mengatakan tidak perlu mencemaskan pekerjaan Jeff dan memintanya untuk percaya saja pada Jeff.
Meskipun Juwita tidak tahu pekerjaan suaminya, tapi selalu ada uang yang Jeff sediakan di laci. Uang itu bebas Juwita gunakan sesuka hatinya. Tentu saja sebelumnya Jeff juga mengingatkan Juwita untuk membayar iuran, tagihan bulanan dan teman-temannya sebelum menghabiskan semuanya.
Saat ini Jeff pergi entah kemana. Suaminya itu tidak pernah bilang akan kemana saat keluar rumah. Dia hanya akan bilang aku pergi dulu atau aku akan pulang malam tanpa mengatakan kemana tujuannya.
TING
Ponsel Juwita berbunyi. Juwita segera membersihkan tangannya yang penuh dengan bumbu dari keripik kentang yang dia makan dengan memasukkannya ke mulut dan mengelapnya di celana.
Mata Juwita membesar ketika membaca sebuah notifikasi bahwa dia diterima sebagai karyawan magang di sebuah perusahaan besar di kota itu, Adhyaksa Group.
"Yes!" sorak Juwi.
Rupanya sorakannya di dengar oleh Jeff yang baru saja kembali ke rumah. "Pesan dari Sadewa?" tanya Jeff sambil meletakkan helm di sebuah rak khusus.
Juwita menoleh. "Jeff, aku di terima kerja di perusahaan besar. Apa akhir pekan nanti kau sibuk? Aku ingin mentraktirmu makan diluar sebagai perayaan!" ajak Juwita berbunga-bunga.
"Makan diluar?" tanya Jeff
"Eum, makan apapun sesukamu," jawab Juwita.
"Apa hal seperti itu perlu dirayakan. Kau bahkan belum bekerja dan gajian," omel Jeff.
"Ini adalah pertama kalinya aku kerja. Apa kau tidak ingin menyemangatiku?" tanya Juwita.
"Terserah kau saja," kata Jeff lalu masuk ke kamarnya.
Jeff segera masuk ke kamar mandi. Mulai membuka pasta gigi dan menggosok giginya. Tapi ajakan Juwita sedikit mengganggunya. Kenapa harus akhir pekan kalau bisa dilakukan hari ini? Jadi, tanpa berpikir dua kali Jeff langsung keluar dari kamar mandi untuk mencari Juwita.
"Segera ganti bajumu. Kita makan diluar hari ini."
...***...