Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 48 Jangan Mencuri!


"Apa Juwita bangun?" batin Jeff saat mendapati lampu rumahnya terang benderang. Maklum, tadi saat Jeff pergi Juwita sedang tidur.


"Wi, aku pulang!" teriak Jeff.


Jeff segera masuk ke rumah dan mengunci pintu. Tapi Juwita tak kunjung menjawab panggilannya. Padahal biasanya Juwita akan langsung menyambutnya ke depan rumah saat mendengar suara mobil atau motor yang bunyinya sudah Juwita hafal.


"Apa dia marah karena aku meninggalkannya selagi dia tertidur pulas?" batin Jeffsa.


"Wi?" panggil Jeff sekali lagi.


Kini Jeff melepaskan sepatunya. Meletakkan helm dan bergegas mencuci tangannya sebelum masuk ke kamar dan melihat apa yang dilakukan oleh Juwita.


"Apa kau tidak ingin menyambut suamimu, Wi?" tanya Jeff saat melihat Juwita memasang wajah cemberut.


"Darimana saja?" tanya Juwita.


Perempuan itu duduk tepat di tengah-tengah ranjang. Memeluk boneka dan masih diapit dua buah guling yang Jeff tinggalkan untuknya.


"Menemui dua kakakmu," jawab Jeffsa.


Jeff siap naik ke ranjang untuk menyusul istrinya. Tapi Juwita melarangnya naik sembari mengalihkan wajahnya. "Kau tidur diluar malam ini!"


"Kenapa aku harus tidur diluar?" tanya Jeffsa.


Jeff yang satu kakinya sudah mencapai ranjang berhenti bergerak. Bukannya tidak ingin segera merebahkan diri di kasur dan memeluk Juwita, tapi karena sekarang Juwita sudah mulai memukulinya menggunakan satu guling yang tadi mengapitnya sambil marah-marah.


"Aku bilang kau tidur di luar malam ini!" usir Juwita.


Jeff yang perkasa tentu saja menangkis pukulan guling itu dengan mudah. Lalu malah saling berebut bantal sebelum Jeff terjengkang karena Juwita melepaskan ujung gulingnya.


"Auch!" teriak Jeff ketika pantatnya menyentuh ubin dengan kasar. Tapi pria itu masih sabar menghadapi sikap istrinya yang menjadi tidak stabil sejak hamil.


"Sayang, kau marah karena aku pergi?" tanya Jeffsa sembari bangkit dari lantai.


Pria itu kembali naik ke ranjang dan langsung memeluk Juwita meskipun Juwita mendorongnya dengan sekuat tenaga. Tapi apalah arti dorongan dan pukulan itu. Karena sebenarnya Juwita tidak melakukannya dengan serius.


"Sayang, salahku apa sih? Kalau kau tidak mengatakannya bagaimana aku tahu apa salahku?" tanya Jeff dengan mencium pinggang Juwita. Maklum, pria itu memeluk Juwita sambil tengkurap meskipun yang dipeluk sedang duduk.


"Jeff, bukankah aku sudah bilang aku takut sendirian. Tapi kenapa kau pergi disaat aku tidur. Bagaimana kalau wanita jahat itu tiba-tiba datang dan menculikku. Aku ini sedang hamil anak kita loh. Bisakah jangan memperlakukan aku seperti ini? Jeffsa, apa kau sudah tidak peduli lagi denganku dan anak kita?" omel Juwita.


"Sayang, aku salah. Maafkan aku! Aku mana mungkin tidak peduli denganmu dan anak kita. Kalian itu harta yang paling berharga yang kupunya," jawab Jeffsa.


"Lalu kenapa kau pergi seperti siluman begitu?" tanya Juwita.


"Sayang, ada sedikit urusan yang harus ku bicarakan dengan Anggara. Makanya aku kesana," jawab Jeffsa.


"Tapi bukan berarti kau pergi saat aku tidur kan, Jeff?" protes Juwita.


Setelah mengeluarkan semua uneg-unegnya Juwita langsung melepaskan tangan Jeff yang melingkar di pinggangnya. Lalu mengganti lampu temaram dan tidur dengan membelakangi Jeffsa.


"Sayang, jangan marah!" rayu Jeffsa.


Memangnya kenapa kalau Juwita membelakanginya. Kan Jeff masih bisa memeluknya dari belakang. Jujur saja malah posisi ini yang seringkali membuat Juwita kuwalahan dan akhirnya berbalik.


"Jeff, apa yang kau sentuh?" tanya Juwita. Ketika menyadari Jeff menyentuh bagian-bagian yang membuat wajahnya memerah.


