Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 40 Ramalan


Jeff menarik Juwita pergi. Diikuti Alan dan Sadewa yang masing-masing membawa Caca dan Melodi di belakangnya. Ketiganya berpencar di persimpangan jalan. Meninggalkan dua orang yang sedang kasmaran itu agar mereka bisa merancang pernikahan impian dengan leluasa.


Sementara itu, Jeff dan Juwita terus berjalan. Melewati beberapa stand tanpa bicara sepatah katapun juga. Jeff melirik Juwita, tapi yang dilirik sibuk dengan dunianya sendiri.


"Mau es krim?" tanya Jeff saat mereka melewati kedai es krim.


"Tidak," jawab Juwita.


"Mau kentang?" tanya Jeff lagi setelah dalam beberapa langkah melihat penjual kentang.


Juwita hanya menggeleng. Jeff yang menyadari perubahan mood istrinya pun memintanya berhenti. "Kau kenapa. Apa kau tidak enak badan?" tanya Jeffsa dengan menekan dua pipi Juwita.


"Aku baik-baik saja," jawab Juwita.


"Lalu kenapa mukamu begitu, hm?" tanya Jeff lagi.


"Kenapa, apa ada yang aneh dengan mukaku?" tanya Juwita.


Juwita mengeluarkan cermin kecil dari tas milik Jeffsa. Lalu memeriksa apakah ada yang aneh dengan wajahnya. Tapi semuanya baik-baik saja sehingga Juwita menyimpan kembali cermin kecil itu ke tas milik Jeffsa.


"Wi, apa kau ingin sesuatu?" tanya Jeff lagi. Pria jangkung itu merendahkan kepalanya. Lalu melihat bola-bola mata Juwita yang bening dengan seksama.


"Jangan terlalu dekat. Aku tidak bisa bernafas!" Juwita mendorong Jeff kebelakang. Wajah itu terlalu tampan untuk dilihat. Pipi gembul Juwita bahkan sudah berubah menjadi pipi tomat. Tapi Jeff yang di dorong tidak berpindah walaupun hanya setengah centi.


"Wi, kau juga ingin dicium kan?" tanya Jeff lagi. Kini bukan lagi pipi yang dia pegang tapi dagu Juwita yang Jeff mainkan seperti anak kucing.


Mata Juwita membesar mendengarnya. Siapa juga yang mau dicium. Tapi ekspresi yang ditunjukkan Juwita membuat Jeff semakin tertarik untuk menggodanya. "Sudahlah! Tahan-tahan saja sampai di rumah. Lalu serahkan sisanya padaku nanti. Aku akan melayanimu dengan baik," bisik Jeff sembari melayangkan sebuah ciuman di kening Juwita.


Jeff kembali menggenggam tangan Juwita untuk berkeliling. Sesekali Jeff mengangkat tangan itu, menciumnya berkali-kali dengan senyum yang terukir sepanjang waktu sehingga membuat Juwita salah tingkah. Mereka baru berhenti saat melihat ke sebuah stand yang lumayan banyak pengunjung meskipun tidak menjual sesuatu.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Juwita.


Jeff membaca tulisan yang ada di atas, lalu menarik Juwita pergi setelah tahu tempat ini adalah stand peramal. "Aku percaya Tuhan dan aku tidak percaya ramalan. Kita pergi saja, ayo!" ajak Jeffsa.


Juwita tidak menolak. Dia mengikuti Jeff karena dia juga tidak percaya akan ramalan. Tapi langkahnya terhenti saat Jeff tiba-tiba berhenti karena peramal itu mengatakan sebuah ramalan dengan suara keras.


"Dua anak manusia yang saling mencintai akan menerima kabar bahagia. Sayangnya kebahagiaan tidak berlangsung lama karena terhalang restu dari keluarga pria yang merupakan sang penguasa. Cinta yang pernah bersemi layu, hidup terpisah dan tidak mengenal. Semoga ada keajaiban dari Tuhan. Semoga ada akhir yang bahagia. Semoga akhirnya mereka disatukan kembali oleh kekuatan cinta!"


Jeff melirik peramal yang sudah membuka matanya sehingga tatapan mereka saling beradu. Sumpah, meskipun Jeff tidak tahu untuk siapa ramalan itu ditujukan tapi itu sangat merusak moodnya.


Jeff sangat ingin menghajar peramal itu hingga babak belur. Tapi menghajar peramal tanpa alasan yang logis juga sangat tidak dibenarkan. Akhirnya Jeff mengalah, hanya bisa menahan amarahnya lalu membawa Juwita pulang ke rumah tanpa berpamitan dengan yang lainnya.


.


.


.


"Jeff?" panggil Juwita.


"Hm?" sahut Jeffsa.


Pria itu hanya menoleh, tapi kembali meringkuk di ranjangnya. Selain itu, tidak ada yang Jeff lakukan. Sementara Juwita yang melihat itu segera meletakkan teh hangat di meja sebelum duduk di samping Jeff.


