
"Ikut denganku ke pesta ulang tahun nenekku malam ini," kata Jeffrey.
"Tidak mau!" tolak Juwita.
Juwita nyaris pergi. Mengabaikan perintah suami sekaligus atasannya. Tapi apa penolakan Juwita berhasil di depan seorang Jeff. Tentu saja tidak karena Jeff menahan tangan Juwita dengan kuat dan menariknya sehingga tidak ada pilihan lain bagi Juwita selain berbalik arah dan terperangkap di kungkungan Jeffrey.
"Kenapa?" tanya Jeffrey.
Jeff siap marah, matanya sangat tajam melihat Juwita. Tapi melihat mata Juwita yang tidak seperti sebelumnya membuat Jeff memutuskan untuk tidak marah. Bahkan kalau boleh jujur jauh di dalam hatinya seolah merasakan kesedihan yang dapat Jeff lihat dari mata bening itu.
"Orangtua dan nenekmu tidak menyukaiku. Mereka tidak mengijinkan kita masuk saat kau membawaku dan Jouvis kepada mereka. Saat kecelakaan mereka merusak wajahku dan membuangku seperti sampah. Aku kehilangan anak kita dan aku tidak diijinkan bertemu denganmu. Mereka juga mencari istri pengganti untuk menggantikan posisiku. Jadi kenapa aku harus merayakan ulang tahunnya. Jeff, jika ada sesuatu yang aku rayakan itu hanyalah hari pemakamannya," jawab Juwita dengan wajah tanpa ekspresi.
Juwita berpaling dan berhasil melepaskan diri. Kali ini tidak ada yang Jeff lakukan untuk menahan Juwita lagi. Tapi bukan karena Jeff sengaja. Melainkan karena Jeff sibuk memegangi kepalanya yang luar biasa sakit setelah mendengar jawaban Juwita. Setahun terakhir, inilah kali pertama Jeff merasakan sakit seperti ini. Sepertinya dia hampir mengingat sesuatu tapi ada sesuatu yang lain yang menghalangi ingatannya.
BRAK
Suara kursi jatuh itu membuat Juwita menoleh. Melihat Jeff sudah rubuh ke lantai setelah gagal mencari pegangan agar tidak jatuh.
"Jeff, kau kenapa?" tanya Juwita.
Juwita segera bersimpuh untuk memeriksa Jeff yang duduk melantai dengan memegangi kepalanya yang sakit. Pria itu berkeringat banyak, memejamkan matanya rapat-rapat karena dengungan keras yang menyerang gendang telinganya.
"Kita harus ke rumah sakit!" kata Juwita.
"Tidak perlu. Tolong bantu aku ke kamarku. Aku hanya perlu istirahat sebentar!" pinta Jeff dengan suara terbata.
"Baiklah," jawab Juwita.
Akhirnya Juwita membawa Jeff ke kamarnya dengan bantuan pengawal. Membaringkannya ke ranjang yang nyaman dan besar lalu merawatnya sama seperti dulu saat Jeff sakit. Entah itu sepatu, ikat pinggang atau dasi dan jas yang tadi dikenakan, semuanya sudah Juwita lepaskan agar Jeff merasa nyaman.
Melihat kondisi Jeff yang seperti ini, keras kepala Juwita luluh juga. Satu tahun dia kehilangan kesempatan untuk bersama Jeff. Dan sekarang Jeff memintanya untuk tinggal. Meskipun Jeff tidak ingat apapun dan Juwita membenci keluarga Jeffrey, tapi disinilah tempatnya.
"Maafkan aku, Jeff!" kata Juwita.
Wanita itu menunduk dalam-dalam. Menggigit bibirnya sendiri sebelum memberanikan diri untuk melihat Jeffrey.
"Kalian boleh pergi. Ingat, tanpa ijin dariku wanita ini tidak boleh pergi dari rumah ini selamanya," kata Jeff pada bawahannya.
"Baik, Bos!" jawab mereka kemudian undur diri.
"Kau tidak ingin pergi ke acara ulang tahun orang tua itu bukan?" tanya Jeffrey.
"Aku tidak mau," jawab Juwita.
"Kalau begitu temani aku tidur malam ini," kata Jeffrey.
"Apa?" tanya Juwita.
Mata Juwita membesar. Mereka memang sepasang suami istri. Tapi tidur bersama bukan sesuatu yang Juwita pikirkan. Setidaknya biar Jeff mengingat semuanya dulu karena Juwita tidak ingin dianggap memanfaatkan kesempatan selagi Jeff belum pulih.
