
Jeff segera menutup laptopnya. Berhenti melihat adegan yang sudah tidak seru lagi karena pemeran utamanya sudah pergi. Seberkas senyum muncul, dibarengi dengan nafas yang Jeff hirup panjang. Beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Juwita datang pertama kali Jeff sama sekali tidak percaya dengan ucapan Juwita yang mengaku sebagai istrinya.
Lalu kepercayaannya perlahan naik ketika Jeff melihat sketsa wajah Jouvis. Dan semakin naik ketika Jeff menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk berbicara dengan Kakek Firman dan Kakek Ham kemarin. Pada kesempatan itu Kakek Firman mengundang Kakek Ham dan memintanya untuk mewakilinya berbicara karena kondisi Kakek Firman yang masih perlu banyak istirahat.
Dan yang mengejutkan, Jeff tidak menyangka hari ini ibu dan neneknya secara tidak langsung telah mengatakan bahwa Juwita ini adalah istri Jeff yang sebenarnya.
"Setelah aku menemukan Jouvis dan melakukan tes DNA semuanya akan menjadi jelas. Tapi aku berharap bisa secepatnya mengingat kembali agar semuanya lebih mudah," gumam Jeffrey.
Jeff masih sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai Juwita masuk ke ruangannya dan membuyarkan lamunannya.
"Kenapa kau kemari?" tanya Jeffrey. Jeff kira Juwita akan mengadu perihal kejadian barusan. Tapi Jeff salah menduga karena kedatangan Juwita kemari bukan untuk itu.
"Presdir, ini sudah pukul empat sore. Bukankah kita harus segera pulang?" jawab Juwita.
Jeff melirik jam yang melingkar di tangannya. Sekarang memang sudah pukul empat lebih lima menit. Sudah waktunya untuk pulang bagi pekerja kantoran. Tapi apa Juwita benar-benar tidak takut padanya. Meskipun Jeff adalah suaminya, Jeff tetaplah seorang Presdir disini. Lagipula sjak kapan seorang asisten yang belum genap seminggu bekerja berani melakukan ini meskipun asisten itu adalah istrinya sendiri.
"Apa aku dulunya adalah suami takut istri?" batin Jeffrey.
"Presdir, ayo pulang. Kau membuang waktuku selama beberapa menit," kata Juwita ketika melihat Jeff tidak beranjak dari duduknya.
"Pulang kepalamu. Hari ini kita lembur!" kata Jeffrey.
Jeff berpura-pura membolak-balik beberapa berkas yang ada di hadapannya. Lalu memberikan setumpuk pekerjaan untuk melihat reaksinya. Tapi Juwita meletakkan kembali pekerjaan itu di meja.
"Apa maksudnya ini?" tanya Jeffrey.
"Presdir, kalau kau ingin lembur maka lembur saja sendiri. Jangan bawa aku lembur bersamamu karena sampai kapanpun aku tidak akan mau lembur," jawab Juwita.
"Hei, kau ini hanya asistenku. Atas dasar apa kau menolak perintah atasanmu?" tanya Jeffrey.
"Atas dasar apa katamu? Jeffsa, lebih dari setahun yang lalu kau sendiri yang memintaku resign karena aku sering lembur sampai malam. Apa kau lupa?" jawab Juwita.
Nada itu sedikit meninggi. Ditambah dengan ekspresi luar biasa marah yang semakin terlihat lucu dimata Jeffrey. "Iya aku lupa. Aku kan hilang ingatan," jawab Jeff santai.
Amarah Juwita akhirnya naik juga. Kesabaran yang Juwita miliki rupanya hanya setipis tissue hari ini. Maklum, sebelumnya dia sudah menghadapi dua lampir menjengkelkan di ruangannya. Saat ini Juwita hanya ingin segera pulang dan beristirahat untuk merilekskan diri. Tapi apa-apaan yang Jeff lakukan. Suami amnesianya itu bahkan malah memintanya untuk lembur.
"Terserah kau saja. Aku bisa pulang sendiri tanpamu kok!" kata Juwita sewot.
Juwita berbalik arah. Sudah memutuskan untuk pulang meskipun Jeff enggan. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar Jeff menghubungi salah satu staf dan menyebut satu nama yang menjadi musuh seumur hidupnya.
"Aku harus lembur hari ini. Tapi asistenku yang baru ada urusan penting. Bisakah menghubungi Yasmine untuk membantuku hari ini?" kata Jeffrey.
