
"Bantu aku melepaskan ini," pinta Jeff dengan wajah memelas.
Jeff berhasil duduk setelah sukses dengan sedikit usahanya. Pria itu menyodorkan tangannya kepada Juwita. Tapi Juwita menolak melepas ikatannya.
"Tidak mau!" tolak Juwita.
"Wi, aku ini beneran kebelet!" keluh Jeff.
"Jeff, aku tahu kau bisa pipis meskipun tanpa membuka ikatan ini. Jangan pikir bisa menipuku," kata Juwita. Juwita enggan mengalah. Lalu kembali memejamkan matanya.
"Pipisnya bisa, tapi bagaimana dengan membuka celananya?" tanya Jeffsa.
"Jeff, pria bisa pipis tanpa membuka celana kan?" jawab Juwita.
"Lalu bagaimana caraku memegangnya?" tanya Jeff.
"Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu?" jawab Juwita.
"Wi, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Apa kau mau aku ngompol seperti anak kecil. Berapa usiaku, Wi? Apa kata tetangga jika melihat kita menjemur kasur yang bau pesing?" tanya Jeffsa.
Jeff tidak sedang bercanda kali ini. Dia benar-benar ingin pipis, bahkan pipisnya sudah dia tahan sejak keluar dari perusahaan saat Jeff menemui Anggara tadi. Tapi sepertinya wajahnya kurang meyakinkan karena Juwita masih mengabaikannya sampai saat ini.
Juwita berpikir sejenak. Lalu melihat wajah Jeff yang sepertinya sudah hampir tidak kuat menahan hasrat buang air kecilnya. Benar juga yang dikatakan Jeffsa. Mau ditaruh mana mukanya kalau mereka menjemur kasur yang bau pesing? Tapi biarkan saja, Juwita tahu ini hanya alasan Jeff agar dia bersedia membuka ikatannya. Lagipula kalau ada yg ngompol, kan Jeff yang ngompol. Jadi Juwita tidak perlu malu.
Melihat Juwita yang enggan bergerak akhirnya Jeff menyerah juga. Dia pun pergi ke kamar mandi. Dengan susah payah Jeff akhirnya berhasil buang air kecil juga meskipun sempat menyembur dan tidak masuk ke lubang kloset. Untung saja hanya sedikit.
"Kau ini, Wi!" gerutu Jeff setelah dia keluar dari kamar mandi.
Mulutnya memang menggerutu, tapi tidak dengan wajahnya karena Jeff sudah tersenyum tipis. Tepatnya saat dia sudah mendapatkan ide lain untuk mengerjai Juwita. Masih dengan tangan yang terikat, Jeff membuka lemarinya lalu mengambil selembar celana pendek yang letaknya di tengah.
Juwita yang mendengar suara lemari dibuka langsung menoleh. Lalu kembali mengomel sebelum Jeff membuat tumpukan baju itu berantakan. "Aku akan marah jika kau merusak tumpukan baju itu!"
"Wi?" keluh Jeffsa.
Dia bisa membuat tumpukan baju itu tetap rapi. Tapi saat ini tangannya terikat loh. Kalau tumpukan baju itu sedikit miring bukankah seharusnya tidak masalah? Lagipula apa-apaan. Sudah tidak mau membuka ikatannya. Masih mengomel saat dia berusaha mengambil celana. Kenapa Juwita semakin nakal dari hari ke hari. Apa ini juga bawaan bayi?
"Bantu aku mengganti celanaku!" pinta Jeffsa.
Jeff melempar celana pendek itu kearah Juwita. Dasar manja, padahal jika ingin benar-benar lepas dari ikatan itu Jeff hanya perlu menggigit ujung tali itu dengan giginya saja. Tapi kalau Jeff melakukannya, sia-sia saja aktingnya selama ini. Lagipula, bukankah istrinya yang nakal ini harus diberi pelajaran?
Juwita masih belum menyetujui perintah Jeff, tapi Jeff sudah membuka ikat pinggangnya lebih dulu. Membuka kancing celananya, lalu membuka resletingnya juga. Selanjutnya, hanya dengan sedikit gerakan, celana itu lolos juga tepat di hadapan Juwita.
Juwita yang awalnya rebahan akhirnya bangkit. Kali ini Juwita menurut. Tidak lagi mempersulit Jeff karena setelah dipikir-pikir Jeff memang kesulitan memakai celana dengan tangan yang terikat begitu. Setelah selesai membantu Jeff memakai celana dan memastikan Jeff berbaring di ranjang, Juwita pun kembali berbaring dengan posisi membelakangi Jeff.
"Apa aku mengijinkanmu tidur sebelum menciumku, Wi?" tanya Jeffsa.