"Apa kau menolakku lagi. Bukankah kau bilang aku ini suamimu?" tanya Jeffrey.
Juwita bangkit. Mengganti lampu kamar dengan lampu temaram dan menyelimuti Jeffsa. "Istirahatlah, Jeff! Aku tidak akan pergi sebelum kau tidur!"
"Kalau begitu kau harus begadang semalaman. Karena aku tidak berencana tidur jika kau tidak naik dan tidur denganku," kata Jeffrey.
"Jeff?"
"Aku memang melupakan semuanya. Tapi anggap saja aku percaya denganmu. Dengan begitu bukankah seharusnya cukup untuk membuatmu naik ke ranjang ku?"
Tanpa persetujuan Juwita, Jeff sudah menarik Juwita bersamanya. Membuatnya terbaring di ranjang dan tidak membiarkannya melawan. Kali ini bukan Juwita yang memeluk Jeff seperti siang tadi. Tapi Jeff yang berinisiatif memeluk Juwita. Karena jujur saja, Jeff merasa sangat nyaman saat memeluk tubuh kecil milik Juwita seperti ini.
"Mungkin, kau lah istriku yang sebenarnya," batin Jeffrey sembari menutup matanya.
Nafas Jeff sangat teratur. Dia memang hanya memeluk Juwita, tapi wajahnya sempat menjelajah kemana-mana. Mencari tempat ternyaman dan menghirup aroma yang sepertinya sangat dia rindukan sebelum diam dan tak bergerak karena terlelap dalam tidurnya.
"Kau yang seperti ini terlihat seperti bayi besarku sungguhan, Jeff!" batin Juwita dengan mencium lembut pipi Jeffrey.
Setelah memastikan Jeff tidur, Juwita segera menghubungi Kakek Ham. Memberitahu pria tua itu apa yang terjadi hari ini dan mengatakan tentang Jouvis yang sepertinya tertukar dengan Reagan. Juwita juga memberitahu Kakek Ham bahwa mulai hari ini dia akan tinggal di rumah Jeffrey.
Kakek Ham yang mengerti bagaimana situasinya hanya mengiyakan saja. Selain itu dia juga berjanji untuk membantu Juwita mencari Jouvis. Jadi Juwita tidak perlu terlalu cemas.
"Karena kau sudah disana maka sebaiknya kau berhati-hati. Kakek akan membantumu mencari Jouvis. Jadi jangan takut," kata Kakek Ham.
"Terimakasih, Kek!" sahut Juwita.
.
.
.
"Dimana Jeff?" tanya Juwita pada pengurus rumah.
Juwita tergesa-gesa menuruni anak tangga setelah tidak melihat tanda-tanda keberadaan Jeff di kamar.
"Nona, Tuan bilang ada urusan. Jadi pergi pagi-pagi sekali. Tuan juga berpesan Nona tidak diijinkan pergi kemana-mana hari ini," jawab pengurus rumah.
Pengurus rumah itu menjawab dengan sopan. Lalu segera memerintahkan beberapa maid untuk menyajikan sarapan pagi. Juwita sedikit aneh karena di rumah ini diperlakukan layaknya nyonya rumah. Yah, meskipun benar dia lah nyonya rumah sesungguhnya dan Jeff mengatakan mempercayainya tapi ini sama sekali tidak cukup. Tapi lupakan soal itu sekarang. Karena yang lebih penting adalah menanyakan hal penting lainnya.
"Apa Jeff sudah sehat?" tanya Juwita.
Sungguh sial. Faktanya meskipun Jeff tidak mengingat Juwita sama sekali, tapi bagi Juwita tidur dengan dipeluk Jeff seperti semalam masihlah membuatnya tertidur pulas. Kelewat pulas bahkan melewatkan waktu untuk memeriksa apakah Jeff sudah baik-baik saja.
"Nona, Tuan Jeff baik-baik saja. Jadi jangan khawatir," jawab pengurus rumah kepercayaan Jeff.
Berbeda dengan Juwita yang panik. Di sisi lain Jeff terlihat tenang-tenang saja. Sangat tenang bahkan meskipun sudah membuat kekacauan besar karena mangkir dari acara ulang tahun neneknya semalam.
"Kau akan merayakan hari kematian nenekku? Juwita, aku sangat suka dengan keberanian itu," gumam Jeffrey.
...***...