Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 14 Istri Selamanya


"Aku sudah menikah, Kek!" kata Jeffsa.


"Jeff, wanita bodoh mana yang mau menikah denganmu?" tanya Kakek Firman.


Di seberang sana Kakek Firman mulai tertawa di kursi goyangnya. Membiarkan tembakaunya terbakar habis di dalam pipa rokok berwarna hitam mengkilap yang dia pegang. Berbicara dengan Jeff cucu kesayangannya, nyatanya masih menjadi hal yang paling dia sukai sehingga dia mengabaikan rokok itu.


Kakek Firman tahu cucunya tampan, tapi mana mungkin ada yang tertarik untuk menikah dengannya yang terlihat miskin seperti pengangguran. Terlebih Jeff hanya tinggal di rumah petak sekecil itu. Ukuran seluruh rumah Jeff itu bahkan tidak lebih besar dari ukuran satu kamar mandi yang berada di rumah kakek atau orangtua Jeff sendiri.


"Kek, Jeff tidak berbohong. Jeff sudah menikah," ulang Jeff.


"Kapan?" tanya Kakek Firman. Meskipun tidak percaya, tapi pria tua itu tetap menanggapi ocehan Jeff. Dia masih mengira pengakuan Jeff hanya sebagai candaan untuk mengerjainya seperti hari-hari sebelumnya.


"Kakek tidak percaya kan?" tanya Jeffsa.


"Tentu saja tidak, berapa kali kau mengatakan sudah menikah sebelum ini. Seharusnya ini sudah yang ke tiga puluh kalinya," jawab Kakek Firman.


"Kakek, kali ini aku tidak berbohong. Aku benar-benar sudah menikah satu bulan yang lalu dengan seorang gadis," kata Jeff.


"Jeff, kau itu normal. Kalau bukan menikahi gadis lalu apa. Tidak mungkin kau menikah dengan seorang pria kan," ujar Kakek Firman terkekeh.


Jeffsa, pria yang sebelumnya rebahan itu kini tengkurap. Lalu tersenyum sepanjang waktu seperti pria yang baru saja dinyatakan gila oleh seorang dokter.


"Apa dia bodoh?" tanya Kakek Firman tiba-tiba.


"Apa maksud kakek?" tanya Jeff.


"Kenapa dia mau menerima cintamu?" tanya Kakek Firman.


"Kek, sebenarnya bukan seperti itu kejadiannya," jawab Jeffsa.


"Lalu bagaimana?" tanya kakek Firman mulai penasaran. Pipa rokok ditangannya kini sudah berpindah tempat ke meja. Lalu bangkit meninggalkan kursi goyangnya.


"Sebenarnya dia yang mengajakku menikah. Bukan aku yang mengajaknya menikah seperti yang kakek pikirkan," jawab Jeffsa.


"Jadi, apa dia mencintaimu dan kau tidak mencintainya. Omong kosong macam apa ini, Jeffsa? Mana ada hal seperti itu. Kecuali dia tahu bahwa kau berpura-pura miskin seperti itu," kata Kakek Firman.


"Kek, aku bicara serius. Dia bahkan berani membayar 500 juta agar aku bersedia menikah dengannya. Dia bilang aku bisa menceraikannya jika aku menemukan wanita yang ku cintai suatu hari nanti," jelas Jeff.


"Lalu kau menerima tawarannya dan menikah begitu saja bahkan saat kau diperlakukan seperti pria bayaran? Tanpa memberitahu kakek, tanpa meminta restu kepada kakek. Jeffsa, apa kau masih menganggap kakek ini kakekmu?" omel Kakek Firman.


"Mau bagaimana lagi. Jeff lihat Juwita cantik, dia juga baik. Sekarang Jeff juga sedikit menyukainya meskipun dia sangat bodoh dan sedikit oon. Lagipula, kejadiannya sangat mendadak waktu itu. Jeff tidak sempat memberitahu kakek," jelas Jeff.


"Karena sebelum menikah kejadiannya mendadak, kau kan bisa memberitahu kakek setelah menikah. Dasar berandalan!" umpat Kakek Firman.


Cucu kesayangannya menikah dan dia tidak tahu. Tanpa pesta, tanpa perayaan. Hatinya sangat tersakiti sekarang. Kenapa Jeffsa memilih jalan ini. Kenapa Jeffsa berbeda dengan keempat cucu lainnya yang saat ini sudah sibuk berebut harta dan posisi tertinggi di perusahaannya?


"Kakek, sudahlah! Jangan terus memarahiku. Daripada memarahiku, kenapa kakek tidak memarahi cucu menantumu itu. Kami tidak saling kenal sebelumnya dan dia memperlakukan cucumu ini seperti pria bayaran. Tidakkah kakek ingin memberinya pelajaran?" tanya Jeff.


"Bawa dia juga saat kita bertemu nanti. Kakek harus memberinya pelajaran karena berani membeli cucu kesayangan kakek dengan harga semurah itu," jawab Kakek Firman.


"Baiklah," kata Jeff puas.


"Jeffsa, kau tidak hanya sedikit menyukainya kan?" tanya Kakek Firman.


"Apa maksudmu, Kakek?" jawab Jeff.


