
"Kalau aku tidak punya apa-apa. Apa kau masih mencintaiku?" tanya Anggara.
Anggara tidak menyangka akan mengajukan pertanyaan seperti ini setelah dia menawarkan pernikahan pada Prita belum lama ini. Sementara Prita yang ditanya hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman.
"Masih," jawab Prita tanpa beban.
Prita menggenggam erat tangan Anggara. Lalu memeluk Anggara yang sedang kacau pikirannya. Prita tahu, Anggara sangat lelah sekarang ini.
"Anggara, aku bisa menemanimu dalam keadaan apapun. Tapi apa kau benar-benar rela berakhir seperti ini? Setelah semua usaha keras yang kita lakukan selama ini?" tanya Prita.
Anggara membalas pelukan Prita dengan hatinya. Mendekap erat Prita seolah tak ingin dilepaskan. Pertanyaan konyol macam apa yang baru saja Prita tanyakan. Tentu saja Anggara tidak rela.
"Aku sangat tidak rela. Tapi aku harus bagaimana, Prita?" tanya Anggara.
Sebenarnya Anggara tidak menyerah hanya karena kehilangan kliennya. Tentang klien, Anggara masih bisa mencarinya lagi. Tapi bagaimana dengan kasus orangtuanya?
Sungguh, Anggara sudah lelah dengan keserakahan orangtuanya yang selalu kurang dengan uang sebanyak apapun. Anggara sudah mencoba yang terbaik untuk menjadi anak yang berbakti. Selalu meng-cover keuangan perusahaan orangtuanya selama ini meskipun perusahaan yang dia rintis masih belum stabil. Tapi sepertinya usaha Anggara sia-sia.
Kali ini, Anggara sebenarnya sudah tidak ingin ikut campur lagi. Kalau bangkrut ya biarkan saja. Anggara sudah tidak peduli lagi. Tapi masalahnya adalah, orangtuanya secara terang-terangan sudah mengatakan akan menukar Juwita dengan sejumlah uang yang akan Dante berikan untuk membayar semua hutang itu.
Baru beberapa minggu yang lalu Anggara berjanji pada Juwita untuk menjadi kakak yang baik. Belum lama ini dia baru merasakan bagaimana mempunyai adik yang baik. Jadi bagaimana bisa Anggara membiarkan orangtuanya menyerahkan Juwita begitu saja?
Prita menepuk pundak Anggara dengan pelan. Jujur saja dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Tapi meskipun Anggara menjual semua yang dia punya untuk menutup hutang itu, itu tidak akan cukup. Anggara sendiri pun juga tahu hal itu.
Anggara memegangi kepalanya yang semakin pusing. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Tidak adakah jalan keluar?
"Anggara, aku bukannya tidak peduli dengan Juwita. Tapi sebaiknya kita pikirkan jalan lain dulu. Jika memang tidak ada pilihan lain, baru kau boleh menjual asetmu," kata Prita.
Soal perusahaan yang hilang, mereka masih bisa memulai dari awal suatu hari nanti. Tapi jika saudara yang hilang, sekali hilang mungkin dia tidak akan pernah bisa kita dapatkan lagi.
Anggara melepaskan pelukannya. Memegang wajah Prita dengan dua tangannya sembari menatapnya lekat-lekat. "Prita, aku pasti akan memikirkan jalan lain. Tapi, seandainya hal buruk terjadi dan satu-satunya jalan yang kupunya adalah menjual semuanya. Apa kau bersedia menemaniku memulainya dari awal lagi?" tanya Anggara
"Kenapa tidak. Apa aku pernah meninggalkanmu sendirian selama ini?" tanya Prita.
Anggara kembali memeluk Prita. Lalu memberikan beberapa kecupan di dahinya. Benar, Prita memang tidak pernah meninggalkannya selama ini. Dia akan selalu ada bagaimanapun kondisinya. "Terimakasih!" bisik Anggara.