Sebenarnya itu hanyalah sebuah akting. Tapi akting itu sangat sukses membuat Juwita merebut telepon yang dipegang Jeffrey dan mengembalikannya ke tempatnya semula. "Bukannya kau tidak ingin lembur?" tanya Jeff dengan senyum kemenangan.
"Seorang pelakor akan mencuri suamiku. Jadi bagaimana mungkin aku pulang dan meninggalkanmu disini?" jawab Juwita dengan mengambil kembali setumpuk pekerjaan yang sempat Jeff berikan.
"Bagus kalau kau menurut!" kata Jeffrey.
Pria itu langsung bangkit. Meraih mantel disebelahnya dan menggunakannya dengan gaya yang keren. Lalu merampas setumpuk pekerjaan itu dari tangan Juwita dan meletakkannya kembali di meja.
"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Juwita.
"Bukan itu yang harus kau kerjakan!" jawab Jeffsa.
"Lalu apa?" tanya Juwita lagi.
Pria itu segera keluar dari ruangannya dan diikuti Juwita di belakangnya. Sial bagi Juwita. Hanya dengan melihat punggung Jeff saja membuatnya ingin memeluk Jeff. Tapi Juwita harus menahan diri demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan lagi saat ini sangat banyak orang yang melihat Jeffrey.
.
.
.
"Apa ada pertemuan dengan klien disini?" tanya Juwita ketika mobil yang mereka kendarai memasuki hotel.
"Kau akan tahu nanti!" jawab Jeffrey singkat.
Setelah sukses parkir, keduanya langsung memasuki hotel. Kedatangan keduanya sangat disambut. Setelah menunjukkan sebuah kartu khusus, Jeff langsung membawa Juwita naik ke lantai teratas. Sebuah kamar presidential suite terbaik yang luas dan mewah.
"Apa yang kau katakan di pertemuan pertama kita beberapa hari yang lalu?" tanya Jeffrey saat keduanya baru masuk ke ruangan yang selalu Jeff pesan.
"Yang mana?" tanya Juwita. Sangat banyak yang Juwita katakan hari itu jadi bagian mana yang Jeff maksud.
"Kau bilang aku ini siapamu?" tanya Jeffrey.
"Suamiku," jawab Juwita.
Juwita masih menanggapi pertanyaan itu dengan santai. Tanpa mengetahui bahwa lembur yang Jeff inginkan adalah menemaninya tidur semalaman di ruangan ini.
"Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai istri!" perintah Jeffrey.
Jeff yang sebelumnya berdiri di depan Juwita langsung berbalik arah. Lalu tersenyum tipis dan semakin mendekatkan wajahnya yang tampan. Juwita yang tidak siap atas kelakuan Jeff hanya bisa mundur teratur. Antara kaget, terpesona, jatuh cinta dan berdebar-debar menjadi satu.
"J-Jeff, apa yang kau lakukan?" tanya Juwita.
"Aku bilang lakukan tugasmu sebagai istri!" jawab Jeffrey.
"Apa?" tanya Juwita.
Tapi pertanyaan itu Jeff abaikan. Pria itu semakin mendekat. Sementara Juwita tidak bisa lagi mundur karena yang ada dibelakangnya hanyalah pintu. Sedetik kemudian, kaki Juwita sudah tidak lagi menyentuh tanah karena Jeff sudah mengangkatnya dan membuangnya ke ranjang. Iya, Juwita dibuang ke ranjang, tapi Jeff masih berdiri tegak di samping ranjang.
"Jeff, jangan memaksaku melakukannya!" tolak Juwita.
"Kenapa, bukankah kau bilang kau istriku. Jadi apa aku tidak boleh melakukannya?" goda Jeffrey.
"Meskipun begitu aku tidak mau!" tolak Juwita.
"Tidak mau? Kenapa?" tanya Jeffrey.
"Karena kau tidak mengingatku, Jeffsa! Apa kau pikir menyenangkan bercinta denganmu yang melupakan aku?" jawab Juwita.
"Kau terlalu berlebihan. Dasar mesum!" kata Jeff dengan tatapan aneh.
Padahal Jeff hanya ingin menyuruh Juwita melayaninya seperti membuatkan teh, menemaninya menikmati indahnya kota dari atas ketinggian saat makan malam dan membawanya berbelanja nanti.
...***...