
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Nindi saat melihat tingkah suami dan menantunya yang saling pukul.
Juwita yang berdiri di samping Nindi dengan membawa sekeranjang belanjaan juga hanya bisa menatap dua pria itu dengan tatapan aneh. Sementara Jeff yang melihat istrinya membawa belanjaan langsung mengambilnya.
"Bun, menantu durhaka ini menyiksa ayah!" lapor Bubu.
Jeff yang merasa terdzolimi tersenyum tipis. Menyiksa katanya? Bukankah Bubu duluan yang menyiksanya dengan memukulinya menggunakan sapu lidi? "Mbak Nin, dia duluan yang mulai," bela Jeffsa.
Nindi hanya geleng-geleng kepala mendengar laporan suami dan menantunya. Lalu menatap mereka secara bergiliran. Jadi kapan dua pria dewasa ini akan berhenti bertengkar? Karena tidak ingin ambil pusing, akhirnya Nindi memilih untuk menghukum keduanya agar adil.
"Kalian berdua, cepat bereskan sampah itu. Tidak ada makan malam untuk kalian selama sampah itu masih berserakan," perintah Nindi.
Jeff dan Bubu melihat ke sekeliling, semua tanaman itu memang sudah selesai di pangkas. Tapi sampahnya belum dibereskan dan masih berserakan.
"Ayo, Jeff!" ajak Bubu.
Juwita yang melihat bundanya marah juga hanya diam. Lalu mengambil kembali keranjang belanja yang sempat Jeff minta.
Dua pria itu langsung diam seketika. Tidak lagi bertengkar ataupun berdebat. Jeff segera mendorong kursi roda Bubu, membiarkan Bubu menyapu menggunakan satu tangannya sembari duduk di kursi roda kemudian mengambil sapu yang lainnya untuk dirinya sendiri.
Sementara itu Nindi segera menyuruh anak-anaknya yang besar segera mandi dan meminta Juwita menjaga anak-anaknya yang kecil. Lalu dia sendiri segera memasak untuk makan malam mereka.
Beberapa saat kemudian, setelah makan malam.
Jeffsa dan Juwita sibuk menemani adik-adik mereka belajar dan mengerjakan PR. Sementara Nindi sibuk merawat Bubu di kamar. Membersikan semua luka sebelum membantunya berbaring di ranjang dengan nyaman.
"Mau kemana Bun?" tanya Bubu saat melihat Nindi akan pergi.
"Menyiapkan selimut untuk Jeff dan Juwi. Mereka bilang mau menginap," jawab Nindi.
"Bun, suruh mereka pulang saja!" kata Bubu lagi.
Nindi yang sudah hampir membuka pintu pun kembali mendekati Bubu. Biasanya Bubu yang paling senang saat tahu Jeff dan Juwita menginap. Bahkan lebih senang melebihi senangnya anak-anak. Tapi kenapa hari ini berbeda?
"Ayah kenapa. Apa masih marah sama Jeff karena bertengkar sore tadi?" tanya Nindi penasaran.
Bubu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau dia bilang ingin memberikan waktu lebih banyak untuk Jeff dan Juwita agar mereka segera memberikan seorang cucu yang lucu, apa kira-kira Nindi akan marah?
"Ayah, ditanya malah bengong," kata Nindi.
"Bun, itu anu," kata Bubu.
Kalimat itu tersangkut di tenggorokan Bubu. Padahal hanya kalimat sederhana saja. Tapi kenapa sangat susah mengatakannya?
"Yang jelas kalau bicara yah. Ayah pikir bunda tahu bahasa anu?" protes Nindi.
"Bun, seandainya bunda punya cucu dari Juwita bagaimana?" tanya Bubu.
Nindi membelalakkan matanya lebar-lebar lengkap dengan senyum yang mengembang karema mengira akan segera menjadi nenek diusia 35 tahunan. "Juwita hamil, Yah?" tanya Nindi semangat.
"Bukan," jawab Bubu.
"Terus kenapa ayah membahas cucu kalau Juwita belum hamil?" protes Nindi.
"Bun, tapi kalau Juwita hamil bunda senang kan?" tanya Bubu.
"Ya jelas senang lah. Memangnya ayah tidak senang kalau Juwita hamil?" balas Nindi.
"Tentu saja ayah juga senang. Tapi, masalahnya anak gadis kita itu masih perawan sampai sekarang," kata Bubu hampir menangis.
"M-masih perawan? S-siapa yang bilang? Apa itu Juwita?" tanya Nindi terbata-bata.