Jeff mengabaikan pertanyaan Juwita. Lalu memilih meminta maaf dengan cara yang berbeda. Jeff menyentuh apapun yang bisa dia sentuh dan mencium apapun yang bisa dia cium. Juwita memang terpancing juga. Tapi segera membalikkan badannya untuk mendorong Jeff sekali lagi.


"Aku bilang kau tidur diluar malam ini?" tolak Juwita.


Jeff langsung diam. Menatap Juwita dengan tatapan tak biasa dan tidak mengatakan apa-apa. Jeff sedang tidak marah. Dia masih sangat sabar menghadapi Juwita. Hanya saja sedang ingin mengerjainya saja. Kita lihat saja berapa lama Juwita akan acuh dan tidak peduli dengannya.


"Kau mau aku tidur diluar, Wi?" tanya Jeff.


"Eum," jawab Juwita.


Jeff pun melepaskan pelukannya. Lalu bangkit dan memakai kembali jaketnya yang sempat dia lepaskan. Tidak hanya itu saja Jeff juga berpura-pura memakai kembali sarung tangannya seolah-olah akan pergi lagi.


"Kau mau kemana. Aku hanya memintamu tidur diluar bukannya pergi," tanya Juwita.


Sial sekali. Padahal Juwita tidak sungguh-sungguh mengusir Jeff tadi. Padahal jika sekali lagi saja Jeff memeluknya dia pasti akan luluh juga.


"Daripada aku hanya tidur diluar, bukankah sebaiknya aku cari uang saja, Wi?" jawab Jeffsa.


"Uang, malam-malam begini kau mau cari uang dimana?" tanya Juwita mulai panik. Ini seolah-olah Jeff mau jadi maling saja.


"Merampok Bank!" jawab Jeff asal.


"Apa?" tanya Juwita.


Jeff mendekati Juwita sekali lagi. Lalu menyentuh kepalanya dan menciumnya. Tentu saja dengan akting yang masih terus berlanjut hingga saat ini. "Sayang, bukankah aku sudah berjanji akan memberikan mereka uang agar mereka tidak mengambilmu dariku?" tanya Jeffsa.


"Tapi bukan dengan cara merampok juga, Jeffsa!" jawab Juwita dengan cepat. Tangannya bahkan sudah memegang tangan Jeff erat sekali meskipun berhasil dilepaskan kembali oleh Jeffsa.


"Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kau tunggu saja di rumah. Jaga dirimu dan anak kita baik-baik selagi aku pergi. Banyak-banyak berdoa saja agar aku tidak tertangkap dan dipukuli massa sebelum masuk penjara," pamit Jeffsa.


Jeff siap pergi tapi Juwita sudah dulu memeluknya dari belakang. "Jeff, tolong jangan lakukan itu! Aku tahu kau mencintaiku tapi bukan berarti kau harus mencuri untuk mendapatkan uang itu kan?" tanya Juwita.


"Tapi ini satu-satunya cara yang aku punya, Wi!" jawab Jeffsa.


"Jeff, kita bisa menjual semuanya. Kita bisa menjual rumah, mobil, atau apapun. Tapi jangan mencuri. Aku tidak mau kau melakukan itu. Itu dosa, Jeff!"


"Tapi itu semua tidak cukup, Wi? Apa kau tahu berapa banyak nol dari ratusan milyar? Rumah, mobil, motor, semua itu harganya hanya berapa. Sudahlah, biarkan aku pergi. Aku janji aku hanya akan mencuri satu kali ini saja," tipu Jeffsa.


Jeff melepaskan pelukan Juwita. Lalu melangkah lagi. Tapi langkahnya terhenti karena Juwita sudah berdiri di depannya dan membelakangi pintu setelah menguncinya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" kata Juwita.


Juwita mencabut kunci yang menggantung di daun pintu. Lalu mencari tali dan menarik Jeff ke ranjang. "Apa yang kau lakukan, Wi?" tanya Jeffsa saat melihat Juwita mulai mengikat tangannya.


"Sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu pergi!" kata Juwita.


Juwi mengikat Jeffsa sekuat yang dia bisa. Lalu mendorongnya agar pria itu rebahan di ranjang. Juwita pun juga segera merebahkan dirinya, tapi Jeff lagi-lagi mengganggunya. "Wi, aku mau pipis."


"Pipis ya pipis saja. Kamar mandinya kan ada di dalam," jawab Juwita.


"Tanganku terikat, bagaimana caraku pipis?" tanya Jeff dengan menunjukkan tangannya yang terikat.


...***...