"Kakek, apa yang kakek katakan. Dia itu benar-benar istriku, kami menikah secara sah. Dia sangat manis, baik hati, mulus dan seksi. Selain itu dia juga masih sangat tersegel. Jadi kenapa aku harus bercerai dengannya? Bukankah sebaiknya Jeff menjadikannya sebagai istri untuk selamanya dan membuat cicit yang banyak untuk kakek agar kakek tidak kesepian?" jawab Jeff.


Kakek Firman tersenyum mendengar cita-cita mulia Jeffsa. Benar, dia sudah sangat ingin menggendong cicit yang banyak dan menggembalanya seperti anak kambing di halaman rumahnya yang luas.


"Jeff, kau bilang kalian sudah menikah selama satu bulan. Kalau ingin membuat cicit untuk kakek, bukankah seharusnya cicit itu sudah hampir tumbuh di perut istrimu?" tanya Kakek Firman.


Jeff diam sebentar mendapatkan pertanyaan ini. Sepertinya kakeknya sengaja. Tapi apa yang harus dia katakan, dia kan belum membuat anak. Meskipun Juwita sudah menjadi istrinya, meskipun mereka menikah dengan beberapa perjanjian, tapi mereka tidak melakukan kontak fisik melebihi ciuman meskipun mereka sudah bebas jika ingin melakukannya.


Terlebih, meskipun dia mulai sedikit tertarik pada Juwita tapi dia tahu Juwita masih mencintai Sadewa. Kalau sudah begini, haruskah Jeff memaksa Juwita?


Tidak, Jeff adalah pria terhormat. Mana mungkin dia akan memaksa Juwita. Jeff hanya butuh sedikit waktu membuat istrinya yang sedikit oon itu melupakan Sadewa dan mencintainya. Wajah tampan itu bagaimana mungkin Juwita bisa menolaknya. Dengan duduk di sebelah Jeff saja sudah membuat wajah Juwita merah.


"Kakek tenang saja. Cicit dariku pasti akan segera lahir," jawab Jeff yakin.


"Ck, baiklah. Tapi kau harus ingat Jeff. Orangtua dan nenekmu yang keras kepala itu pasti akan membuat masalah kalau kau menikah bukan dengan menantu pilihan mereka," kata Kakek Firman mengingatkan.


"Aku tahu itu, Kek! Baiklah, aku akan menutup teleponnya. Aku harus segera membuat cicit untuk kakek kan?" pamit Jeffsa.


"Apa anak muda selalu terburu-buru seperti ini?" sindir Kakek Firman.


"Kalau tidak buru-buru kapan cicit kakek akan jadi. Selain itu aku takut kakek akan segera mati. Bagaimanapun usia kakek sudah tua," balas Jeff.


"Jeffsa, apa kau baru saja menyumpahi agar kakekmu ini cepat mati?" protes Kakek Firman.


"Kakek, jangan marah-marah terus. Baiklah, aku benar-benar akan mematikan teleponnya sekarang. Sampai jumpa di kafe senin depan."


Jeff menutup teleponnya, lalu menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur. Matanya yang sudah tertutup kembali terbuka saat mengingat sesuatu yang penting. Pintu rumahnya belum dia kunci.


"Biarkan saja. Apa yang bisa dicuri dari rumah ini," guman Jeff.


Pria itu sudah memeluk gulingnya lagi. Tapi segera bangkit saat mengingat ada satu nyawa berharga yang bisa hilang dicuri orang di kamar sebelah.


"Aku memang tidak memiliki barang berharga. Tapi aku punya satu nyawa yang berharga." Akhirnya Jeff bangkit. Segera mengunci pintu rumahnya dan memeriksa Juwita. Tapi pintu itu terkunci dari dalam.


"Juwita, orang lain mungkin tidak bisa masuk. Tapi aku bisa," gumam Jeff dengan senyum licik.


Jeff segera masuk ke kamarnya. Rumahnya memang kecil. Tapi rumah kecil ini sudah Jeff renovasi sedemikian rupa. Untuk masuk ke kamar Juwita, Jeff bisa lewat pintu rahasia. Sebuah pintu yang menghubungkan kamar Jeff dan Juwita tanpa Juwita sadari. Tersembunyi di balik dinding yang sengaja Jeff samarkan dengan pola dinding kamar.


"Apa dia selalu begini saat di kamar sendirian?" batin Jeff.


Jeff menelan ludahnya, memperhatikan Juwita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak memakai baju tidur yang layak dengan selimut yang tersingkap itu sudah cukup untuk membuat Jeff mendekat. Merubah dirinya menjadi serangga untuk menggigit Juwita.


Jeff mendekat, mencari ceruk leher itu dan meninggalkan satu tandanya disana lalu menyelimutinya dan kembali ke kamar setelah memastikan jendela dan pintu itu terkunci dengan aman.


"Apa aku terlalu lama berbicara dengan kakek. Kenapa kau sudah tidur seperti orang mati?" batin Jeff.


Sementara itu di tempat yang lain, Kakek Firman memanggil satu ajudan setianya. Memberikan satu tugas yang biasa dilakukan oleh orang kaya.


"Cari tahu latar belakang istri cucuku secepatnya!" titah Kakek Firman.


...***...