
"Kenapa berhenti?" tanya Juwita ketika Jeff menghentikan mobilnya di pinggir danau.
"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku, Wi?" tanya Jeffsa.
Seorang Jeff yang miskin memberikan uang satu triliun kepada orangtua angkat Juwita brengsek itu, bukankah seharusnya ada banyak pertanyaan yang ingin Juwita tanyakan?
"Tidak ada," jawab Juwita.
Sebenarnya Juwita sangat penasaran. Tapi sejak jauh-jauh hari Jeff sudah pernah mengatakan bahwa dia punya banyak rahasia yang belum bisa dia ceritakan. Juwita yakin uang banyak yang Jeff miliki hari ini pun juga bagian dari rahasia besarnya. Karena Jeff masih belum ingin menceritakannya sekarang, maka Juwita tidak akan memaksanya. Juwita percaya suatu hari nanti Jeff akan menceritakan semuanya saat dia sudah siap.
"Sungguh?" tanya Jeffsa.
"Sungguh!" jawab Juwita dengan mengedipkan satu matanya.
Jeff tersenyum tipis. Tidak mengira Juwita akan setenang ini setelah huru-hara yang baru saja dia buat. Tunggu, tapi apa yang dilakukan Juwita barusan. Apa Juwita sedang menggodanya?
Jeff tiba-tiba melepaskan sabuk pengamannya. Lalu mendekat dan siap mendaratkan ciuman hangat di bibir Juwita. Tapi Juwita meletakkan dua jarinya di depan bibir Jeff yang hanya berjarak lima cm saja dari bibir Juwita.
"Apa ini, Wi?" tanya Jeff saat menyadari Juwita menghalangi prosesi ciumannya.
Jeff menangkap tangan Juwita, tidak ingin melepaskan tangan itu meskipun Juwita mengirimkan kode lewat tatapan mata agar Jeff melepaskan tangannya. Tapi Juwita tidak kekurangan akal. Karena Jeff tidak mau melepaskan tangan kanannya, maka Juwita menggunakan tangan kirinya untuk beraksi.
"Apa yang kau minta?" tanya Jeff saat Juwita menyodorkan tangan kirinya.
"Berikan dompetmu!" pinta Juwita.
"Dompet?" tanya Jeffsa.
Juwita tidak menjawab lagi. Tapi memilih melepaskan tangannya dari kungkungan Jeffsa sebelum meraba Jeff untuk mengambil dompetnya.
"Apa yang kau lakukan, Wi? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Jeff saat Juwita mengambil semua kartu yang Jeff punya.
"Aku sangat percaya. Aku juga tahu kau pasti punya banyak uang. Makanya aku mengambil kartumu," jawab Juwita.
"Untuk?" tanya Jeff lagi.
"Tentu saja menyimpannya. Jeff, mulai sekarang akan ada banyak wanita yang mengejarmu. Aku takut kau khilaf. Jadi biarkan aku membantumu menyimpan uangmu. Tapi jangan khawatir, aku akan tetap meninggalkan sejumlah uang untukmu sebagai pegangan," jawab Juwita.
"Wi, apa yang kau katakan. Memangnya siapa yang akan mengejarku. Tidak ada yang tahu kalau aku punya banyak kan?" tanya Jeffsa.
Juwita melihat Jeff dengan tatapan tajam. Siapa yang akan mengejarnya katanya. Apa Jeff lupa? Apa Jeff tidak menyadari bagaimana Anggita dan Anggika melihat Jeff setelah mereka tahu Jeff banyak uang?
"Kenapa kau sangat tidak peka, Jeff?" protes Juwita.
Juwita merajuk. Memilih melihat kearah yang lain atas ketidakpekaan suaminya. Jelas-jelas ada dua rubah betina yang siap menargetkannya, tapi kenapa Jeff sama sekali tidak menyadarinya? Apa pria selalu begini?
"Wi?" panggil Jeff.
Jujur saja Jeff sudah mulai gugup sekarang. Situasinya saat ini mengingatkannya pada kejadian di restoran bersama Melodi dan Sadewa hari itu.
"Sayang, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Jeff sebelum Juwita semakin marah.
"Entahlah, pikir saja sendiri!" jawab Juwita ketus.
"Sayang, apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah?" tanya Jeff. Pria itu akhirnya mengalah lagi. Lebih baik bertanya seperti ini dan menuruti semua yang Juwita katakan saja daripada ancaman tidur diluar kembali dilayangkan.
