Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 17 Lihat Ulah Suamimu


Bruk


"Semua ini harus kau selesaikan hari ini juga karena besok Presdir akan datang. Ingat, pagi-pagi saat aku datang semua harus sudah terkumpul di meja kerjaku. Apa kau mengerti, Juwita?" kata seorang wanita yang suaranya tidak lagi asing di telinga Juwi.


Setumpuk pekerjaan itu diletakkan dengan kasar di hadapan Juwita. Jangan tanya pelakunya siapa, karena sudah pasti Melodi orangnya. Untung saja Melodi memberikannya saat hari masih pagi, tapi meskipun begitu Juwita sepertinya harus tetap lembur malam ini.


"Aku mengerti," jawab Juwita.


Juwita segera menutup mug-nya yang telah kosong, lalu meraih tumpukan teratas pekerjaannya tanpa protes dan mulai mengerjakannya karena tidak ingin membuang waktu. Dia bahkan sudah tidak melihat atasannya yang masih berkacak pinggang di samping meja kerjanya.


"Bagus, segera kerjakan secepatnya. Karena meskipun kau berhasil menyelesaikannya hari ini pun, aku akan tetap membuat kerja kerasmu sia-sia," batin Melodi dengan senyum tipis yang tidak Juwita sadari.


Melodi melangkah pergi dengan senyum kemenangan. Rasanya tidak sabar untuk segera berganti hari karena siasat licik sudah dia siapkan. Besok Presdir yang sudah lama pergi itu akan datang untuk membahas kerjasama penting dengan seorang klien ternama. Jauh-jauh hari asisten Presdir juga sudah memperingatkan untuk menyiapkan berkas-berkas penting karena Presdir berencana memeriksanya nanti. Jika berkas yang dikerjakan oleh Juwita itu hilang atau rusak, bukankah karier Juwita akan berakhir disini?


"Juwita, aku akan membuatmu dipecat apapun caranya. Lalu selamat menikmati hari-hari miskin dengan suami berandalanmu itu," gumam Melodi.


.


.


.


Matahari berputar terlalu cepat. Pekerjaan Juwita masih belum selesai dan hari sudah semakin gelap.


"Sial," batin Juwit yang lembur sendirian di ruangan ini. Seandainya ada Alan dan Caca, pasti tidak akan sepi begini. Sayangnya mereka tidak bisa membantu Juwi karena ada acara keluarga yang harus mereka hadiri. Seandainya dua orang itu ada, pasti mereka tidak akan berpikir dua kali untuk membantu.


Mata Juwita semakin awas, jari-jarinya juga semakin lincah untuk mengejar waktu. Hari ini dia tidak boleh lembur terlalu malam karena pagi tadi Jeff sudah mewanti-wanti untuk segera pulang. Meskipun Jeff tidak mengatakan apa alasannya, tapi sebuah hukuman berat sudah menantinya jika Juwita terlambat.


"Kalau kau sampai pulang terlambat, malam nanti aku akan tidur di kamarmu lagi untuk menitipkan bayi gajah!" ancam Jeff tadi pagi.


"Huekk!"


Juwita nyaris muntah. Dia tidak sedang masuk angin atau hamil. Hanya saja tiba-tiba merasa mual duluan setelah mengingat hukuman apa yang akan Jeff berikan.


"Tidak bisa begini. Aku harus memenangkan perutku dengan sesuatu," gumam Juwita.


Juwita bangkit. Tidak lupa membawa serta mug berwarna putih dengan mawar merah sebagai hiasannya. Dia berjalan menuju pantry untuk membuat secangkir minuman hangat agar mualnya reda. Dia hanya berjalan tanpa mampir kemana-mana dan tanpa menghiraukan siapapun juga. Bahkan keberadaan Presdir yang rencananya baru datang besok itu pun tidak Juwita sadari.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Dante Adyaksa. Presdir arogan yang tidak sengaja melihat Juwita dari atas sana. Pria itu tersenyum simpul, dia kira kembali ke perusahaan akan sangat membosankan seperti biasanya. Tapi sepertinya kali ini akan sedikit berbeda karena akhirnya dia bertemu kembali dengan gadis manis yang pernah menolak cintanya.


Pria kejam ini pernah menawarkan cinta pada Juwita di pertemuan pertamanya saat keduanya bertemu secara tidak sengaja di luar negeri. Saat itu Dante sedang dalam perjalanan bisnis sementara Juwita masih menyandang status sebagai mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas akhir. Untuk alasan menolak, tentu saja karena saat itu Juwita sudah memiliki Sadewa.


"Saya juga tidak tahu, tapi sepertinya dia karyawan magang," jawab seorang asisten ketika melihat tanda pengenal yang tergantung di leher Juwita.