Pria itu sudah menempel di belakang Juwita. Menagih ciuman sebelum tidur yang belum dia dapatkan malam ini. Juwita yang sadar sudah sangat keterlaluan pun segera memberikan ciumannya sebelum Jeff marah. Meskipun belum pernah melihat bagaimana rupa Jeff saat marah, tapi membayangkannya saja sudah membuat Juwita takut.
CUP
"Selamat malam!" kata Juwita setelah mendaratkan ciumannya di pipi suaminya.
"Hanya ini, Wi? Apa tidak ada yang lain?" tanya Jeffsa.
"Tidak ada!" jawab Juwita.
"Apa aku juga harus tidur dengan tangan terikat begini?" tanya Jeff lagi.
"Iya," jawab Juwita.
"Karena kau nakal. Itu hukuman untukmu karena ingin merampok uang dan meninggalkanku sendirian. Bukankah dengan cara diikat begini, kau baru tidak bisa pergi, Jeff?" jawab Juwita.
"Oh, jadi apa aku ini nakal?" tanya Jeffsa mulai menyeringai.
"Eum, kau sangat nakal!" jawab Juwita.
Jeff tersenyum licik karena Juwita sudah memakan umpan yang dia berikan. Jeff yakin, hanya dengan sedikit usahanya sebentar lagi, dia pasti akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Lalu siapa yang lebih nakal. Aku, atau dirimu yang tidak mau melepaskan ikatan menyebalkan ini dari tanganku? Juwita, kau itu lebih nakal dan pantas mendapatkan hukuman," bisik Jeffsa.
Juwita tersenyum seolah menantang Jeffsa. Menyentuh pipi, leher, lalu semakin turun sampai membelai ABS milik Jeff yang tidak mengalihkan pandangan matanya dari Juwita.
"Memangnya kenapa kalau aku nakal. Apa kau bisa memberikan hukuman dengan tanganmu yang terikat ini?" tanya Juwita.
Sekali lagi Juwita tersenyum. Lalu mencium pipi Jeff sekali lagi sebelum kembali berbaring. Juwita siap meringkuk dibalik selimut seperti sebelumnya. Tapi Jeff menahannya. "Kau mau tidur, Wi? Tapi aku masih belum selesai," kata Jeffsa.
"Kau mau apalagi?" tanya Juwita.
"Aku ingin memberikan hukuman untukmu agar kau tahu apa yang disebut dengan nakal," jawab Jeffsa.
Juwita melihat Jeff sudah mulai merayap dengan tangan yang masih terikat. Lalu melihat dengan mata kepalanya sendiri Jeff membuka ikatan di tangannya dengan mudahnya hanya dengan menggunakan giginya.
Juwita hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Jika Jeff bisa membukanya sendiri, kenapa tidak melakukannya sejak tadi?
"Jeff?" kata Juwita saat menyadari suaminya sudah berubah menjadi singa kelaparan.
Jika tadi Juwita mengerjainya dengan menyentuh wajah, leher dan perut Jeffsa. Kini giliran Jeff yang mengerjai Juwita tapi menggunakan cara yang berbeda. Iya berbeda. Karena Jeff menggunakan tali yang sebelumnya sudah dia lepaskan untuk mengikat tangan Juwita keatas. Dengan begini, Juwita baru bisa patuh.
"Bukankah kau sudah sepakat untuk memberikan aku makan. Kau tidak lupa janjimu siang tadi kan, Wi?" tanya Jeffsa sembari menarik satu tali piyama milik Juwita dan membuka penutup hidangan santap malamnya.
"Aku tidak lupa," jawab Juwita pasrah.
"Kalau begitu ayo!" ajak Jeffsa.
Jeff tidak menunda lagi untuk mengambil jatah makan yang berhari-hari tidak dia dapatkan. Sementara Juwita menunaikan kewajibannya untuk melayani suaminya. Berbeda dengan Juwita yang sedikit takut, Jeff malah bergerak bebas tanpa takut akan melukai calon buah hatinya.
"Aku bisa pelan-pelan kan, Wi?" tanya Jeffsa.
Juwita diam saja. Bukannya tidak ingin menjawab tapi Juwita lebih memilih untuk fokus menikmatinya hukuman yang diberikan oleh suaminya.
"Wi, kau dengar apa yang kukatakan, kan?" tanya Jeffsa.
"A-aku d-dengar!" jawab Juwita terbata-bata.
"Aku bisa pelan kan?" tanya Jeffsa lagi.
"I-iya. K-kau bisa p-pelan!" jawab Juwita.
Juwita hanya bisa meringis menikmati. Apanya yang pelan. Benda itu bahkan amblas tak tersisa memenuhi seluruh ruangan milik Juwita.
"Apa terlalu pelan. Aku bisa menambah kecepatan jika kau merasa kurang," tawar Jeffsa.
Juwita belum sempat menjawab pertanyaan Jeffsa. Tapi Jeff sudah lebih dulu menambah kecepatannya sampai batas maksimal dan mengantar Juwita ke nirwana terlebih dulu.
...***...