
"Selamat pagi, Juwita!" sapa Juwita pada dirinya sendiri.
Istri oon milik Jeffsa itu tersenyum lebar meskipun duduk sendirian di kasurnya. Maklum, dia baru saja sadar dari tidur panjangnya yang nyenyak. Sangat nyenyak sampai-sampai tidak menyadari bahwa suami berandalannya cosplay jadi serangga jenis vampir dan menggigit lehernya semalam.
Di kasur mini yang hanya bisa ditiduri satu orang itu Juwita meregangkan otot-ototnya dengan nyaman. Lalu menguap selebar-lebarnya sebelum bangkit dan membuka jendela. "Udara disini benar-benar nyaman," gumamnya pelan.
Setelah menikmati udara pagi sebentar, Juwita membereskan kasurnya yang berantakan. Melipat selimut, merapikan bantal dan guling, lalu meletakkan satu boneka beruangnya yang besar diatas bantal. Beres dengan urusan ranjang, dia bergegas ke kamar mandi. Menggosok giginya yang kecil-kecil dan mencuci mukanya yang manis.
Juwita bernyanyi kecil selagi berjalan ke dapur. Segera mengikat rambutnya yang tergerai dan memakai celemek bergambar babi berwarna pink yang lucu untuk melindungi pakaiannya dari semburan minyak dan semacamnya. Hari ini adalah akhir pekan. Selain libur kerja, katanya ada acara kerja bakti juga di lingkungan RT. Jadi Juwita berencana memasak secara layak dengan jumlah lebih banyak.
Sudah sebulan Juwita menikah, sebulan juga Juwita dan Jeff tinggal di bawah atap yang sama sebagai pasangan suami istri. Tapi Juwita sama sekali belum pernah memasak selain mie instan dan nasi. Selama ini mereka selalu pesan antar, mereka baru berhenti saat diberi kiriman makanan dari Natalie atau Ayunda.
Sungguh sangat keterlaluan kan? Seandainya Juwita hidup serumah dengan mertua, dia pasti sudah jadi nyinyiran dan bahan gosip mertua serta iparnya lalu merembet ke ibu-ibu tetangga. Untung Juwita sangat merdeka disini. Hanya melakukan apapun yang dia mau dan mengabaikan apapun yang tidak dia suka. Itulah enaknya jadi istri seorang Jeffsa.
Juwita mulai mengeluarkan bahan-bahan pilihannya. Suara pisau beradu dengan telenan itu cukup membuat Jeffsa keluar dari kamar. Maklum, rumah ini sangat mini. Jadi suara apapun bisa di dengar meskipun suaranya pelan. Pria itu beranjak dari pintu dengan rambut yang masih acak-acakan. Mengintip apa yang sedang dilakukan istrinya sebentar lalu duduk di kursi dengan menyangga dagu tanpa disadari Juwita.
"Apa sih yang dia lakukan. Bukannya dia tidak bisa masak? Awas saja kalau sampai rumah ini terbakar. Aku tidak akan segan untuk mengirimnya tidur di gubuk bersama kucing-kucingku yang lucu," batin Jeff kemudian meminum segelas air putih.
Jeff melihat pemandangan istrinya dari belakang. Memperhatikan dari atas hingga bawah tanpa ada yang terlewat sedikitpun. "Dasar istri tidak punya akhlak. Kenapa masih memakai kolor sependek itu di depanku. Apa dia belum mengerti juga bahwa ada satu ular yang bisa menggigitnya kapan saja?" rutuk Jeff dalam hati.
Saat sedang asyik-asyiknya melihat Juwita. Tiba-tiba saja Juwita berteriak. Tangannya yang berharga tidak sengaja teriris pisau saat dia menyiangi ikan yang akan dia olah. Darah segar terlihat menetes di jarinya yang bersih.
"Ah!" Juwita mendesis.
Sebenarnya luka itu tidak terlalu dalam, tapi tetap saja terasa nyut-nyutan. Terlebih saat dia menyiramnya dengan air keran. Nyut-nyutannya menjadi semakin terasa.
"Apa kau berencana memberiku makan daging manusia?" sindir Jeff.
Pria itu sudah berdiri di samping Juwita. Menatap Juwita dengan tatapan aneh, tapi tetap perhatian. Jari yang sempat berdarah itu sudah masuk ke mulut Jeff. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena Jeff diijinkan mencuri leher Juwita semalam.
"Apa yang kau lakukan, Jeff?" tanya Juwita.
"Memakanmu," jawab Jeff.
Juwita tidak berkomentar lagi. Bukannya tidak ada yang ingin dia katakan. Hanya saja dia merasa aneh, kenapa wajah Jeffsa menjadi semakin tampan dari hari ke hari. Lalu, bukankah yang nyut-nyutan tadi jarinya? Kenapa, sekarang berpindah ke jantungnya?
Setelah beberapa saat pria itu meludah. Membuang darah Juwita yang masuk ke mulutnya dan berkumur. Lalu segera meraih PPPK dan memberikan plester luka bergambar Doraemon.
"Tidak bisa masak tapi sok-sokan memasak. Melukai diri sendiri dan membuat dapurku berantakan. Juwita, sebenernya apa maumu. Apa tidak bisa membeli makan diluar saja dan menggunakan waktu senggangmu untuk rebahan?" tanya Jeff dengan menoyor dahi Juwita.
"Jeff, aku memang tidak biasa masak. Tapi aku bisa melakukannya jika kepepet," jawab Juwita dengan memegangi dahinya.