Dua anak manusia itu terlalu larut mencari jalan keluar atas masalah yang menimpa Anggara. Sampai tidak menyadari Sadewa dan Melodi sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berpelukan saat ini.
"Ehm!"
Sadewa mendehem pelan. Sementara Melodi menyapa dengan sopan. "Apa kami datang diwaktu yang tidak tepat?"
Anggara dan Prita segera menyudahi pelukannya. Lalu menyambut Sadewa dan Melodi dan mempersilahkannya duduk.
"Kapan kalian datang?" tanya Anggara.
"Maaf, sebenarnya kami sudah datang sejak tadi dan mendengar semua pembicaraan kalian," jawab Sadewa.
Anggara tertunduk dengan seulas senyum yang dipaksakan. Jika boleh jujur, dia sangat benci dengan kondisinya sekarang ini yang sangat tidak berguna.
"Sepertinya aku membutuhkan banyak bantuanmu di masa depan," kata Anggara.
"Aku tidak keberatan. Malahan aku sangat senang seandainya bisa membantumu," kata Sadewa.
Sadewa melihat Melodi. Lalu memberikan sebuah kode agar Melodi membawa Prita pergi karena ada hal yang ingin Sadewa bicarakan berdua dengan Anggara.
"Kenapa mengusir mereka pergi?" tanya Anggara.
"Perusahaan milikku kurang lebih sama dengan perusahaan milikmu. Aku sangat menyesal hanya bisa membantumu sebanyak ini," kata Sadewa dengan menyodorkan sebuah cek kepada Anggara.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anggara setelah melihat angka yang cukup besar di atas cek itu.
"Bukankah sudah jelas? Anggara, bukan hanya kau satu-satunya yang ingin menolong Juwita," jawab Sadewa.
"Tapi aku tidak butuh bantuanmu!" tolak Anggara.
Anggara mengembalikan selembar cek itu. Bukannya Anggara tidak butuh bantuan berupa uang. Tapi nominal yang diberikan Sadewa terlalu besar untuk ukuran perusahaannya yang juga masih dalam proses berkembang. Mungkin, Anggara bisa tertolong jika menggunakannya tapi bagaimana jika perusahaan Sadewa yang ganti kolaps setelah ini?
"Anggara, jangan sok jadi pahlawan sendirian. Aku tahu Juwita itu adik angkatmu tapi dia juga adik sepupuku. Dia itu bukan milikmu seorang. Jadi jangan menanggung beban ini sendirian!" kata Sadewa dengan nada sedikit tinggi.
"Aku tahu niat baikmu, Sadewa. Tapi akar masalahnya adalah orangtuaku. Bagaimana bisa aku membiarkanmu menggunakan uang sebanyak ini?" sahut Anggara dengan nada tinggi pula.
Dua pria itu saling mencengkeram kerah lawannya. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Yang satu ingin membantu dan yang satunya tidak ingin merepotkan. Dua pria itu nyaris saling pukul. Tapi terhenti karena Prita dan Melodi masuk untuk melerai mereka.
"Sial!" umpat Anggara dengan menendang kursi.
Suasana cukup mencekam. Kedua pria itu tidak ada lagi yang berbicara. Sementara dua wanita itu hanya bisa meminta Anggara dan Sadewa tenang dan mencari jalan keluarnya dengan kepala dingin.
Untung saja seorang pria tak diundang datang tepat waktu. Bukan hanya meramaikan suasana, tapi juga menyelesaikan semuanya. Pria itu, siapa lagi kalau bukan Jeffsa.
"Apa aku datang terlambat?" tanya Jeffsa.
Tapi pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban karena Anggara dan Sadewa masih menenangkan diri.
"Duduklah, Jeff!" kata Prita.
"Terimakasih!" jawab Jeff setelah duduk di kursi.
"Apa kau datang sendirian?" tanya Melodi setelah tidak melihat Juwita bersama Jeffsa.
"Aku menguncinya di rumah," jawab Jeff.