"Kenapa karyawan magang masih berkeliaran di perusahaan di jam seperti ini?" tanya Dante setelah melihat arlojinya.


Dante mengernyitkan alisnya, siapa yang berani tidak mematuhi peraturan di perusahaannya. Dia hanya pergi tidak lebih dari setengah tahun, apa sudah ada bawahannya yang berulah dan memanfaatkan karyawan magang untuk lembur? Sepertinya dia harus segera memperbarui beberapa peraturan agar pekerjanya tidak semakin liar dan seenaknya sendiri.


"Saya akan menghubungi kepala divisinya untuk memastikan," jawab asisten perempuan itu lagi.


"Tidak perlu. Aku akan mengurusnya nanti setelah urusanku selesai," kata Dante kemudian pergi.


"Akhirnya selesai," kata Juwita.


Juwita menyempatkan diri untuk merenggangkan badannya yang terasa kaku. Lalu bangkit lagi dan segera mengemasi barang-barangnya untuk mengantar berkas itu ke ruangan Melodi sebelum pulang.


Sepertinya Juwita terlahir dengan kepekaan minim dan kewaspadaan yang kurang. Karena setelah dia masuk ke ruangan Melodi dan meletakkan berkas di meja dia langsung keluar begitu saja tanpa menyadari Dante sebenarnya sudah berada di ujung ruangan itu sejak beberapa menit yang lalu.


Pria itu hanya melihat Juwita tanpa mengatakan apa-apa. Lalu mendekati meja untuk memeriksa secara kilat lembar demi lembar berkas itu. Dante tersenyum setelah melihat isinya. "Cukup memuaskan untuk ukuran anak magang," puji Dante kemudian meletakkan kembali berkas itu.


"Karena kau sudah bekerja di perusahaanku, maka jangan pernah berpikir untuk menolakku lagi. Juwita, kau tidak akan mengira akan bertemu denganku lagi kan?" batin Dante.


.


.


.


"Kapan cucu menantuku akan datang?" tanya Kakek Firman sembari menyeruput teh keduanya. Dia sudah cukup lama menunggu Juwita di kafe tempat mereka janjian tempo hari bersama Jeff kesayangannya.


"Tunggulah sebentar lagi, Kek!" jawab Jeff.


Jeff memutar-mutar ponselnya di atas meja. Sesekali melihat bagian teratas hanya untuk mengecek kalau-kalau Juwita mengiriminya pesan. Tapi hasilnya nihil sampai sekarang.


"Sebenarnya apa sih yang dia lakukan. Bukankah aku sudah bilang tidak perlu lembur?" gerutu Jeff saat belasan panggilan dan pesannya belum dibalas oleh Juwita.


Jeff sudah tidak tahan lagi. Dia harus menjemput Juwita sekarang juga. Mau tidak mau, suka tidak suka, Jeff akan tetap memaksa Juwita pulang. Persetan dengan perusahaan besar. Jeff kan tidak kekurangan uang untuk menghidupi Juwita, jadi kenapa dia harus membiarkan Juwita terus bekerja jika setiap hari harus lembur begini?


"Kek, aku akan menjemputnya sekarang juga!" kata Jeff.


Jeff segera mengambil jaketnya yang terlampir di kursi. Tapi ponselnya sudah lebih dulu berbunyi.


"Biar kakek yang mengangkatnya!" kata Kakek Firman.


"Kenapa?" tanya Jeff tidak mengerti.


"Untuk mengerjainya. Kakek ingin tahu apa yang akan dia lakukan saat tahu kau terlibat masalah," jawab Kakek Firman.


Jeff tersenyum licik, kemudian memberikan ponselnya tanpa ragu. Karena Juwita selalu tidak menurut, maka biarkan saja jika kakek ingin mengerjainya. Anggap saja ini sebagai pelajaran karena berani mengingkari janjinya untuk tidak pulang terlambat.


"Jeff, maafkan aku. Presdir akan datang besok, jadi aku sedikit lembur hari ini. Tapi aku sudah keluar dari perusahaan. Apa kau masih di kafe?" celoteh Juwi panjang lebar setelah Kakek Firman mengangkat teleponnya.


"Gadis kecil, apa kau istri dari pria berandalan miskin ini?" tanya Kakek Firman dengan suara garang.


"Ah, kenapa bukan Jeff?" batin Juwita.


"M-maaf, Anda siapa?" tanya Juwi.


"Kau akan tahu nanti. Segera ke kafe sekarang dan lihat apa yang dilakukan suami berandalanmu disini!" perintah Kakek Firman dan langsung menutup panggilannya.


...***...