"Kepepet?" tanya Jeff.
"I-iya kalau kepepet. Mbak Natalie bilang ada kerja bakti hari ini jadi,-"
"Jadi kau ingin memasak?" tanya Jeff.
"Begitulah," jawab Juwita.
Juwita segera mengalihkan pandangannya. Kembali mengambil pisaunya dan melanjutkan pekerjaannya. Tapi melakukan pekerjaan dapur saat tangannya terluka memang tidak mudah.
"Berikan itu padaku dan pergi mandi!" usir Jeff.
Jeff tidak menunggu persetujuan dari Juwita. Dia memakai celemek lain dan merebut pisau dari tangan Juwita. Ikan yang sempat terlunta-lunta akhirnya terpotong-potong dengan sempurna. Bukan hanya ikan, tapi sayur dan jagung serta bumbu-bumbu itu telah dikupas dan dipotong Jeff seorang diri.
"Masih tidak pergi mandi?" tanya Jeff setelah mencuci tangan dan menyadari Juwita tidak beranjak.
"Jeff?"
Jeff menarik nafasnya dalam-dalam. Jeff tidak terbiasa menyuruh untuk kedua kali, jadi Jeff lebih memilih untuk mengangkat Juwita ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Jeffsa?" panggil Juwita sembari menggedor pintu.
"Jangan keluar sebelum selesai mandi!" sahut Jeff.
CEKLEK
Pintu itu terbuka lagi. Juwita ingin keluar tapi Jeff menahannya.
"Jeff, aku,-"
"Sudah ku ambilkan untukmu!" potong Jeff sembari menyerahkan baju ganti lengkap dengan onderdilnya.
"J-Jeffsa, k-kenapa kau menyentuh barang pribadiku. Ini tidak sopan tahu?" tanya Juwita dengan mata membulat sempurna tapi tidak dihiraukan Jeff karena pria itu sudah menutup pintunya.
"Berapa sih usianya. Apa antara suami dan istri masih harus se-sopan itu? Lagipula aku kan hanya menyentuh onderdilnya bukan isinya," rutuk Jeff kemudian mulai memasukkan bahan masakannya.
.
.
.
"Jeff!" panggil Juwita
Jeff yang sejak sibuk memasak segera membuka pintu dan melihat istrinya dengan tatapan aneh. Rumah mereka hanya sebesar rumah marmut, apa perlu Juwita berteriak sekeras itu? Lagipula dia tidak tuli kok. Lalu kenapa wajahnya ditekuk-tekuk seperti itu. Apa karena dia sudah melihat satu warna merah itu?
"Apa?" sahut Jeff.
"I-itu apa kau tahu ini apa?" tanya Juwita sembari menunjukkan sesuatu di ceruk lehernya.
Jeff tersenyum licik. Punya istri oon seperti Juwita tidak buruk juga. Jadi mari mengerjainya lebih banyak lagi di masa depan.
"Mungkin ada serangga yang menggigitmu," bohong Jeff.
Juwita ingin sekali mempercayai kalimat itu untuk menenangkan hatinya. Tapi meskipun begitu, sebanyak apapun Juwita berpikir hasilnya tetap saja mustahil. Mana mungkin ada serangga yang bisa menggigit sampai meninggalkan bekas seperti itu.
"Apa serangga bisa menggigit sampai begini?" tanya Juwita.
"Kalau begitu, mungkin semalam ada maling yang masuk ke kamarmu," jawab Jeff.
"Darimana dia bisa masuk? Apa iya maling bisa masuk dari lubang pintu?" tanya Juwita penasaran. Seingatnya pintu dan jendela kamarnya tidak mengalami kerusakan.
"Sudahlah, lupakan saja! Hanya bekas seperti itu saja kenapa heboh sekali. Cepat keringkan rambutmu dan makan, aku sudah lapar!" perintah Jeff.
Beberapa saat kemudian.
"Selamat makan!" kata Juwita.
Tanpa permisi Juwita langsung menjulurkan tangannya untuk mengambil nasi tapi ditepis oleh Jeff.
"Buka mulutmu!" kata Jeff.
Entah kapan Jeff melakukannya, tapi ikan yang tersaji di meja sudah bercerai berai antara daging dan tulangnya. Sesuap nasi lengkap dengan lauk sudah siap masuk ke mulut Juwita. Tapi Juwita malah bengong dan menutup bibirnya rapat-rapat saat Jeff melakukan untuknya. Juwita merasa hatinya benar-benar meleleh.
"Kenapa kau menyuapiku?" tanya Juwita.
"Karena tanganmu sakit," jawab Jeff.
"Makan yang banyak. Agar Sadewa itu tidak mengira aku tidak memberimu makan!" lanjut Jeff.
Juwita menurut, dia hanya memainkan jari-jarinya di gelas itu seperti biasa selama Jeff menyuapinya makan. Tapi terhenti setelah menyadari sesuatu yang sempat dia lupakan. Juwi memperhatikan jari-jarinya dengan teliti, lalu menyembunyikannya di bawah meja sambil merutuki dirinya sendiri karena malu. Juwita tidak kidal. Hanya tangan kirinya yang teriris pisau, lalu kenapa dia harus menurut saat Jeff menyuapinya?
"Tidak perlu malu, kau sudah menghabiskan satu piring nasi berkat suapan dariku," kata Jeff yang membuat Juwita menyembunyikan wajahnya di meja.
...***...