
Hari ini Juwita duduk santai di teras rumahnya bersama Natalie dan Ayunda. Tidak ada hal khusus yang mereka lakukan, mereka hanya ngobrol santai sambil momong anak selagi menunggu tukang sayur keliling.
Sebelumnya, Jeff meminta Natalie dan Ayunda untuk menemani Juwita jika mereka tidak repot. Maklum, Juwita sedang hamil anak pertama dan mereka tidak punya siapa-siapa. Prita dan Caca sibuk dengan pekerjaannya, Melodi sendiri juga sedang hamil. Sementara Nindi juga merawat suaminya sendiri yang masih belum pulih. Jadi mereka hanya bisa bergantung dengan tetangga baiknya.
"Wi, kamu pengen makan sesuatu nggak?" tanya Natalie. Kebetulan mereka sudah tahu Juwita hamil. Semua berawal dari Jeff yang memberitahu Natalie lalu berita itu langsung menyebar sehingga semua tetangganya tahu.
"Enggak, Mbak!" jawab Juwita.
"Kalau mau makan apa-apa jangan ditahan. Bilang aja sama Mbak Ayun atau Mbak Natalie," kata Ayunda yang sedang menyuapi anaknya yang paling kecil.
Juwita hanya tersenyum. Sebenarnya tidak ada makanan khusus yang sangat ingin dia makan sejak dia hamil. Juwita tidak tahu kenapa, tapi sepertinya hanya bawaan bayi saja. Tapi jika boleh jujur, Juwita merasa makanan apapun terasa sangat lezat jika yang memberikannya adalah suaminya. Entah itu beli, masak sendiri, atau pemberian tetangganya sekalipun. Yang penting makanan itu sudah mendapatkan sentuhan dari tangan Jeff sebelum masuk ke mulutnya. Manja? Tentu saja tidak. Itu hanya bawaan bayi. Titik!
Di tengah waktu santai dan obrolan ringan itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah Juwita. Setelah tahu siapa yang datang Juwita pun segera bangkit dan diikuti oleh Natalie dan Ayunda.
"Pulang ke rumah sekarang!" kata Mama Reta.
Wanita itu sudah berdiri di depan Juwita lengkap dengan empat pengawal. Tanpa salam tanpa say hi, dia sudah berbicara tidak sopan di rumah orang lain. Mulutnya memang mengajak pulang tapi ekspresi jijik itu tidak bisa disingkirkan dari wajahnya yang menjijikkan.
"Kau bicara dengan siapa?" tanya Juwita.
Juwita sangat santai meskipun kedatangan tamu tak diundang ini. Juwita sudah bukan anak kecil lagi, sudah bukan Juwita yang penurut yang akan selalu bilang iya jika disuruh. Jadi meskipun mama angkatnya ini membawa pengawal sekalipun dia tidak takut. Toh hanya empat orang saja dan Juwita tidak sendirian. Ada Ayunda dan Natalie di sampingnya. Lalu belasan meter di depan sana ada pria-pria tetangganya yang sibuk membangun masjid. Kalau mereka berani mencari masalah, Juwita hanya perlu berteriak dan sampah masyarakat ini akan habis.
"Tentu saja bicara denganmu. Memangnya siapa lagi?" sahut Mama Reta.
Juwita menanggapi jawaban itu dengan senyum sinis. Apa wanita ini sedang bercanda?
Saat Sadewa membawanya pergi beritahu-tahun lalu, dia bahkan tidak pernah mencarinya atau memintanya pulang. Juwita hidup atau tidak, kenyang atau tidak dia juga tidak pernah peduli. Jadi sebenarnya apa yang membuatnya berubah pikiran sampai meminta Juwita kembali?
Mau membawa Juwita pulang?Mimpi saja sana. Karena apapun alasannya Juwita sudah tidak peduli. Kenapa juga dia harus pulang? Tempat seperti apa yang wanita ini sebut sebagai rumah sementara bagi Juwita rumahnya adalah Jeffsa itu sendiri.
"Pergi! Kedatanganmu tidak diterima disini!" usir Juwita. Sepertinya Juwita tidak ingin berkompromi dengan orang asing ini lagi.
"Juwita, kau harus ikut denganku sekarang juga!" kata Mama Reta mulai emosi.
Tangannya sudah mengepal. Jika bisa diumpamakan, sepertinya sudah muncul kepulan asap dari dua lubang telinganya.
"Apa kau tuli? Aku sudah mengusirmu tadi. Kalau kau mau pulang, pulang saja sendiri. Bukankah kau punya kaki?" kata Juwita sewot.