Jeff melihat Anggara dan Sadewa secara bergiliran. Hanya sekali lihat, dia tahu keduanya sedang tidak akur sekarang.
"Anggara, aku meninggalkan Juwita di rumah. Aku tidak punya banyak waktu disini. Jadi bisakah kau memberitahuku berapa nominal hutang orangtuamu?" tanya Jeffsa.
Anggara langsung berbalik arah. Melihat Jeff dengan tatapan mata yang tajam. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Anggara.
"Karena orangtuamu mau menjual istriku, tentu saja aku akan membelinya," jawab Jeffsa.
"Jeff, apa kau tahu sebanyak apa uang yang harus kau siapkan?" tanya Sadewa.
Jeff tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Anggara dan Sadewa. Jeff memang sudah menceritakan bahwa dia anak sultan. Jeff juga menceritakan bahwa dia kabur dari rumah. Tapi Jeff belum menceritakan bahwa kakeknya tidak pernah meninggalkannya selama ini.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi kalau aku punya satu triliun, bukankah itu sudah cukup?" jawab Jeffsa.
"Satu triliun?" tanya Melodi dan Prita bersamaan. Pertanyaan itu sangat mewakili apa yang ingin Anggara dan Sadewa tanyakan juga.
"Iya, satu triliun!" jawab Jeffsa.
"Darimana aku dapat uang sebanyak itu?" tanya Melodi.
"Kau tidak merampok Bank kan?" tanya Prita.
Tapi pertanyaan dua wanita itu segera dijawab Anggara dan Sadewa. "Jaga bicara kalian. Adik ipar kita ini sebenarnya anak sultan. Hanya saja dia kabur dari rumah sejak lama!" kata Sadewa.
"Kau kabur dari rumah. Lalu darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Anggara.
"Sebenarnya aku baru saja minta kepada kakekku pagi tadi," jawab Jeffsa.
Jeff mengeluarkan dua lembar cek masing-masing berisikan 500 milyar. Lalu memberikannya kepada Anggara dan Sadewa.
Jeff tahu bagaimana kondisi perusahaan Anggara. Jeff juga tahu Anggara berencana menjual semuanya jika tidak ada jalan keluarnya. Selain itu, Jeff juga tahu Sadewa sudah menjual beberapa asetnya untuk membantu Anggara demi Juwita. Jadi Jeff memutuskan untuk memberikan sejumlah uang ini untuk membantu mereka.
"Saat ini aku hanya bisa memberikan sebanyak itu. Gunakan itu baik-baik!" kata Jeffsa.
Tapi kebaikan hati Jeffsa malah membuatnya mendapatkan pukulan dari Anggara dan Sadewa.
"Bukankah seharusnya kau menggunakannya untuk membeli adikku. Kenapa malah memberikannya kepada kami?" tanya Anggara.
"Oh. Aku lupa bilang. Sebenarnya aku memiliki dua kakek dan masing-masing dari mereka memberiku satu triliun," jawab Jeffsa tanpa dosa.
Sumpah, Anggara dan Sadewa sangat ingin memakan Jeff sampai habis sekarang. Seandainya mereka tahu ini lebih awal, mereka tidak perlu pusing seperti ini.
"Kau ini. Benar-benar!" umpat Sadewa.
"Karena kau sudah memberikan ini. Maka aku tidak akan sungkan lagi. Pergi sana! Beli adikku dan jaga dia baik-baik. Masih banyak pekerjaan yang ingin ku selesaikan!" usir Anggara.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu siapa yang mencuri klienmu?" tanya Jeff sebelum pergi.
"Tentu saja aku tahu!" jawab Anggara.
"Kalau begitu bukankah kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan?" tanya Sadewa.
"Menurutmu?" jawab Anggara.
"Karena kau sudah tahu dan semuanya sudah beres, maka aku akan pulang dulu. Adik kalian yang manis itu pasti sudah hampir mati karena terlalu merindukanku!" pamit Jeffsa.
...***...