"Jeff yang bilang," jawab Bubu.
Nindi tidak habis pikir dengan kabar ini. Setelah mematung selama beberapa saat, akhirnya dia setuju untuk menyuruh Jeff dan Juwita pulang saja agar mereka bisa berduaan dan melakukan hal romantis.
"Apa ini sakit?" tanya Juwita.
Jeff dan Juwi sudah sampai dirumahnya dan sekarang Juwita sedang mengobati luka di telapak tangan Jeff karena terkena goresan duri saat membersihkan tanaman di rumah Bubu sore tadi.
"Sedikit perih," jawab Jeffsa.
"Aku akan meniupnya agar perihnya reda," kata Juwita.
Selagi Juwita meniup tangan Jeff yang terluka, Jeff dengan teliti melihat luka di wajah Juwita yang sepertinya sudah pulih sepenuhnya.
"Jeff, kenapa?" tanya Juwita ketika menyadari Jeff hanya diam saja.
"Wi, apa lukamu masih sakit?" tanya Jeffsa sembari menyibak rambut yang menutupi dahi Juwita.
"Jeff, jangan khawatir aku sudah sehat," jawab Juwita.
"Sungguh?" tanya Jeff lagi.
"Eum," jawab Juwita dengan senyum manisnya.
Juwita segera meringkas kotak obat yang sebelumnya dia letakkan di pangkuannya, lalu menyimpan kembali kotak itu ke tempat semula sebelum duduk bersandar di samping Jeffsa.
"Wi, aku mau pipis!" kata Jeffsa tiba-tiba.
Juwita melirik jam di dinding. Jeff baru pipis kira-kira sepuluh menit yang lalu, tapi kenapa Jeff sudah ingin pipis lagi?
"Bukannya baru saja pipis. Apa sudah mau pipis lagi?" tanya Juwita.
"Kali ini, aku mau pipis bareng kamu, Wi!" jawab Jeffsa.
"P-pipis bareng?" tanya Juwita tidak mengerti. Tapi tidak mendapatkan jawaban karena Jeff sudah lebih dulu membaringkannya di ranjang dan mencium bibirnya.
"J-Jeff apa maksudmu?" tanya Juwi ketika ciumannya lepas.
"Malam pertama kita yang sudah tertunda selama beberapa bulan, aku mau melakukannya sekarang, Wi!" sahut Jeff sebelum menghilang dari pandangan Juwita karena sudah beralih ke bagian leher untuk mencium dan menyusuri bagian itu.
"Sekarang?" tanya Juwita gugup.
"Eum, apa kau keberatan?" tanya Jeffsa.
"A-aku a-aku,"
"Tidak apa-apa. Aku bisa memintanya setelah kau siap," kata Jeffsa.
Jeff mencium kening Juwita, kemudian segera bangkit dan duduk di tepian ranjang untuk menenangkan juniornya yang sudah setengah berdiri. Tapi sesuatu yang tidak Jeff sangka terjadi. Karena saat ini Juwita sudah memeluknya dari belakang. Membuat Jeff merasakan benda kenyal yang menempel di punggungnya yang lebar.
"Jeff, kalau kau mau melakukannya sekarang maka lakukan saja. Aku tidak keberatan," kata Juwita sambil meletakkan dagunya di pundak Jeffsa.
"Wi, aku tidak marah. Jadi jangan takut. Serius, aku tidak keberatan menunggu sampai kau siap," janji Jeffsa. Jeff tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Juwita dan meyakinkannya bahwa dia tidak marah.
"Jeff, aku bukannya menolak. Hanya saja aku belum pernah melakukannya dan tidak tahu apa yang harus kulakukan," terang Juwita.
"Jadi kau rela memberikannya padaku malam ini, Wi?" tanya Jeff sekali lagi.
Juwita menunduk karena malu. Lalu mengangguk sebanyak dua kali sebagai jawaban atas pertanyaan Jeffsa. Tapi Juwita langsung tersentak karena Jeff tiba-tiba berbalik arah dan meletakkan wajahnya sangat dekat dari wajahnya.
"Wi, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi," kata Jeff kemudian kembali mencium Juwita dengan ciuman brutal. Tangannya yang berotot juga sudah mulai menari-nari mencari bagian-bagian yang bisa menaikkan gairah Juwita. Membuat Juwita bergerak kesana kemari karena perpaduan rasa yang belum pernah dia cicipi selama ini. Antara geli, nyaman, penasaran dan membuatnya ketagihan.