Mendengar kalimat Juwita dan melihat ekspresi Mama Reta, Ayunda pun segera bereaksi. Dia meminta anaknya memanggil pria-pria tetangga karena sepertinya situasinya tidak baik. Sementara Natalie pun ikut-ikutan mengusir Mama Reta.
"Sudah, pergi sana! Jangan pernah berpikir untuk kembali dan meminta Juwita ikut denganmu lagi. Selamanya dia tidak akan ikut denganmu!" timpal Natalie.
"Apa yang sebenarnya kau banggakan tinggal di tempat kumuh seperti ini, Juwita?" bentak Mama Reta dengan menggebrak meja. Ayunda dan Natalie terkejut setengah mati hingga terjingkat tapi Juwita biasa saja karena dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya.
"Urusanku, tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Jadi cepatlah pergi sebelum aku marah!" kata Juwita.
Juwita masih bisa bersabar. Tapi Mama Reta tidak mengerti bahwa kesabaran Juwita juga ada batasnya. Wanita paruh baya itu bahkan mulai mengolok dan merendahkan Jeff juga orang-orang baik yang hidup berdampingan dengan Juwita.
"Sekarang itu jadi urusanku. Apa bagusnya suamimu yang melarat itu. Apa bagusnya tinggal dengan manusia rendahan seperti ini. Jadi ikut aku pulang sekarang juga karena aku punya calon suami yang lebih baik untukmu. Dante Adhyaksa, bukankah seharusnya kau tahu dia siapa. Aku akan membuatmu menikah dengannya secepatnya. Jadi ceraikan suamimu yang miskin itu dan ikut denganku sekarang!" teriak Mama Reta.
"Berisik!" teriak Juwita.
Juwita menyambar satu teko teh panas yang sejatinya dia suguhkan untuk Natalie dan Ayunda. Lalu mengguyurnya tepat ke wajah Mama Reta tanpa belas kasih. Guyuran itu sukses membuat Mama Reta berteriak kesakitan dan ditolong oleh pengawalnya.
"Kau, dasar anak durhaka. Lihat bagaimana aku akan memberimu pelajaran nanti!" teriak Mama Reta.
Mama Reta segera bangkit. Tujuannya sudah pasti rambut Juwita untuk menjambaknya. Ayunda dan Natalie segera pasang badan. Berniat melindungi Juwita yang tengah hamil. Tapi diluar dugaan, Juwita sudah lebih dulu maju dan memberikan tamparan keras sehingga membuat wanita itu kembali tersungkur ke lantai.
Bukan tanpa alasan Juwita berani menamparnya. Juwita tahu betul tabiat Mama Reta yang matre. Dia pasti menginginkan menantu kaya seperti Dante. Tapi, yang membuat Juwita marah adalah kenapa harus dia yang dipaksa. Bukankah Mama Reta punya dua anak perempuan?
"Kalau kau mau menantu kaya seperti Dante. Nikahkan saja anakmu sendiri dengannya. Aku ini hanya orang asing. Tidak ada hubungan darah diantara kita jadi jaga batasanmu!" kata Juwita.
"Aku juga ingin seperti itu Juwita. Aku ingin dia menikahi salah satu putri kandungku. Tapi syarat yang dia inginkan untuk membuatnya bersedia melunasi semua hutangku adalah menyerahkan dirimu. Apa kau pikir aku mau datang ke rumah bobrok ini jika bukan demi itu?" teriak Mama Reta.
"A-apa?" tanya Ayunda dan Natalie bersamaan.
Mereka tidak menyangka akan ada wanita semacam ini yang hidup di dunia. Sementara Juwita, dia kembali tersenyum sinis. Lalu mendekati Mama Reta yang masih tersungkur di lantai dan memberikan tamparan keras lainnya.
"Dengarkan ini baik-baik. Aku ini bukan barang yang bisa sesuka hatimu kau jual!" kata Juwita.
Mama Reta yang mendapatkan perlakuan seperti ini tidak terima. Dia segera meminta empat pengawalnya membawa Juwita dengan paksa. Tapi bala bantuan datang disaat yang tepat. Pria-pria dewasa yang sedang sibuk membangun masjid itu sudah datang lengkap dengan cangkul dan alat apapun ditangannya. Lalu tanpa komando langsung menghajar keempat pengawal itu hingga tak terlihat seperti manusia.
"Wi, kamu nggak apa-apa?" tanya Ayunda dan Natalie panik.
Juwita hanya menggelengkan kepalanya. Lalu segera menghubungi Jeff saat itu juga.
"Jeff, pulang sekarang! Aku ingin membawamu pergi menemui mantan atasanku!"
...***...