Kini, Jeff tersenyum semakin lebar. Dia baru paham sekarang. Ternyata alasan Juwita merajuk adalah cemburu sekaligus takut jika dirinya dekat-dekat dengan wanita lain.
"Aku janji tidak akan dekat-dekat dengan wanita manapun. Selamanya hanya boleh dekat-dekat dengan Juwita seorang," janji Jeffsa.
Kali ini, Jeff tidak gagal lagi. Karena ciumannya berhasil mendarat dengan sempurna tanpa ada penolakan dari Juwita. Untuk beberapa saat dua calon orangtua itu hanya menikmati hangatnya pelukan pasangannya. Sampai Jeff memutuskan untuk membuka rahasianya selagi memeluk Juwita.
"Wi, sebenarnya aku mendapatkan uang sebanyak itu dari dua kakekku," kata Jeffsa.
"Dua kakek?" tanya Juwita.
"Eum, dua kakekku. Apa kau ingat dengan pria tua yang mengatakan aku merusak mobilnya dan ingin menjualku hari itu?" tanya Jeffsa.
"Kakek yang di kelilingi oleh pengawal berbadan besar itu?" tanya Juwita.
Tentu saja Juwita ingat. Seorang kakek menguras semua tabungannya tanpa ada yang tersisa. Jadi mana mungkin Juwita melupakannya?
"Eum. Dia adalah salah satu kakekku. Namanya Kakek Firman. Lalu kakek yang satunya lagi namanya Kakek Abraham. Wi, mereka bilang ingin bertemu denganmu. Maukah kau ikut denganku bertemu dengan mereka?" tanya Jeffsa.
"Kalau begitu ayo kita menemui mereka sekarang," jawab Juwita.
.
.
.
"Wi, kenapa berhenti?" tanya Jeff saat Juwita tidak melanjutkan langkahnya.
"I-ini rumah siapa?" tanya Juwita ketika melihat rumah mewah yang halamannya saja melebihi luasnya lapangan sepak bola.
"Ini rumah Kakek Ham," jawab Jeff singkat.
Bukan tanpa alasan Jeff memilih rumah Kakek Abraham untuk menemui dua kakeknya karena di rumah ini kehadiran Juwita sudah pasti diterima. Jeff sangat yakin itu.
Di rumah yang menyerupai istana ini, hanya ada dua manusia renta yang tinggal di dalamnya. Mereka adalah Kakek Abraham dan Nenek Amanda. Ibunya jarang kemari karena sibuk dengan kariernya. Ayahnya juga pun juga sama. Terkadang mereka memang datang, tapi durasinya tidak lebih dari satu hari.
"Kenapa rumah kakekmu sangat besar, Jeff?" tanya Juwita.
"Begitulah cara orang kaya menghabiskan uangnya, Wi! Membeli rumah yang luas. Lalu mempekerjakan banyak maid dan pengawal untuk meramaikan dan memastikan mereka aman," jawab Jeffsa.
Juwita mencoba menenangkan dirinya sendiri. Apa sih yang dia pikirkan tadi. Memberikan uang sebanyak satu triliun pada Jeff saja mereka mampu, lalu kalau penampakan rumahnya semewah ini bukankah itu normal? Tapi, entah kenapa Juwita tiba-tiba menjadi gugup.
"Sayang, nenekku sudah menunggumu di dalam," kata Jeffsa membuyarkan lamunan Juwita.
"J-Jeff, apa aku boleh masuk? Bagaimana kalau aku diusir?" tanya Juwita. Juwita sadar dia hanyalah wanita biasa dan Jeff adalah pria luar biasa. Kakek dan nenek Jeff ingin bertemu dengannya bukan untuk memisahkan mereka kan?
Sementara itu Jeff hanya bisa garuk-garuk kepala sembari tersenyum canggung begitu mendengar pertanyaan Juwita dah melihat ekspresinya. Jeff yakin pasti Juwita akan insecure seperti ini sesuai dengan dugaannya setelah tahu seberapa kaya dua kakeknya. Tapi Jeff tidak menyerah, karena saat ini dia sudah mulai meyakinkan Juwita untuk masuk. Toh kehadiran Juwita memang sedang ditunggu-tunggu oleh tiga orang kaya itu.
"Sayang, tidak perlu cemas. Mereka tidak akan mengusirmu. Malah sebaliknya, sebenarnya mereka sangat ingin cicit yang banyak untuk meramaikan suasana rumah ini," kata Jeffsa menenangkan Juwita.
...***...