"Jeff, kau kenapa. Apa karena ucapan peramal tadi?" tanya Juwita.


Kini giliran Juwita yang mencium tangan Jeffsa berkali-kali sehingga membuat pria itu memeluk pinggang ramping milik Juwita.


"Wi?" ucap Jeff pelan. Tapi tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.


Juwita menyentuh wajah Jeff yang sedikit lesu. Berharap Jeff yang selalu bersemangat itu kembali bersikap normal seperti biasanya.


Jeff menarik nafas panjang. Lalu duduk dan memeluk Juwita dalam-dalam sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Juwita. "Aku tidak percaya ramalan. Tapi dia melihatku seolah sedang berbicara denganku. Aku tidak suka itu, Wi! Aku sangat marah dan ingin membantingnya."


"Kalau begitu banting saja agar kau tenang," kata Juwita.


Jeff yang merajuk akhirnya duduk dengan posisi sempurna. Lalu kembali mencubit dua pipi itu saking gemasnya. Bagaimana bisa Jeff membanting peramal itu sedangkan mereka sudah di rumah sekarang.


"Kita kan sudah pulang, Wi! Bagaimana caraku membantingnya?" tanya Jeffsa.


Mood yang tadi buruk itu perlahan membaik dan Juwita memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerahkan segelas teh hangat tadi untuk Jeffsa.


"Kau mau minum tidak?" tanya Jeffsa.


"Aku membuatnya untukmu. Jadi minum sampai habis," jawab Juwita.


Jeff tersenyum tipis. Lalu meraih gelas itu dan siap meminumnya. "Apa pintu rumah sudah kau kunci, Wi?" tanya Jeff sebelum meminum tehnya.


"Sudah," jawab Juwita.


Jeff pun segera meminum tehnya dan meletakkan gelasnya sebelum menarik Juwita untuk menggantikan posisinya. Karena tidak ada peramal yang bisa Jeff banting, kenapa tidak membanting Juwita di ranjang saja?


"Jeff?" teriak Juwita.


Juwita mencubit perut Jeff yang siap menindihnya. Tapi cubitan tanpa tenaga itu tidak ada artinya sama sekali dimata Jeff yang mulai naik nafsunya.


"Sayang, mau berapa kali malam ini?" tanya Jeff sembari menciumi Juwita disaat tangannya mulai mempreteli baju Juwita.


"Terserah kau saja," jawab Juwita sembari mempersilahkan Jeff untuk mulai memakan hidangan makan malamnya.


"Oh, begitu? Kalau begitu, aku benar-benar akan menghajarmu malam ini," kata Jeff kemudian menyambut pemberian Juwita dengan bersemangat


Setelah olahraga panjang mereka malam itu akhirnya mereka terlelap. Tentu saja dengan saling memeluk meskipun masih tanpa busana. Biasanya mereka akan bangun kesiangan. Tapi hari ini berbeda karena mual luar biasa yang menyerang Juwita.


Pagi-pagi sekali Juwita bangun. Memakai piyama secepatnya dan pergi ke kamar mandi sembari menutup mulutnya agar tidak muntah sebelum sampai di toilet.


"Huek!"


Suara itu terus berulang beberapa kali. Meskipun hanya muntah angin, tapi itu cukup membuat Juwita lemas sehingga dia terduduk di depan kloset. Juwita memukul dadanya dengan ringan agar mual itu reda. Tapi yang ada Juwita malah semakin ingin muntah.


Sementara itu, Jeff yang menyadari Juwita sudah tidak bersemayam di pelukannya akhirnya bangkit dan segera menyusul istrinya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Jeffsa dengan memijit tengkuk Juwita kuat-kuat.


"Aku hanya mual. Ini pasti karena ulahmu. Aku pasti masuk angin karena kau selalu saja merusak bajuku, Sayang!" jawab Juwita.


Jeff yang dituduh hanya senyum-senyum saja karena semua tuduhan itu benar. Tapi apa iya Juwita hanya masuk angin. Bukankah seharusnya benih kecebong yang rajin dia tanam berminggu-minggu ini sudah ada yang tumbuh?


Setelah mual itu reda, Jeff mengangkat Juwita yang terduduk lemas untuk direbahkan di kasur. Lalu segera ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Juwita. Tapi yang dilayani malah meminta yang lain.


"Sayang, peluk aku!" pinta Juwita.


Juwita tidak membiarkan Jeff pergi karena saat ini dia sudah menekan Jeff di bawahnya untuk dipeluk. Entah kenapa, tapi Juwita merasa sangat merindukan Jeff meskipun orang itu ada di bawahnya. Juwita mencium dada itu berkali-kali, lalu beralih ke leher Jeffsa sebelum menggigitya. Jika saja Juwita tidak mual-mual, pasti Jeff sudah minta jatahnya lagi setelah diperlakukan Juwita seperti ini.


"Wi, nanti kita ke dokter ya? Sepertinya anak kita sudah tidur di perutmu sekarang," bisik Jeffsa sembari memeluk dan mencium kening Juwita.


...***...